Menuju konten utama

Benarkah Rambut dan Kuku Jenazah Manusia Tetap Tumbuh?

Benarkah anggapan yang mengatakan kuku dan rambut jenazah manusia bisa terus tumbuh memanjang? Temukan jawaban dan penjelasan ilmiahnya.

Benarkah Rambut dan Kuku Jenazah Manusia Tetap Tumbuh?
Ilustrasi rambut. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ada anggapan yang mengatakan rambut dan kuku jenazah manusia bisa tetap tumbuh setelah meninggal. Padahal pertumbuhan tersebut bergantung kepada aktivitas sel hidup di pangkal rambut dan kuku.

Sejatinya ketika seseorang meninggal maka sirkulasi darah berhenti. Pasokan oksigen dan nutrisi terputus, sehingga proses pembentukan jaringan baru tidak bisa berlanjut.

Namun demikian terkadang rambut dan kuku jenazah terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Perubahan tersebut berkaitan dengan ilusi penyusutan kulit setelah mati. Kulit yang berangsur mengerut bisa membuat bagian rambut dan kuku yang sebelumnya tenggelam menjadi lebih terlihat. Hal inilah yang menimbulkan kesan tumbuh memanjang.

Mitos mengenai rambut dan kuku tetap tumbuh setelah mati muncul dalam budaya populer. Sebagian masyarakat bahkan menganggapnya sebagai fenomena biologis yang benar-benar terjadi. Namun hal itu sudah dibantah oleh para ahli.

Mitos Rambut dan Kuku Tetap Tumbuh Setelah Meninggal

Mitos bahwa rambut dan kuku tetap tumbuh setelah seseorang meninggal, salah satunya muncul dalam novel All Quiet on the Western Front karya Erich Maria Remarque, yang terbit pada 1929. Dalam novel tersebut, tokoh Paul Baumer membayangkan kuku kawannya, Kemmerich, bakal terus memanjang setelah meninggal, sampai bisa melilit seperti sekrup. Rambut pada kepala kawannya itu juga dibayangkan tumbuh lebat seperti rumput liar.

Sementara dalam film horor The Tingler (1959), tokoh yang diperankan Vincent Price juga menyebut bahwa kuku akan terus tumbuh setelah meninggal, begitu juga rambut jenazah. Adapun dalam folklor horor lokal, gambaran serupa bisa ditemukan pada sosok kuntilanak yang dicitrakan berambut panjang.

Mitos ini turut menjadi perhatian dalam dunia medis. Pada 2007, Rachel C. Vreeman dan Aaron E. Carroll dari Indiana University School of Medicine menerbitkan artikel di British Medical Journal untuk menguji sejumlah mitos populer di dunia kesehatan. Salah satunya anggapan bahwa rambut dan kuku manusia bisa terus tumbuh setelah meninggal.

Ilustrasi kuku

Sindrom Kuku Kaki Kuning. FOTO/iStockphoto

Ketika menelusuri literatur medis melalui basis data Medline, 2 peneliti tersebut tidak menemukan bukti ilmiah yang mendukung klaim pertumbuhan rambut dan kuku selepas seseorang meninggal. Mereka juga merujuk antropolog forensik William Maples yang membantah anggapan bahwa kedua bagian tubuh itu terus memanjang setelah manusia mati.

"Itu gambaran yang kuat dan mengganggu, tetapi murni omong kosong," kata Maples, sebagaimana dikutip dalam artikel tersebut.

Mitos ini berkaitan dengan perubahan fisik jenazah, yang bisa membuat rambut dan kuku terkesan lebih panjang. Mengapa kesan ini muncul? Penjelasannya dimulai dari cara kedua jaringan itu terbentuk ketika tubuh masih hidup.

Apa yang Terjadi pada Rambut dan Kuku saat Masih Hidup dan Setelah Meninggal?

Saat manusia masih hidup, rambut dan kuku terbentuk melalui aktivitas sel hidup yang berada di bagian pangkal. Batang rambut yang terlihat di permukaan kulit tersusun dari sel-sel yang sudah mengalami keratinisasi dan tidak lagi hidup. Begitu pula lempeng kuku, yang terbentuk dari sel-sel mati yang mengandung keratin atau protein struktural.

Pada rambut, proses pembentukan berlangsung di folikel yang tertanam dalam kulit. Sel-sel pada bagian bawah folikel membelah, kemudian mendorong sel-sel yang lebih tua ke arah permukaan. Sel tersebut mengalami keratinisasi, hingga membentuk apa yang kita kenal sebagai batang rambut.

Sedangkan pertumbuhan kuku terutama berlangsung di matriks kuku, yakni jaringan pangkal kuku yang menghasilkan sel-sel baru untuk membentuk lempeng kuku.

"Rata-rata, dibutuhkan sekitar 6 bulan untuk mengganti seluruh kuku jari tangan, jika Anda kehilangannya, dan 1 sampai 1,5 tahun untuk mengganti kuku jari kaki," kata Shari Lipner, seorang profesor madya dermatologi klinis serta direktur divisi kuku di Weill Cornell Medicine, dikutip dari The Washington Post.

Ilustrasi anatomi rambut

Ilustrasi anatomi rambut. (FOTO/iStockphoto)

Selama manusia hidup, pembelahan sel membutuhkan energi dan bahan baku, yang ditunjang melalui metabolisme. Oksigen dan nutrisi dibawa oleh darah untuk mendukung fungsi sel, termasuk pada aktivitas pembentukan rambut dan kuku. Sistem hormonal dan berbagai mekanisme biologis juga memengaruhi siklus pertumbuhan rambut dan kuku.

Ketika manusia meninggal, maka sirkulasi darah dalam tubuh berhenti permanen. Pasokan oksigen dan nutrisi ke semua jaringan terputus. Termasuk sel-sel pembentuk rambut dan kuku akan kehilangan dukungan metabolisme yang diperlukan. Alhasil, aktivitas pembelahan sel juga ikut berhenti seiring dengan kematian sel-sel tersebut.

"Setelah tubuh mati, tidak ada lagi glukosa," kata dermatolog Doris Day dari Lenox Hill Hospital, New York, kepada Live Science. Menurut Day, tanpa glukosa maka sel kulit, rambut, dan kuku, tidak lagi bisa berganti atau menghasilkan sel baru.

Akan tetapi berhentinya fungsi tubuh tidak berarti seluruh sel mati tepat pada saat yang persis sama. Sebagian sel dan jaringan bisa bertahan sementara waktu setelah sirkulasi berhenti, itu bergantung jenis jaringan dan kondisi lingkungan. Meski demikian, kelangsungan hidup sementara pada tingkat sel tidak cukup menjadi bukti bahwa rambut atau kuku jenazah bisa terus tumbuh.

Setelah kematian, rambut dan kuku yang sudah terbentuk tetap berada di tubuh untuk sementara waktu. Akan tetapi pembentukan jaringan baru sudah tidak berlanjut seperti saat tubuh masih hidup.

Ilusi Rambut dan Kuku Jenazah Tampak Memanjang

Lantas, mengapa rambut dan kuku jenazah terkadang terlihat lebih panjang? Penjelasannya terkait perubahan fisik kulit setelah kematian, terutama kehilangan air dan penyusutan jaringan.

Merujuk Shedge dan Zubair di National Library of Medicine, setelah seseorang meninggal maka tubuh mengalami berbagai perubahan pascamati.

Ketika kandungan air dalam tubuh berkurang, maka kulit akan berangsur mengering, mengerut, dan mengalami retraksi atau penarikan jaringan. Perubahan ini memengaruhi penampilan bagian tubuh yang memiliki rambut dan kuku.

Pada jari tangan dan kaki, kulit di sekitar pangkal kuku bisa menyusut. Alhasil, bagian lempeng kuku yang sebelumnya tertutup atau tenggelam akan lebih terlihat. Akibatnya, kuku tampak menonjol lebih jauh dari kulit di sekelilingnya.

Ilustrasi rambut

Ilustrasi Rambut Lepek Berminyak. foto/IStockphoto

Perubahan tersebut tidak berarti seluruh jenazah mengalami kondisi sama. Kecepatan pengeringan dan penyusutan kulit bergantung kepada lingkungan, suhu, kelembapan, serta kondisi tubuh. Karena itu penampilan rambut dan kuku bisa saja berbeda antara satu jenazah dan jenazah lainnya.

Seiring berlangsungnya proses pembusukan setelah meninggal, jaringan tubuh manusia mengalami perubahan lebih lanjut. Enzim di tubuh dan aktivitas mikroorganisme memecah berbagai komponen jaringan, termasuk jaringan yang menopang akar rambut.

Akibatnya, rambut bisa terlepas dari folikel lalu mengalami kerontokan. Pada tahap pembusukan lebih lanjut, jaringan lunak kemudian terurai, sehingga rambut dan kuku yang semula melekat pada tubuh juga ikut terlepas.

Baca juga artikel terkait RAMBUT atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama