tirto.id - Banjir lahar Gunung Semeru di Jawa Timur dilaporkan telah menerjang sejumlah kecamatan di Kabupaten Lumajang pada Minggu (1/11/2026) malam hingga Senin (2/11) pagi. Hal ini dilaporkan terjadi di tengah bencana longsor akibat hujan deras yang turut melanda wilayah tersebut. Berikut sejumlah fakta terkait hal tersebut.
Kawasan aliran sungai Gunung Semeru dilanda banjir lahar selama berjam-jam pada Minggu malam hingga Senin pagi. Hal ini disebut terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Lumajang di area Gunung Semeru.
“Hujan dengan intensitas tinggi kerap mengguyur wilayah hulu dinilai berpotensi meningkatkan bahaya secara signifikan, termasuk banjir lahar dingin,” tulis keterangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang di Instagram pada Senin.
Banjir lahar tersebut juga dilaporkan melanda secara beriringan dengan tanah longsor yang terjadi di wilayah perbatasan Lumajang. Setidaknya, kejadian tanah longsor dilaporkan terjadi di Desa Tirtomoyo, Ampelgading, Kabupaten Malang pada Senin ini.
Tanah longsor di Tirtomoyo itu telah berdampak pada akses jalan utama Malang-Lumajang. Pihak kepolisian Ampelgading menyebut insiden ini telah “menutup jalur utama” yang menghubungkan kedua kabupaten tersebut.
Tak ada laporan korban jiwa dari peristiwa tanah longsor sejauh ini, namun akses lalu lintas antarkabupaten mengalami gangguan. Hal ini imbas tumpukan tanah yang menutup jalan raya dan mengharuskan pengerahan alat berat untuk menyingkirkannya.
Fakta-Fakta Banjir Lahar Semeru di Lumajang
Sementara itu, terkait banjir lahar Gunung Semeru yang terjadi di Lumajang, terdapat sejumlah fakta yang sejauh ini telah terungkap sejauh ini. Berikut beberapa di antaranya.
1. Getaran Banjir Lahar Tercatat Selama Enam Jam
Menukil Antara, Pos Pengamatan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang mencatat bahwa banjir lahar yang melanda pada Minggu malam hingga Senin pagi itu turut menyebabkan terjadinya getaran selama enam jam lamanya.Menurut petugas pos pengamatan, Agastya Rajendra, getaran tercatat berlangsung sejak pukul 00.00-06.00 WIB. Selama periode itu, terdapat getaran beramplitudo 65 mm yang tercatat selama 21.600 detik.
"Pada periode pengamatan Senin pukul 00.00-06.00 WIB tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 65 mm dan lama gempa 21.600 detik atau enam jam," katanya pada Senin.
2. Debit Air yang Tinggi Jebol Tanggul
Tak hanya menciptakan getaran, banjir lahar di Lumajang pada Senin juga dilaporkan telah meningkatkan debit air di sejumlah daerah aliran sungai. Sebuah tanggul milik Desa Purorejo, Tempursari, dilaporkan jebol karena tak mampu menahan debit air.Menurut keterangan BPBD Lumajang, tanggul tersebut jebol ketika debit air di Sungai Glidik meningkat tajam. Sungai Glidik merupakan salah satu bagian dari daerah aliran sungai Semeru di antara Lumajang dan Malang.
3. Banjir Lahar Bawa Material Vulkanik Volume Besar
Pada Senin, BPBD Lumajang menyatakan bahwa banjir lahar di Lumajang pada hari ini turut membawa material vulkanik Semeru dalam volume yang cukup besar. Selain itu, material kayu juga dilaporkan ikut terbawa arus banjir.Sementara itu, berdasarkan rekaman video CCTV Pos Curah Kobokan (POS CURKOB) yang beredar di internet, arus banjir lahar tampak menerjang aliran sungai dengan arus yang deras. Banjir juga tampak berwarna coklat pekat.
4. Setidaknya 1.100 Warga Terdampak
Banjir lahar yang berlangsung di Lumajang juga dilaporkan memberikan dampak pada sedikitnya 1.100 warga. Hal ini dilihat dari skala luas daerah yang terdampak banjir.Menurut BPBD Provinsi Jawa Timur, banjir yang terjadi pada pagi hari ini telah berdampak pada sedikitnya tiga kecamatan di Lumajang. Ketiganya adalah Pasirian, Jatiroto, dan Tempursari.
BPBD Provinsi Jawa Timur menyebut sejauh ini dampak paling dampak banjir paling besar dirasakan di Kecamatan Jatiroto dan Tempursari. Sejumlah desa di kecamatan itu terdampak langsung genangan banjir lahar dan estimasi jumlah warga terdampak mencapai lebih dari 1.000 orang.
5. Bupati Lumajang Imbau Setop Penambangan
Imbas banjir lahar yang menerjang pada Senin pagi, Bupati Lumajang Indah Amperawati mengimbau para penambang pasir untuk menghentikan aktivitas penambangan. Dalam keterangannya, Indah menyebut hal ini perlu dicermati para penambang demi keselamatan.“Keselamatan pekerja jadi prioritas di tengah kondisi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan Semeru. Kami imbau para penambang untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas penambangan,” katanya.
Gunung Semeru sendiri sebelumnya telah ditetapkan sebagai kawasan berstatus Siaga (Level III). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengimbau agar aktivitas di dalam radius 13 kilometer dari puncak untuk dihentikan. Aktivitas di sekitar 500 meter dari tepi sejumlah sungai yang rawan, seperti Besuk Kobokan, juga diimbau untuk dihentikan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































