tirto.id - Face-name recognition gap biasa dialami seseorang. Ingatan wajah lebih melekat daripada nama. Otak jauh lebih mampu menyimpan data visual seperti wajah, alih-alih nama yang biasa hanya didengar sekilas saja.
Bertemu dengan teman di jalan atau di suatu tempat merupakan hal biasa. Wajahnya terasa sangat familiar, tapi ingatan soal nama mereka barangkali sudah memudar.
Peristiwa serupa terjadi ketika merasa mengenal seseorang atau familiar dengan wajahnya. Kita sadar pernah berkenalan di suatu acara. Namun, lagi-lagi kita kesulitan mengingat nama.
Kondisi ini umum terjadi. Ingat wajah tapi lupa nama. Istilah ini dikenal sebagai face-name recognition gap, yang kerap dialami banyak orang.
Saat bertemu, otak mengenali wajah atau postur tubuh. Namun, di situ mengalami face-name recognition gap sehingga rasanya sulit untuk mengingat nama dan butuh waktu.
Apa Itu Face-name Recognition Gap & Kenapa Bisa Terjadi?
Pengenalan wajah merupakan kemampuan manusia yang sangat berkembang dan khusus. Studi yang dilakukan DeGutis, dkk. (2024) berjudul “Better Face-name Recall is Associated with Better Face Recognition Ability” menyebut, kemampuan ini berbeda dari kemampuan kognitif lainnya.
Memori asosiatif berkontribusi pada kemampuan pengenalan wajah. Ini sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan untuk mempelajari dan mengingat nama sangat penting untuk pengenalan wajah.
Pada face-name recognition gap, kita mengalami kesenjangan ingatan antara mengingat atau mengenali wajah dan nama. Sering kali, ingatan soal wajah lebih melekat daripada nama.

Secara ilmiah, otak memang jauh lebih mampu menyimpan data visual seperti wajah, alih-alih nama yang biasa hanya didengar sekilas, dikutip dari Psychological Science. Bahkan, seorang ahli neurosains kognitif di Universitas Bristol, E. Clea Warburton mengatakan, manusia adalah makhluk visual.
Seturut penjelasannya, otak manusia memiliki lebih banyak korteks yang dikhususkan untuk memproses informasi visual daripada informasi dari indra yang lain. Dengan kata lain, kita diprogram untuk mengkodekan dan mengambil informasi visual jauh lebih banyak daripada informasi pendengaran.
Richard Russell, asisten profesor psikologi di Gettysburg College menjelaskan, wajah merupakan stimulus yang jauh lebih kaya, jika dibandingkan dengan nama. Informasi mengenai jenis kelamin, usia, etnis, suasana hati, hingga daya tarik, bisa didapatkan orang yang melihatnya.
Artinya, banyak detail menarik untuk diserap dan membantu memori visual yang melekat pada seseorang. Hal ini berbeda dengan nama, yang hanya merupakan kumpulan beberapa huruf yang sering kali umum sehingga mudah dilupakan.
Melansir laman Science Friday, sebagian kemampuan pengenalan wajah berasal dari wilayah di otak yang disebut area fusiform wajah. Wilayah ini secara khusus dirancang untuk kemampuan tersebut.

Namun demikian, mencocokkan wajah dengan nama orang yang dikenal menjadi lebih rumit karena tersimpan di tempat yang berbeda. Upaya integrasi menggabungkan kedua informasi yang terkadang gagal itulah yang membuat lebih sering mengenali wajah daripada nama.
Hal ini turut dijabarkan dalam penjelasan teoretis tentang pengenalan wajah, dikutip dari artikel Burton dan Bruce (1992) berjudul “I Recognize Your Face but I Can't Remember Your Name: A Simple Explanation”.
Penjelasan teoretis tentang pengenalan wajah mengusulkan bahwa nama disimpan secara terpisah dari informasi semantik. Nama tersebut mungkin tidak bisa diingat tanpa adanya informasi lain.
Kenapa Wajah Lebih Mudah Diingat?
Sebagai makhluk visual, manusia ahli dalam mengenali wajah. Mengutip Tom Stafford di laman BBC, ada bagian otak khusus untuk mengenali wajah yang disebut fusiform face area atau Area fusiform wajah.
Area fusiform wajah terletak di bagian otak yang disebut lobus temporal, sekitar di area belakang telinga. Bagian inilah yang berperan dalam kemampuan pengenalan wajah.
Lebih lanjut, menurut penjelasan laman Neuroscientifically Challenged, area tersebut merupakan wilayah kecil yang terletak di permukaan inferior (bawah) lobus temporal. Lokasinya di dalam girus yang disebut girus fusiformis.
Hal ini turut dijelaskan dalam studi yang dilakukan Kapsetaki dan Zeki (2022) berjudul “Human Faces and Face-like Stimuli are More Memorable”. Area fusiform wajah dan area oksipital wajah berperan dalam memproses wajah dan stimulus mirip wajah.

Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali wajah. Ada beberapa faktor mengapa nama lebih sulit diingat. Misalnya, kurangnya perhatian saat memproses ingatan tentang nama yang hanya terdengar sekilas, susunan nama yang terlalu biasa, hingga perbedaan bagian otak untuk kedua tugas tersebut.
Tak hanya itu, dikutip dari laman Mental Floss, dalam istilah psikologis memang pengenalan dan mengingat kembali merupakan dua proses yang sangat berbeda. Hal ini yang menyebabkan mengapa mengingat nama seseorang biasanya jauh lebih sulit daripada mengenali wajah.
Ketika mengingat nama, otak mencari informasi dan melalui labirin koneksi leksikal serta kumpulan kosakata. Pengambilan leksikal jauh lebih rumit dan melelahkan secara mental daripada tugas pengenalan wajah sederhana.
Tak jarang, saat otak menyusuri labirin itu, informasi bercampur aduk dengan nama atau kosa kata lain dan bisa saja salah menyebutkan nama. Kondisi ini juga membutuhkan waktu sedikit lebih lama sebelum mengingat nama dengan tepat.

Saat menghadapi situasi tidak ingat nama meski mengenali wajah, beri sedikit waktu bagi otak untuk mengingat. Ini memang merupakan kerja otak yang membutuhkan usaha dan waktu.
Namun, tidak perlu sungkan untuk menanyakan nama jika dalam waktu cukup lama tak kunjung ingat setelah bertemu dengan orang lain yang wajahnya familiar. Sembari mengingat nama, lakukan basa-basi dengan menanyakan kabar atau aktivitas yang sedang dilakukan.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id







































