tirto.id - Tren kebugaran mulai meningkat. Parkour bertransformasi dari olahraga ekstrem untuk anak muda menjadi bentuk latihan fungsional yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, terutama bagi kalangan lanjut usia (lansia).
Sebagai salah satu negara dengan populasi lansia tercepat di dunia, penduduk usia 50 tahun ke atas di Singapura mulai menerapkan tren kesehatan secara kreatif. Mereka mulai mengadopsi olahraga ekstrem penuh lompatan berbahaya, yakni parkour. Ini menjadi solusi untuk menjaga kekuatan otot inti dan tulang di usia senja.
Melansir Reuters, pelatih parkour di Singapura, Ta Shie Boon, menyebut bahwa parkour terbukti meningkatkan kepercayaan diri para lansia. Dalam praktiknya, para lansia diajarkan cara jatuh dan menghindari cedera parah yang cukup rentan terjadi di usia senja.
Bahkan, berkat pelatihan disiplin intensif yang diadaptasi dari olahraga ekstrem tersebut disinyalir dapat membantu para lansia bisa melakukan berbagai aktivitas yang tidak lazim untuk orang berusia 60 atau 70 tahun, termasuk menjalani rutinitas keseharian secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada orang lain.
Berbeda dengan parkour pada umumnya yang kerap melibatkan gerakan melompati gedung, adaptasi yang dilakukan oleh lansia di Singapura berfokus pada latihan fungsional, seperti melatih ketangkasan, keseimbangan, serta refleks tubuh guna mengurangi risiko dan cedera ketika terjatuh.
Mengenal Parkour dan Asal-Usulnya
Sebagaimana dikutip Parkour UK, parkour merupakan olahraga aksi perkotaan yang melibatkan aktivitas berlari, melompat, serta melompati rintangan sambil menyesuaikan gerakan dengan lingkungan sekitar.
Pada praktiknya, olahraga ini tidak memerlukan peralatan tambahan, melainkan bertumpu pada penggunaan lingkungan sekitar individu. Parkour sendiri kerap dilakukan di lingkungan perkotaan yang menyajikan tantangan tersendiri.
Berbeda dengan olahraga lainnya, parkour tidak membatasi gerakan spesifik atau aturan yang ketat. Namun, para praktisi olahraga ini diberikan kebebasan bergerak secara kreatif dan mengekspresikan diri dengan cara unik masing-masing.
Meskipun para praktisi parkour kerap secara spontan menggabungkan berbagai lompatan dan gerakan akrobatik ketika menjelajahi suatu lingkungan, faktanya jalur tersebut telah direncanakan dengan cermat.
Namun, berbagai gerakan yang tercipta itu terkadang tampak berbahaya. Sehingga tak banyak yang menilai bahwa parkour termasuk salah satu jenis olahraga ekstrem.
Berdasarkan sejarahnya, parkour berasal dari Prancis pada akhir abad ke-20. Olahraga ini lahir dengan akar dari pelatihan rintangan militer dan sistem gerakan alami.
Seorang perwira angkatan laut Prancis, Georges Hebert, jadi salah satu pengaruh utama olahraga parkour. Pada awal 1900-an, ia mengembangkan "méthode naturelle", yang menekankan gerakan alami, kelincahan, kekuatan, serta kemampuan fisik praktis.
Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, Yamakasi jadi salah satu kelompok atlet muda yang berlatih di pinggiran kota Paris kala itu. Kelompok ini memainkan peran sentral dalam mengubah ide-ide latihan gerakan dan rintangan menjadi disiplin modern yang berbeda.
Dalam praktiknya, kelompok tersebut melakukan latihan di lingkungan perkotaan dengan memadukan gerakan lari, lompat, panjat tebing, lompat galah, serta bentuk gerakan efisien lainnya.
Yamakasi juga menekankan disiplin, kemampuan beradaptasi, kemampuan fisik, serta mengatasi rintangan, yang kemudian menjadi dasar dari Parkour dan Art du Déplacement.
Seiring perkembangannya, parkour mulai menjamur ke sejumlah kota di Eropa. Olahraga ini kemudian memperoleh pengakuan internasional pada awal 2000-an, ketika kombinasi gerakan dinamis dengan filosofi yang berpusat pada peningkatan diri, kemampuan beradaptasi, kreativitas, serta mengatasi tantangan fisik dan mental banyak beredar dalam video, dokumenter, film, hingga televisi.
Ketika olahraga ini terus berkembang jauh melampaui asal-usulnya di Prancis, parkour terus mengalami evolusi dengan gaya, spesialisasi, serta pendekatan pelatihan yang disesuaikan dengan individu atau kelompok masing-masing.
Selain itu, setiap gerakan yang tercipta dari parkour memiliki filosofi tersendiri. Tak jarang, gerakan-gerakannya seolah memiliki ritme, irama, bahkan sarat akan budaya tertentu.
Mengapa Parkour Cocok untuk Usia Senja?
Seiring perkembangannya, parkour mengalami evolusi cukup signifikan. Saat ini, olahraga ini tak hanya bisa dinikmati oleh anak muda saja, melainkan dapat jadi solusi untuk latihan fungsional bagi lansia.
Akan tetapi, adaptasi parkour menjadi latihan fungsional untuk lansia ini mengalami penyesuaian gerakan. Artinya, gerakan-gerakan yang dilakukan tidak ekstrem seperti melompati gedung atau salto berbahaya, melainkan gerakan dasar untuk mengurangi risiko dan dampak jatuh.
Melansir US News, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), memperkirakan bahwa 1 dari 4 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas rentan jatuh. Kondisi ini jadi salah satu penyebab utama dari cedera fatal dan nonfatal.
Lansia yang rentan jatuh dipicu karena penurunan kekuatan, keseimbangan, serta fleksibilitas mereka. Bahkan, rasa takut akan jatuh juga kerap memicu lansia memilih untuk hidup pasif atau tidak aktif.

Guna mencegah kondisi tersebut, parkour kemudian diadaptasi menjadi latihan fungsional dengan gerakan yang disesuaikan. Gerakan khusus yang dilakukan itu ditujukan untuk melatih refleks, keseimbangan, serta koordinasi tubuh secara aktif sehingga tubuh jadi belajar bereaksi lebih cepat ketika dihadapkan situasi genting seperti jatuh atau hampir terpeleset.
Sebagai contoh, beberapa gerakan parkour standar yang dimodifikasi demi menjaga keamanan, yaitu ketika melakukan lompatan pengaman. Ali-alih menggunakan satu kaki sebagai penopang, beberapa praktisi diarahkan untuk menggunakan kedua kakinya untuk menghindari risiko cedera.
Selain itu, ada pula gerakan melompati atau melewati rintangan rendah seperti bangku taman, merangkak dan berguling dengan aman, serta memanjat tembok atau pegangan pendek untuk memperkuat otot tangan dan kaki.
Lewat gerakan-gerakan yang disesuaikan itu para lansia dapat meningkatkan fleksibilitas otot, kekuatan tulang, keseimbangan, serta koordinasi. Mereka juga diberikan pelatihan gerakan jatuh terkontrol yang dapat mengurangi rasa takut akan jatuh, mengurangi kemungkinan jatuh, atau memitigasi risiko ketika jatuh.
Praktik modifikasi gerakan parkour sendiri mulai marak di sejumlah negara. Singapura jadi salah satu yang paling aktif dalam mengadakan pelatihan khusus untuk para lansia.
Gerakan Dasar Parkour untuk Lansia dan Panduan Keamanan
Parkour untuk lansia atau dikenal juga sebagai "Geriatric Parkour" tidak menyertakan gerakan ekstrem seperti melompat di atas gedung, melainkan mengadaptasinya menjadi gerakan fungsional yang ditujukan untuk melatih keseimbangan, mobilitas, refleks, serta teknik jatuh yang aman.
Fokus utama pada gerakan parkour untuk lansia ini bertumpu pada kemandirian gerak dan kesehatan sendiri. Pasalnya, memasuki usia senja, kekuatan dan ketahanannya menjadi rentan dan cukup berisiko terhadap cedera.
Terdapat empat keterampilan yang paling penting agar mendapatkan dampak terhadap lansia, yakni keseimbangan, jatuh dengan aman, bangun dari lantai, serta dampak terhadap kekuatan tulang.
Pertama, Keseimbangan. Melatih keseimbangan dengan gerakan parkour dapat dilakukan dengan cara berjalan perlahan di atas garis lurus di lantai atau permukaan yang sedikit terangkat (seperti pembatas semen taman yang rendah).
Di waktu bersamaan, rentangkan kedua tangan ke samping untuk menjaga stabilitas. Gerakan lainnya dapat dilakukan juga seperti memandang ke depan sambil membuka kaki, menekuk lutut sedikit, serta meningkatkan ketinggiannya secara perlahan.
Tujuan dari gerakan ini guna menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah goyah ketika berjalan di permukaan yang tidak rata.

Kedua, jatuh dengan aman. Teknik jatuh dengan aman biasanya dilakukan di atas matras, yang dimulai dari posisi berlutut atau duduk. Lalu, menggulingkan badan secara rileks dari posisi duduk atau berlutut rendah guna mendistribusikan gaya benturan ke seluruh tubuh.
Selain gerakan tersebut, teknik yang biasa digunakan seperti mereaksikan jatuh ke arah dinding terdekat dengan menahan beban tubuh menggunakan lengan bawah yang ditekuk. Tujuannya tetap sama, yakni melatih refleks protektif ketika kehilangan keseimbangan.
Ketiga, bangun dari lantai. Gerakan berikutnya yaitu kemampuan untuk duduk di lantai dan berdiri kembali yang jadi penanda kesehatan yang kuat. Caranya dapat dilakukan mulai dari menekuk salah satu lutut, kemudian hadapkan tubuh ke arah sisi kaki yang lurus, sebelum akhirnya membalikkan badan hingga posisi miring atau tengkurap.
Gerakan lainnya yang dapat dilakukan seperti meletakkan kedua tangan di atas dudukan kursi untuk menopang berat badan bagian atas, atau menempatkan satu tangan di pegangan sebagai tumpuan, kemudian melangkahkan kaki ke atas rintangan setinggi mata kaki secara perlahan, diikuti kaki satunya lagi.
Keempat, dampak terkendali untuk kekuatan tulang. Adaptasi gerakan ini berfokus pada menstimulasi kepadatan tulang melalui tekanan mekanis yang aman, sekaligus melatih refleks jatuh untuk meminimalisir risiko cedera fatal.
Metode ini biasanya mengharuskan lansia melangkah atau melompat kecil dari ketinggiab sangat rendah ke atas matras empuk. Proses pendaratannya harus menggunakan bagian depan kaki terlebih dahulu, diikuti tumit, sambil menekuk lutut dan pinggul untuk menyerap benturan.
Meskipun gerakan-gerakan tersebut tampak aman, faktanya para lansia tetap harus memperhatikan panduan keamanan dari setiap gerakan yang akan dilakukan. Pemeriksaan medis atau berkonsultasi dengan dokter dapat jadi salah satu langkah pencegahan, agar gerakan yang dilakukannya juga disesuaikan guna menghindari risiko cedera fatal.
Para lansia yang hendak melakukan gerakan parkour juga mesti didampingi instruktur berpengalaman yang memahami biomekanika tubuh lansia. Begitupun lokasi latihannya dianjurkan di dalam ruangan dengan lantai berlapis matras busa tebal atau taman bermain dengan alas karet yang empuk.
Sebelum melakukan gerakan, instruktur biasanya akan menyarankan pemanasan terlebih dahulu yang ditujukan untuk pelumasan sendi-sendi.
Ketika latihan berlangsung, gerakan yang dilakukannya juga harus dilalui secara bertahap dan perlahan. Intensitasnya dapat ditingkatkan sesuai arahan instruktur atau terbiasa melakukan gerakan tersebut.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































