tirto.id - Ranjau Laut menjadi salah satu senjata senyap paling mematikan dalam sejarah perang maritim. Selain jadi strategi asimetris, senjata ini juga kerap difungsikan sebagai alat tekan geopolitik di kawasan-kawasan maritim strategis.
Iran menjadi salah satu negara yang aktif menggunakan ranjau laut. Dengan biaya produksi relatif rendah, senjata ini memiliki dampak besar. Bahkan, selain jadi bagian dari strategi untuk pertahanan pantai, teknologi ini juga kerap difungsikan untuk mengamankan kawasan maritim strategis, seperti di Selat Hormuz.
Sebagaimana dikutip di Islamic Republic News Agency, pada Sabtu (31/10/2026), satu unit kapal tanker bermuatan minyak dilaporkan terbakar setelah menabrak ranjau laut ketika berlayar melalui kawasan yang tidak diizinkan di Selat Hormuz sebelah selatan.
Kapal tersebut disinyalir telah menghiraukan peringatan radio yang dikeluarkan oleh Angkatan Laut IRGC. Menurut Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menekankan bahwa tidak akan ada kapal komersial atau kapal tanker yang mampu melintasi selat tersebut dengan aman tanpa izin dan pengawasan dari angkatan bersenjata Iran yang kuat.
Peringatan tersebut secara tidak langsung menegaskan bahwa Iran menerapkan kebijakan ketat dalam mengamankan kawasan-kawasan strategis mereka seperti Selat Hormuz.
Berkaitan dengan insiden tersebut, teknologi ranjau laut yang digunakan Iran juga akan sulit dideteksi oleh kapal tanker minyak komersial. Sehingga, ketika kapal tersebut melintasi kawasan tidak sah dan tidak memiliki izin, berisiko hancur seketika saat menabrak ranjau laut yang dipasang di perairan tersebut.
Mengenal Ranjau Laut dan Ragam Fungsinya
BerdasarkanNaval History and Heritage Command, ranjau laut adalah alat peledak mandiri yang ditempatkan di dalam air. Ketika ditabrak atau berada di radius tertentu, senjata ini dapat menghancurkan kapal selam dan kapal permukaan seketika.
Ranjau laut cukup masif digunakan militer maritim karena dapat mencegah musuh mengakses suatu wilayah atau mengisolasi musuh di lokasi tertentu. Senjata ini menjadi salah satu alat paling efektif dalam peperangan maritim.
Berdasarkan sejarahnya, ranjau laut sudah ada sejak Revolusi Amerika sekitar 1760-1770-an. Kala itu, pencipta kapal selam tempur pertama di dunia, David Bushnell, yang masih menjadi mahasiswa di Yale, menemukan bahwa bubuk mesiu dapat diledakkan juga di bawah air.
Desain awal senjata ini terdiri dari muatan bubuk mesiu dalam sebuah tong, yang ditopang oleh pelampung di permukaan. Meskipun tampak sederhana, di dalam tong tersebut terdapat sebuah mekanisme pengunci yang dipasang sedemikian rupa yang dapat memicu ledakan oleh benturan ringan.
Sejak saat itu, ranjau laut mulai mengalami perkembangan. Di Perang Dunia I, senjata ini digunakan untuk membatasi kapal selam Jerman di laut Utara. Sementara di Perang Dunia II, ranjau laut mulai digunakan secara luas untuk melumpuhkan ekonomi Jepang, lewat pesawat yang menanamkan lebih dari 12.000 ranjau di jalur pelayaran.
Lewat strategi tersebut, setidaknya AS telah menenggelamkan sekitar 650 kapal Jepang selama Perang Dunia II yang membuat pasokan maritim lawan jadi sangat terhambat.

Umumnya, ranjau laut dirancang untuk bersifat ofensif atau defensif. Di Perang Dunia II, ranjau banyak digunakan untuk pertahanan dalam mencegah musuh mengakses area tertentu. Namun, senjata ini juga difungsikan untuk menyerang yang dapat melumpuhkan musuh di perairannya sendiri.
Guna mencegah efek ledakan akibat benturan dengan ranjau laut, alat peledak ini diklaim dapat dinetralisir oleh dua kapal permukaan, dengan jarak aman, yang menyeret kabel melintasi ladang ranjau yang memutus kabel tambat ranjau.
Alat ledak ini juga bisa dicegah dengan cara diledakkan dari jarak aman oleh tembakan meriam. Dengan catatan, lokasi ranjau lautnya sudah terdeteksi atau terprediksi keberadaannya.
Sementara menurut Britannica, ranjau laut jadi alat peledak yang dirancang khusus untuk menghancurkan personel, kapal, atau kendaraan ketika bersentuhan dengan senjata tersebut. Ranjau ini dapat disebarkan oleh kapal penyebar di perairan atau dijatuhkan pesawat khusus.
Umumnya, ranjau laut berbentuk bola baja atau oval yang berisi cukup udara untuk memungkinkan alat tersebut mengapung di air. Kebanyakan ranjau ini mengandung sekitar 225 kg bahan peledak yang mudah meledak oleh sentuhan minim sekalipun berkat sistem khusus di dalamnya.
Dalam hal ini, ranjau laut juga ada yang dilengkapi perangkat kontak berupa batang atau antena menonjol, yang mengaktifkan mekanisme pemicu saat lambung kapal yang lewat menabraknya. Dengan mekanisme tersebut, ranjau pun dapat meledak seketika.
Ada pula ranjau magnetik yang dipicu oleh medan magnet kapal yang mendekat. Dengan begitu, alat ini akan sulit diantisipasi karena dapat tertarik oleh magnet kapal.
Akibat penggunaan ranjau laut yang sangat masif selama Perang Dunia II, sekitar 1.316 kapal Blok Poros tenggelam akibat alat tersebut, dan merusak 540 kapal lainnya. Catatan tersebut menjadikan ranjau laut sebagai senjata anti-kapal selam yang paling efektif.
Jenis-jenis Ranjau Laut dan Cara Kerjanya
Ranjau laut diklaim sebagai senjata yang paling hemat biaya dalam peperangan modern namun memiliki daya hancur yang cukup signifikan. Melansir Al Jazeera, umumnya senjata ini memiliki tiga jenis, yakni ranjau kontak, ranjau dasar laut, serta ranjau 'pintar' dan roket.
Ranjau kontak sendiri termasuk alat peledak dengan desain tradisional, seperti model M-08 yang banyak digunakan ketika Perang Dunia I. Alat peledak jenis ini biasanya ditambatkan ke dasar laut dan meledak ketika adanya kontak fisik dengan lambung kapal.
Adapun ranjau dasar laut seperti model Maham-2 diletakkan juga di dasar laut. Hanya saja, senjata ini akan meledak dipicu oleh sinyal akustik, magnetik, atau tekanan dari kapal yang lewat. Ranjau jenis ini terbilang sulit dideteksi dan lebih berbahaya ketimbang ranjau kontak karena ledakannya tidak memerlukan sentuhan fisik dari kapal.
Sementara paling mutakhir yaitu ranjau 'pintar' atau ranjau roket seperti EM-52. Meskipun tetap tertambat di dasar laut pada kedalaman hingga 200 meter, alat ini dapat mendeteksi kapal yang berlayar di atasnya, kemudian secara otomatis melepaskan roket yang menghantam bagian bawah kapal.
Terkait penempatan ranjau laut, para analis militer di Washington Institute for Near East Polity, mencatat bahwa penempatan ranjau-ranjau yang diklaim seperti oleh Iran yang tidak mengungkapkan soal penempatan ranjau mereka.
Kemungkinan, titik lokasi ranjau laut tersebut telah diperhitungkan secara strategis untuk mengeksplorasi geografi Teluk, yang dapat memaksa lalu lintas internasional agar masuk ke jalur-jalur sempit dan rentan.

Kondisi ini berkaitan juga dengan ketegangan politik di sekitar Selat Hormuz yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat. Saat IRGC menyatakan bahwa selat tersebut "tertutup" bagi musuh, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa militernya telah menghancurkan sekitar 28 kapal penyebar ranjau milik Iran.
Berkaitan dengan penempatan ranjau yang sulit diperkirakan, militer Angkatan Laut AS menerapkan metode pembersihan ranjau menggunakan sonar beresolusi tinggi untuk mendeteksi ranjau individual, serta "penyapu ranjau" yang menggunakan sistem mekanis atau magnetik untuk membersihkan alat peledak tersebut.
Sayangnya, Angkatan Laut AS justru merincikan kelalaian institusional yang menyebabkan penghentian aset MCM untuk membersihkan ranjau Iran, terutama di Selat Hormuz. Bahkan, helikopter MH-53E Sea Dragon yang jadi tulang punggu penyapu ranjau udara juga turut dihentikan.
Dalam konflik yang mencapai puncaknya di Selat Hormuz, AS justru bergantung pada kapal tempur kecil yang dibangun untuk operasi pesisir dan dilengkapi modul misi CMC (Medical Countermeasures).
Namun, kapal ini disebut sebagai "sasaran empuk" bagi rudal pantai atau kapal serang cepat. Sehingga, proses pembersihan rudal yang dilakukan AS terbilang lambat atau tidak efektif.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut internasional dan koridor perdagangan penting yang mendukung kemakmuran ekonomi regional dan global. Selat ini pun cukup penting bagi AS, sehingga mereka berupaya membersihkan ranjau-ranjau laut yang disebut ditempatkan secara strategis oleh Iran untuk melindungi kawasan tersebut.
Kekhawatiran AS tampaknya kembali terpacu setelah sebuah kapal tanker minyak mencoba melewati Selat Hormuz pada 31 Oktober 2026 lalu tiba-tiba terbakar setelah menabrak ranjau laut. IRGC menyebut kapal tersebut melewati kawasan tidak sah yang membutuhkan izin untuk melintasinya.
Kelebihan dan Kelemahan Ranjau Laut
Sejak Perang Dunia 1, ranjau laut menjadi senjata pengganda kekuatan yang efisien. Selain jadi salah satu senjata paling hemat biaya dalam persenjataan angkatan laut, alat ini juga sangat efektif dalam mengamankan sektor maritim karena sulit terdeteksi musuh, mudah disembunyikan, tidak memerlukan biaya perawatan, serta sangat mudah ditebar.
Salah satu keunggulan dari ranjau laut yang signifikan yaitu dapat mencegah pasukan musuh mengakses zona pesisir, atau berfungsi untuk mempertahankan target penting, seperti pelabuhan, tempat berlabuh, serta struktur lepas pantai dari serangan.
Terlebih, ranjau laut yang kebanyakan berukuran kecil namun memiliki daya hancur cup besar ini dapat dengan cepat melenyapkan kapal musuh, sehingga mengurangi efektivitas pasukan permukaan dan kapal selam.
Selain itu, ranjau laut yang telah dipasang juga terbilang sulit dilawan maupun dinetralisir. Sehingga, alat ini jadi salah satu senjata paling efektif sekaligus mematikan dalam perang maritim.
Lewat penggunaan ranjau ini, pihak penebar dimungkinkan dapat mengendalikan area operasional di dekat pantai dengan cara mengarahkan, memblokir, membelokkan, mengganggu, atau menunda pasukan lawan serta mencegah mereka mencapai tujuannya.

Lebih jauh lagi, kelebihan dari ranjau modern lebih efektif karena dapat secara aktif mendeteksi kapal musuh yang melintas di atasnya.
Meskipun terbilang terjangkau dari proses produksinya, biaya rendah ini tidak mencerminkan potensi bahaya yang ditimbulkannya. Fakta bahwa alat ini dapat mengenai siapa saja dapat jadi ancaman nyata penggunaan ranjau laut.
Kebanyakan, ranjau laut tidak bisa membedakan antara kapal perang musuh, kapal niaga/sipil, atau bahkan kapal milik sekutu/sendiri jika data atau areanya tidak dikontrol dengan baik.
Dengan kata lain, jika penggunaan ranjau ini tidak dikontrol dengan baik, terutama jenis ranjau laut yang sensitif terhadap gesekan, berisiko dapat menyerang siapa saja tanpa pandang bulu.
Selain itu, kelemahan dari alat peledak ini juga ada pada proses pembersihannya yang sangat sulit dan berbahaya. Perburuan ranjau yang dilakukan dapat menjadi boomerang tersendiri bagi kru, karena sifat alat tersebut yang tidak pandang bulu.
Bagi pelayaran sipil, keberadaan ranjau laut juga dapat mengancam karena alat tersebut tetap bisa aktif di dasar laut meskipun selama bertahun-tahun tidak meledak atau hilang jangkar.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































