tirto.id - Hujan deras disertai petir bisa membuat sebagian orang merasa gelisah, jantung berdebar, atau bahkan memunculkan kepanikan. Suara guntur mendadak dan sambaran kilat dapat memicu respons tubuh terhadap ancaman. Perubahan cuaca juga berpotensi memengaruhi kondisi fisik serta suasana hati.
Survei Thriveworks pada 2025 terhadap 2.000 orang dewasa di Amerika Serikat, mencatat bahwa 25 persen responden menyebut perubahan iklim dan bencana alam sebagai salah satu sumber kecemasan. Angka itu memang tidak khusus mengukur kecemasan akibat petir, tapi memperlihatkan bahwa kondisi lingkungan berpotensi jadi sumber tekanan psikologis bagi sebagian orang.
Mengapa Petir Bisa Memicu Kecemasan?
Respons cemas saat munculnya petir, terkait dengan mekanisme pertahanan alami manusia. Konselor profesional Dayton Olsen menjelaskan di laman WHSV bahwa kecemasan terhadap cuaca menyangkut kebutuhan manusia untuk mengantisipasi ancaman.
"Hubungan kita dengan cuaca selalu memicu kecemasan, karena ini menyangkut kelangsungan hidup, bukan? Maksud saya, kita selalu harus berada dalam keadaan antisipatif," kata Olsen. "Pun, ini soal unsur ketidakpastian, bukan? Maksud saya, begitulah cara kerja otak kita. Otak kita tidak menyukai ketidakpastian."

Rasa takut terhadap petir masih tergolong respons wajar selama tidak berlebihan dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Tapi jika ketakutan terhadap guntur atau kilat sangat kuat, kondisi tersebut bisa terkait dengan astraphobia, yakni fobia spesifik terhadap petir dan guntur.
Merujuk Cleveland Clinic, astraphobia dapat menimbulkan gejala seperti jantung berdebar, sesak napas, berkeringat, gemetar, mual, sampai pingsan. Penderita juga kerap terus memeriksa prakiraan cuaca atau mengalami serangan panik ketika cuaca ekstrem datang.
Akan tetapi tidak semua orang yang merasa cemas saat hujan petir mengalami fobia. Tenaga profesional mendiagnosa kondisi astraphobia berdasarkan tingkat ketakutan, durasi gejala, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Perubahan Cuaca Bisa Memengaruhi Suasana Hati
Petir bukan satu-satunya aspek cuaca yang berpotensi memengaruhi kondisi fisik dan psikologis. Merujuk Mental Health and Climate Change: Policy Brief dari WHO, kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu terbukti berdampak bagi psikologis manusia.
Fenomena alam yang terdistorsi oleh krisis iklim, selain merusak infrastruktur fisik dan lingkungan, juga secara perlahan menggerogoti ketenangan jiwa masyarakat. Ketidakpastian cuaca ekstrem memicu gejolak emosional, mengubah suasana hati dari rasa cemas yang samar hingga gangguan psikologis terstruktur.
Bencana iklim akut seperti banjir bandang, gelombang panas, dan badai hebat hadir dengan daya rusak yang langsung dirasakan oleh pikiran.

Ketika seseorang kehilangan tempat tinggal atau mata pencaharian sebagai imbas peristiwa alam, maka rasa aman mendadak sirna. Trauma pasca-bencana berpotensi memicu stres berat, depresi, hingga gangguan kecemasan yang memengaruhi produktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, perubahan lingkungan secara lambat, seperti kemarau panjang dan krisis pangan, secara tak kasatmata merayapi kesehatan mental perlahan tapi pasti. Rasa tidak berdaya dan ketakutan terhadap masa depan suram akhirnya menjadi tumpukan beban emosional yang sulit diurai.
Cara Meredakan Anxiety saat Cuaca Buruk
Cuaca buruk, suara guntur, kilatan petir, serta ketidakpastian tentang kondisi alam dapat membuat seorang merasa gelisah dan khawatir terhadap keselamatan diri maupun keluarga.
National Weather Service (NWS) menyarankan sejumlah langkah untuk membantu seseorang yang mengalami kecemasan terhadap cuaca buruk. Persiapan dan pemahaman tentang cuaca dapat membantu untuk merasa lebih siap menghadapi situasi yang sering sulit diprediksi.
"Ada cara untuk memperkuat diri, yaitu lewat pengetahuan dan persiapan. Ada baiknya Anda merenungkan apa sebenarnya dari cuaca ekstrem yang membuat Anda merasa takut, stres, atau cemas. Mengetahui hal apa yang memicu stres atau kecemasan tersebut bisa membantu Anda menemukan cara untuk mengatasinya," jelas NWS.
Ada sejumlah cara meredakan anxiety saat cuaca buruk. Terlebih dulu coba kenali pemicu kecemasan Anda. Apakah suara guntur, kilatan petir, angin kencang, atau ketidakpastian tentang keselamatan keluarga? Memahami sumber ketakutan membantu Anda menentukan langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Jika sudah mengenali pemicu kecemasan, maka lakukan beberapa opsi ini. Pertama, tentukan tempat aman sebelum cuaca memburuk. Saat ada ancaman angin kencang atau puting beliung, ikuti panduan resmi otoritas setempat lalu berlindung di bangunan kokoh, jauh dari jendela.
Kedua, periksa prakiraan dan peringatan cuaca dari BMKG atau instansi resmi setempat. Hindari terus-menerus membaca unggahan yang menakutkan atau hal-hal terkait skenario terburuk tanpa bukti dari sumber tidak resmi.
Ketiga, gunakan lebih dari satu cara untuk menerima informasi. Misalnya bisa lewat aplikasi resmi, siaran radio, televisi, atau pemberitahuan pemerintah. Pastikan baterai ponsel terisi dan Anda memahami peringatan di wilayah sendiri.

Keempat, simpan air minum, makanan tahan lama, obat pribadi, senter, baterai cadangan, dan perlengkapan pertolongan pertama di tempat yang mudah dijangkau.
Kelima, buat rencana bersama keluarga. Sepakati tempat berkumpul, jalur komunikasi, dan langkah yang harus dilakukan apabila listrik atau jaringan terputus. Siapkan kebutuhan anak, lansia, dan hewan peliharaan.
Jika sudah memperoleh informasi yang diperlukan, coba untuk menenangkan diri. Duduk di tempat aman, atur napas secara perlahan tanpa memaksakan diri, atau hubungi orang yang membuat merasa nyaman. Kurangi perasaan tidak nyaman dengan membatasi akses tentang berita buruk.
Kita tidak bisa menghentikan cuaca ekstrem, tetapi dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Saat terjadi cuaca ekstrem, utamakan keselamatan. Ikuti imbauan peringatan dari BMKG dan arahan petugas setempat.
Jika kecemasan sampai mengganggu tidur, aktivitas, atau kehidupan sehari-hari, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































