tirto.id - Fenomena El Nino mengubah pola hujan sehingga berpotensi menyebabkan banjir di Somalia tetapi memicu kekeringan di Indonesia. Dampaknya berbeda-beda, tergantung kondisi atmosfer dan laut di setiap kawasan.
Sebelumnya pada 21 Oktober 2026 International Organization for Migration (IOM) mengingatkan sebanyak 874.319 orang di Somalia berpotensi mengungsi sepanjang Oktober-Desember mendatang akibat risiko banjir. Negara di Tanduk Afrika itu kini memasuki musim hujan Deyr sekaligus berhadapan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) dan ancaman El Nino.
"Kita sedang menghadapi risiko ratusan ribu orang kehilangan rumah hanya dalam beberapa minggu. Banyak dari keluarga ini sebelumnya sudah mengungsi dan hanya memiliki sedikit yang bisa diandalkan," kata Manuel Marques Pereira, Kepala Misi IOM Somalia.
Ketika Somalia dihadapkan risiko banjir bandang, situasi di Indonesia justru sebaliknya. Merujuk BMKG, Indeks Nino 3.4 pada Agustus sampai Oktober 2026 mencapai +3,05 derajat celcius, tanda El Nino berada pada kategori sangat kuat. Pada periode yang sama, IOD juga berada dalam fase positif dengan nilai +0,63.
"Kombinasi kedua kondisi ini berpotensi memperpanjang musim kering dan mengurangi ketersediaan air di sejumlah wilayah. BMKG memperkirakan El Nino masih berlangsung hingga awal 2027," demikian terteran di laman resmi BMKG pada 27 Oktober 2026.
Mengapa El Nino meningkatkan risiko hujan lebat di Afrika Timur, sementara di saat bersamaan wilayah lain seperti Indonesia justru mengalami kekeringan? Salah satu jawabannya terkait interaksi fenomena El Nino dengan kondisi di Samudra Hindia.
Dampak dari Interaksi El Nino dengan Dipol Samudra Hindia
Pada 19 Agustus 2026, World Meteorological Organization (WMO) menyebut bahwa El Nino sudah terbentuk dan diprediksi bakal menguat. IOD positif juga berkembang sepanjang Agustus-Oktober 2026. Kondisi tersebut meningkatkan curah hujan selama musim hujan di kawasan Tanduk Afrika (Horn of Africa), wilayah semenanjung besar di bagian timur Afrika, mencakup Somalia, Ethiopia, Eritrea, dan Djibouti.
Sebagaimana dijelaskan Food Security and Nutrition Working Group (FSNWG) dalam laporan khusus ICPAC pada 2023, El Nino ditandai dengan pemanasan suhu muka laut yang tidak biasa di Pasifik tropis bagian timur. Perubahan suhu laut ini memengaruhi sirkulasi atmosfer, yaitu pergerakan udara yang ikut menentukan pembentukan awan dan distribusi hujan di berbagai wilayah.

Adapun dampak El Nino juga menjangkau Samudra Hindia.
Menurut NOAA Climate Prediction Center, El Nino memicu pemanasan di seluruh Samudra Hindia dengan jeda beberapa bulan. Salah satu dampaknya yakni perubahan pola angin dan distribusi hujan. Wilayah Samudra Hindia bagian barat dan Afrika Timur ekuatorial cenderung menerima hujan lebih banyak, sementara Samudra Hindia bagian timur, termasuk kawasan yang mencakup Indonesia, cenderung mengalami pengurangan hujan.
Namun, selain dipengaruhgi El Nino, pola hujan di Afrika Timur juga terkait fenomena lain. Samudra Hindia punya fenomena iklim tersendiri yang disebut Indian Ocean Dipole (IOD). NOAA menjelaskan bahwa IOD mengukur perbedaan anomali suhu permukaan laut antara Samudra Hindia ekuator bagian barat dan timur. Fenomena ini memiliki tiga fase, yakni positif, negatif, dan netral.
Pada fase positif, suhu laut di bagian barat lebih hangat dari rata-rata, sementara di bagian timur lebih dingin. Kondisi tersebut cenderung meningkatkan hujan di Samudra Hindia bagian barat dan Afrika Timur ekuatorial, tetapi mengurangi hujan di Samudra Hindia bagian timur.
Apa yang terjadi ketika El Nino dan IOD positif berlangsung bersamaan? Keduanya merupakan fenomena berbeda, tetapi berpotensi memengaruhi pola hujan di kawasan yang sama. NOAA menyebut IOD sebagai mode alami Samudra Hindia, dan El Nino kadang bisa memicu dan memodulasinya.
Secara teknis, suhu laut yang lebih hangat di Samudra Hindia bagian barat mendukung penguapan dan pembentukan awan, lalu pola angin membawa lebih banyak uap air ke kawasan tersebut. Ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan hujan, pasokan uap air tersebut berkontribusi pada peningkatan curah hujan di wilayah tersebut.
Adapun peningkatan curah hujan di Afrika Timur berdampak lebih jauh ketika berlangsung selama musim hujan. Di Somalia, risiko banjir bertambah ketika musim Deyr segera berlangsung pada Oktober sampai Desember 2026.
Siklus Hujan Deyr Menguat Akibat El Nino
Somalia punya dua musim hujan utama, yakni Gu pada April-Juni dan Deyr pada Oktober-Desember. Musim Deyr jadi periode penting karena naiknya curah hujan memperbesar risiko banjir, terutama di daerah aliran Sungai Juba dan Shabelle.
Prakiraan Forum Prakiraan Iklim Tanduk Afrika Raya (GHACOF-74) memperlihatkan tingginya risiko tersebut. Merujuk FAO Somalia, peluang curah hujan di atas normal mencapai 90 persen di wilayah tengah dan selatan Somalia. Kans hujan normal dan di bawah normal masing-masing diperkirakan hanya sebesar 5 persen.
Mengapa hujan yang turun di luar negara Somalia juga meningkatkan risiko banjir di negara itu? Daerah tangkapan Sungai Juba dan Shabelle membentang sampai ke Ethiopia. Air hujan yang terkumpul di wilayah hulu negara tetangga tersebut mengalir menuju Somalia sehingga menambah debit kedua sungai.

Air dari hulu tidak langsung mencapai wilayah hilir. Aliran butuh waktu untuk bergerak mengikuti sungai. Alhasil, kenaikan muka air di Somalia bisa terjadi ketika hujan di wilayah setempat sudah mereda. Kondisi ini membuat risiko banjir sungai tidak selalu berakhir bersamaan dengan berhentinya hujan.
"Kondisi iklim yang berkembang menjelang Deyr 2026 mirip dengan tahun 1997 dan 2023, yang keduanya menyebabkan banjir parah di Somalia," kata Kepala Ahli Meteorologi FAO, Bethwell Mutai.
Seberapa besar dampak banjir yang pernah terjadi di Somalia? Banjir 1997 menewaskan lebih dari 2.300 orang di Somalia. Pada 2023, peringatan dan tindakan dini membantu menekan dampak korban jiwa, tetapi banjir tetap menyebabkan warga mengungsi dan menimbulkan kerusakan.
"Probabilitas 90 persen merupakan sinyal basah yang sangat kuat. Bukan berarti banjir pasti terjadi, tetapi ini memberi tahu kita bahwa kita harus maemakai waktu yang ada untuk bertindak sebelum dampak terjadi," imbuh Mutai.
FAO Somalia mengingatkan, jeda hujan selama beberapa hari tidak serta-merta bikin banjir sungai surut. Ketinggian air di Juba dan Shabelle masih bisa bertahan tinggi atau terus meningkat ketika aliran dari hulu tiba. Jika sungai meluap, air berisiko merendam permukiman, merusak lahan pertanian, dan mengganggu akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.
Untuk mengurangi risiko, FAO Somalia merekomendasikan persiapan jalur evakuasi, lokasi aman di dataran tinggi, serta logistik sebelum hujan meningkat. Jeda kering juga dapat dimanfaatkan untuk menjangkau masyarakat yang berisiko sebelum banjir terjadi.
Sementara Somalia menghadapi ancaman banjir besar akibat kombinasi El Nino dan IOD positif, Indonesia justru harus waspada terhadap dampak lanjutan kekeringan dan ketidakpastian musim hujan. BMKG menekankan pentingnya pemanfaatan informasi iklim dan prakiraan cuaca sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menjaga produksi serta ketersediaan pangan nasional.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Pangan di Jakarta pada 26 Oktober 2026, menyampaikan bahwa ada dua kondisi yang perlu diantisipasi bersama, yaitu dampak lanjutan El Nino dan masuknya musim hujan secara bertahap. "Informasi iklim perlu menjadi dasar penentuan waktu tanam, pengelolaan air, dan perlindungan produksi pangan," ujarnya.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






























