Menuju konten utama

Rahasia Fisika Sepakan Kalajengking Rene Higuita

Rahasia ilmiah di balik scorpion kick René Higuita Wembley 1995: kolaborasi cepat refleks otak, indera proprioception, dan fisika udara saat mendarat.

Rahasia Fisika Sepakan Kalajengking Rene Higuita
Mantan penjaga gawang Kolombia, Rene Higuita, menendang bola untuk mencegah gol dalam pertandingan ekshibisi antara Brazilian Masters dan Indian All Stars di Kolkata pada 8 Desember 2012. Tim Brasil memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 3-1. AFP PHOTO/ Dibyangshu SARKAR
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Momen bersejarah itu terjadi pada 6 September 1995 di Stadion Wembley, London. Dalam laga persahabatan antara Inggris kontra Kolombia, gelandang Jamie Redknapp melepaskan bola lambung yang melengkung menuju kotak penalti.

Bola tersebut berpotensi mengancam gawang Kolombia. Namun, René Higuita tidak melakukan aksi penyelamatan biasa seperti menangkap bola atau menghalaunya.

Sambil melayang, penjaga gawang eksentrik tersebut justru menjatuhkan badannya ke depan, melengkungkan tubuhnya di udara, dan menghalau bola jauh-jauh menggunakan kedua tumit dari belakang punggung.

Aksi akrobatik nan memukau ini pada kemudian hari mendunia dengan julukan scorpion kick alias tendangan kalajengking.

Meskipun Higuita dikenal sebagai kiper nyeleneh yang gemar keluar area penalti dan memamerkan trik penuh risiko,scorpion kick Wembley bukanlah aksi spekulatif demi menghibur penonton semata. Gerakan ikonik ini butuh keselarasan 3 hal utama. Selain kalkulasi lintasan bola yang tidak boleh luput, Higuita juga perlu menjaga kontrol posisi tubuh dan mengoordinasikan sarafnya agar bisa bertindak sedemikian rupa.

Sebenarnya, bagaimana otak Higuita mengukur lintasan bola di udara hingga berani mengambil keputusan berisiko tinggi dalam hitungan sepersekian detik? Mengapa pula ia sanggup mengayunkan kedua tumit secara bersamaan di belakang punggung?

Bagaimana pula perbandingan aksi penyelamatan Higuita ini jika dibandingkan dengan scorpion kick satu kaki, seperti gol fenomenal Olivier Giroud saat membela Arsenal?

Penjelasan Ilmiah Scorpion Kick Legendaris Rene Higuita

Ide untuk melakukan tendangan kalajengking sudah terlintas di kepala Rene Higuita sekitar 2 tahun sebelum momentum Wembley. Dalam penuturan kepada BBC, Higuita pernah terlibat syuting iklan bersama anak-anak di Kolombia. Saat itulah, ia melihat salah satu bocah melakukan tendangan salto ke arah kiper. Alih-alih menepis, sang kiper melemparkan kedua kaki ke belakang punggung, lantas menendang bola.

Mewujudkan apa yang dilihat dalam permainan bola anak-anak ke stadion yang dipadati penonton jelas butuh keberanian dan perhitungan matang. Wajar jika setelah 3 dekade berlalu, aksi sang penjaga gawang masih ramai dibicarakan.

Bahkan, David Ospina, kiper asal Kolombia, menuturkan kepada The Guardian, "Sungguh luar biasa dia melakukannya (scorpion kick) di Wembley. Bagi kami orang Kolombia, Higuita adalah sosok yang sangat penting; sebuah hal menyenangkan ketika dia dikenang di Inggris karena sesuatu yang istimewa.”

Rene Higuita

Mantan kiper sepak bola Kolombia, Rene Higuita, menyapa para penggemar sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Amerika Selatan antara Kolombia dan Chili di Stadion Metropolitan Roberto Melendez di Barranquilla, Kolombia, pada 15 Oktober 2024. (Foto oleh Luis ACOSTA / AFP)

Keberanian spektakuler Rene Higuita itu sejatinya dieksekusi lewat kerja sama kilat antara fisika tubuh dan respons saraf sang kiper.

Bola lambung Redknapp ke gawang Kolombia meluncur dengan kurva yang dapat diprediksi. Hal ini memberi ruang bagi otak Higuita untuk 'membaca' dan mengunci titik jatuhnya.

Untuk mengeksekusi scorpion kick ikoniknya, Higuita melompat dan melempar seluruh badannya secara mendatar di udara. Ia sengaja membiarkan posisi bola melintas sejenak melampaui kepala menuju area belakang punggung.

Begitu sang kiper meluncurkan dada ke bawah dalam posisi melayang tersebut, badannya secara refleks melengkung. Ini adalah trik alami tubuh untuk merendahkan pusat gravitasi agar posisinya tetap seimbang dan tidak membal liar saat berada di udara.

Ayunan kedua tumit Higuita bertumpu pada kontraksi cepat otot paha depan, juga kelenturan sendi lutut dan panggul. Perpaduan ini menghasilkan daya dorong sepakan yang pas.

Dari sudut pandang neurosains, kunci keberhasilan gerakan scorpion kick ada pada indera internal bernama proprioception, semacam GPS alami tubuh yang membuat otak tahu persis letak kedua tumit di belakang punggung tanpa perlu melirik sama sekali.

Otak Higuita sudah lebih dulu mengukur waktu melayang dan alur jatuh bola, sedangkan sistem sarafnya mengunci posisi tumit untuk "menyengat" bola tepat pada waktunya.

Prinsip fisika scorpion kick ini sejalan dengan temuan Gongbing Shan (2022) dalam "Soccer Scoring Techniques: How Much Do We Know Them Biomechanically?”

Shan menjelaskan bahwa tenaga tendangan akrobatik di udara lahir dari tekukan lutut yang memperkecil momen inersia kaki. Dampaknya, kaki bisa mengayun jauh lebih cepat di udara dan menciptakan efek cambuk (whip effect) saat tumit menghantam bola.

Selain itu, Shan menyoroti pentingnya teknik pendaratan bertahap untuk meredam risiko benturan keras. Higuita secara cerdik memanfaatkan kedua tangannya yang ditekuk sebagai peredam kejut (shock absorber) sebelum dada atau badannya mendarat di rumput.

Hal ini sekaligus membuktikan betapa krusialnya proprioception untuk menjaga navigasi anggota tubuh saat melayang bebas tanpa tumpuan di tanah.

Scorpion Kick Bukan Cuma Milik Rene Higuita

Meskipun istilah scorpion kick melambung tinggi berkat René Higuita, ia bukanlah orang pertama yang memperagakan trik ini. Penyerang asal Paraguay, Arsenio Erico, diakui sebagai sosok perintis gerakan akrobatik tersebut ketika membela Independiente de Avellaneda melawan Boca Juniors pada 12 Agustus 1934.

Setelah menerima umpan silang dari Antonio Sastre, Erico yang awalnya berniat menyundul bola namun gagal menjangkaunya, secara spontan melempar tumit ke belakang dari udara untuk mencetak gol mengejutkan.

Awalnya gerakan ala Erico ini dijuluki balancín yang berarti jungkat-jungkit. Namun ketika Rene Higuita melakukan aksi serupa dengan cara lebih sempurna, gerakan menendang bola dengan tumit di udara disebut sebagai scorpion kick. Pasalnya, bentuk tubuh pemain yang melakukan gerakan ini menyerupai bentuk ekor kalajengking saat melakukan tendangan.

Dari era ke era, teknik scorpion kick terus diperagakan pemain berbeda, meski mayoritas mengeksekusinya dengan variasi satu kaki.

Jika Higuita menggunakan scorpion kick dua kaki untuk meredam ancaman di depan gawang, Olivier Giroud membuktikan bahwa variasi satu kaki dapat dikonversi menjadi gol spektakuler saat Arsenal menjamu Crystal Palace pada 1 Januari 2017.

SOC/

football soccer - arsenal v fc barcelona - uefa champions league round of 16 first leg - emirates stadium, london, england - 23/2/16barcelona's dani alves in action with arsenal's olivier giroudaction images via reuters / tony o'brienlivepiceditorial use only. tpx images of the day

Tak kalah memukau, Zlatan Ibrahimović juga pernah mencetak gol scorpion kick spektakuler ke gawang Bastia saat berseragam Paris Saint-Germain pada 2013. Berbeda dengan pemain lain, Ibrahimovic mengeksekusi tendangan kalajengking ini dengan berbekal teknik bela diri taekwondo. Ia menyepakkan tumit kaki kanan ke belakang-atas secara presisi tanpa harus menjatuhkan badan ke tanah.

Lantas, adakah perbedaan antara scorpion kick dua kaki dengan satu kaki? Mengambil contoh tendangan kalajengking Higuita dan Giroud, perbedaan itu terletak pada arah posisi badan dan cara mereka mengolah tenaga.

Higuita melompat ke depan dengan dada telungkup menghadap tanah untuk menyapu bola melengkung dari depannya, lalu mendarat telungkup menggunakan dua lengan sebagai peredam kejut utama.

Sebaliknya, Giroud berlari kencang membelakangi arah bola, melompat seraya melecutkan kaki kirinya ke belakang-atas untuk menjangkau umpan silang di belakang tubuhnya, lalu mendarat dengan kombinasi kaki dan bahu yang berguling di atas rumput.

Dari segi gaya dan distribusi tenaga, Higuita merapatkan kedua tumit demi menciptakan area halauan yang luas agar bola melambung jauh dari gawang. Sementara itu, Giroud cukup memakai satu tumit untuk membelokkan arah dan memanfaatkan momentum bola yang melaju kencang ke dalam gawang.

Tak dapat diabaikan, teknik pendaratan yang dilakukan Higuita dan Giroud juga berbeda. Higuita mendarat secara telungkup menggunakan tumpuan dua tangan sebagai peredam kejut. Giroud mendarat menggunakan tumpuan kaki dan bahu/punggung yang berguling untuk membagi gaya benturan.

Sepanjang kariernya, Rene Higuita kerap menunjukkan aksi yang bikin orang geleng kepala. Ia kerap aktif kelua dari area penalti untuk memberi tekanan kepada penyerang lawan.

Higuita juga bisa melakukan dribel, ikut mendistribusikan bola layaknya pemain lapangan, hingga menjajal tendangan bebas dan penalti. Di level internasional, Higuita total mencetak 3 gol dalam 68 penampilan bersama Timnas Kolombia.

Namun, scorpion kick di Stadion Wembley tetap menjadi puncak dari seluruh tindakan eksentrik kiper kelahiran 27 Agustus 1966 tersebut.

Dari kenekatan Higuita di Wembley hingga lecutan gol Giroud dan Ibrahimovic, tendangan kalajengking membuktikan bahwa sepak bola tidak cuma soal olah bola biasa.

Gerakan akrobatik yang menghibur sekaligus punya risiko besar buat cedera ini memadukan insting nekat, hukum fisika, dan refleks tubuh yang bekerja dalam hitungan sepersekian detik. Namun, risiko besar membuahkan hal besar pula. Semua variasi tendangan kalajengking, entah itu satu kaki atau dua kaki, menciptakan momen-momen paling ikonik yang terus dirayakan dunia sepak bola hingga hari ini.

Baca juga artikel terkait SAINS POPULER atau tulisan lainnya dari Ahmad Zidan Nahari

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Ahmad Zidan Nahari
Penulis: Ahmad Zidan Nahari
Editor: Fitra Firdaus