tirto.id - Bagi sebagian orang, subuh merupakan perpanjangan waktu tidur. Namun, bagi mereka yang harus memulai hari sejak dini, subuh adalah gong pembuka rutinitas harian.
Dalam perjalanan bolak-balik sehari-hari yang terkesan monoton itu, baik di jalanan padat maupun di jalan setapak perdesaan, tanpa sadar kita kerap berbagi ruang dengan wajah-wajah yang sama.
Rutinitas tersebut bisa sesederhana seorang petani yang selalu berpapasan dengan seseorang dari desa tetangga di pematang sawah, atau pekerja perkotaan yang melihat toko kelontong langganannya selalu baru buka persis saat ia melintasi trotoar. Sadar atau tidak, mobilitas yang berulang itu melahirkan keteraturan bersama.
Keteraturan serupa juga terjadi dalam skala yang jauh lebih masif di peron-peron stasiun Jabodetabek. Pemandangan berupa ratusan pasang kaki yang “memasang kuda-kuda” sebelum kereta Commuter Line tiba di peron tidaklah asing. Itu merupakan ritual harian, sebuah kompromi paksa atas nama efisiensi waktu.
Data operasional mencatat pergerakan manusia di lajur besi menyentuh 1,09 juta penumpang per hari kerja. Namun, di hadapan tubuh-tubuh yang lelah, angka satu juta menguap begitu saja. Ia kehilangan dimensi matematisnya ketika menjelma realitas brutal: dari sikut yang saling bergesekan, bahu yang menahan dorongan kanan-kiri-depan-belakang, hingga orang yang dengan pasrah mencium aroma minyak kayu putih dari orang asing di sebelahnya.
Kendati demikian, kehadiran "orang asing yang familier" baru benar-benar terasa dampaknya saat mereka mendadak hilang. Misalnya, saat seorang paruh baya, yang biasa berdiri di dekat tiang gerbong wanita, tiba-tiba lenyap selama seminggu, atau warung kopi langganan di pojok jalan masih tutup saat dilewati padahal biasanya tepat waktu buka kedai.
Ada rasa ganjil yang menyentak pikiran dari mode autopilot. Saat momen “kehilangan” itu terjadi, barulah muncul kesadaran penting. Di tengah masyarakat modern yang terkenal cuek dan individualis, ternyata ada ikatan sosial tersembunyi yang mengikat erat setiap jiwa.

Anatomi Perjumpaan Sunyi Para Penglaju
Perjumpaan berulang dengan sosok asing, baik di angkutan umum, jalan raya, maupun pelosok desa, bukanlah sekadar kebetulan acak. Tuntutan jam kerja serta kakunya rute perjalanan memaksa ratusan ribu orang bergerak dalam selang waktu saling bersilangan secara konstan.
Dalam kajian bertajuk “Fenomena Familiar Stranger dan Trait Kepribadian: Analisis Kasus Fenomena Sosial di Transportasi Umum” (2022: 3), Inta Miftakhul Jannah dan Bagus Takwin menyebutkan bahwa para penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) secara konsisten mengalami fenomena familiar stranger. Karakteristik hubungan sunyi ini berpijak pada tiga syarat utama: sosok individu terus diamati, perjumpaan terjadi secara berulang, dan mutlak tanpa interaksi percakapan formal.
Di dalam padatnya gerbong KRL, gejala psikologis mewujud menjadi kemampuan seseorang mengenali, misalnya, pria berkemeja biru yang konsisten menyelip di sela pintu gerbong tiga, atau perempuan bertas merah yang selalu bersandar di tiang tengah gerbong empat.
Begitu pula di jalanan desa, fenomena tersebut hidup ketika seorang warga tanpa sadar hafal dengan bapak-bapak yang rutin melintas mengendarai motor bebek membawa karung rumput tiap jam enam pagi.
Tanpa perlu sapaan langsung, kehadiran wajah-wajah familier macam itu menjadi bukti sahih bahwa ikatan antarmasyarakat tetap bisa terbangun.
Keteraturan mobilitas berlangsung secara terukur dalam skala jaringan yang luas. Melalui karya ilmiah bertajuk “Understanding collective regularity in human mobility as a familiar stranger phenomenon” (2021: 2), Yan Leng, Dominiquo Santistevan, dan Alex Pentland, menjelaskan bahwa gerak mobilitas manusia memiliki ritme waktu dan ruang yang sangat presisi.
Perjumpaan fisik antarwarga kota biasanya terkonsentrasi pada jam-jam mobilitas utama. Bagi pekerja kota, ritme itu terjadi pada pukul 06.00–09.00 dan 17.00–20.00. Sementara itu, bagi masyarakat desa, ritmenya biasa dimulai sejak fajar menyingsing seiring pergerakan menuju ladang. Pada titik perjumpaan yang sama setiap harinya, ratusan ribu jiwa seolah dikunci oleh rutinitas kerja serta rute perjalanan harian yang monoton.
Orang Asing yang Menjelma “Jam Weker”
Pengulangan yang berlangsung saban hari membuat kehadiran orang-orang tanpa nama serta dinamika lingkungan sekitar perlahan menjelma jam komunal tak berdetak.
Kehadiran sosok-sosok asing yang familier serta geliat di toko atau warung pinggir jalan yang buka di jam sama persis melahirkan patokan informal bagi petunjuk waktu harian.
Misalnya, saat penumpang KRL mendapati sosok pembawa tas merah sudah berdiri di sudut peron atau saat seorang warga desa melihat tetangganya sudah mulai menjemur gabah di halaman, otak langsung menyimpulkan bahwa jadwal aktivitas hari itu berada di jalur yang tepat. Sebaliknya, peron yang sepi atau pintu toko yang masih terkunci rapat menandakan petualangan subuh dimulai terlalu cepat atau justru sudah terlambat.
Secara kognitif, ingatan manusia mengenai durasi perjalanan sangat dipengaruhi oleh tingkat kebiasaan aktivitas harian. Sebagaimana disadur dari Dinah Avni-Babad dan Ilana Ritov dalam riset bertajuk "Routine and the Perception of Time" yang terbit di Journal of Experimental Psychology: General (2003: 543), kegiatan rutin membuat kita merasa bahwa waktu berlalu lebih cepat dari biasanya.
Sederhananya, saat kita terbiasa dengan rutinitas harian yang monoton, waktu-waktu yang sudah berlalu itu akan terasa jauh lebih singkat ketika kita mengenangnya kembali.
Demi mengatasi rasa kabur atas perjalanan berulang, memori manusia memanfaatkan peristiwa, sosok orang, serta ruang sekitar sebagai penanda ingatan (markers). Penanda fisik membantu kerja otak merekonstruksi serta mengukur laju alur waktu harian yang monoton.

Manfaat perjumpaan berulang sebenarnya melampaui fungsi pengukur waktu belaka. Menurut Renee Zahnow dan Jonathan Corcoran, "From communal places to comfort zones: Familiar stranger encounters in everyday life as a form of belonging" (2024: 754), perjumpaan berulang di tempat publik diam-diam membentuk ikatan tanpa suara (invisible social ties).
Rentetan peristiwa di ruang publik pada akhirnya bermuara pada satu kesadaran: perjumpaan berulang antarwarga lahir sebagai produk dari sistem kerja dan tata ruang yang mengatur gerak harian. Keteraturan jam kantor, kesamaan rute perjalanan, hingga ritme buka toko pinggir jalan, saling bertautan membentuk keteraturan sosial perkotaan.
Di tengah anonimitas kota besar, keberadaan orang asing yang familier menjadi bukti sahih bahwa manusia senantiasa merajut rasa keterikatan serta mengukur laju waktu melalui perjumpaan-perjumpaan sunyi yang terus berulang.
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































