tirto.id - Dalam satu bulan terakhir, Iran telah menyatakan kesiapan mereka untuk melanjutkan perang melawan Amerika Serikat (AS). Jika peperangan kembali pecah, para analis menilai ada kemungkinan cakupan pertempuran perang ini akan meluas, lebih dari yang sebelumnya terjadi.
Menukil CNN, salah satu komandan tentara Iran, Alireza Sheikh, baru saja menyatakan ancaman baru untuk AS. Dalam pernyataannya pada Sabtu (17/10/2026), Sheikh menyatakan bahwa Iran tidak gentar dengan kabar potensi penggunaan bom GBU-43/B oleh AS.
Sebelumnya, AS dilaporkan tengah menggodok taktik militer baru untuk melawan Iran dengan melibatkan bom tersebut. GBU-43/B merupakan bom non-nuklir terbesar yang kini dimiliki AS, ia kerap dijuluki MOAB atau “ibu dari semua bom”.
Alireza Sheikh menyebut pihaknya tak gentar dengan kabar penggunaan bom tersebut. Baginya, kabar tersebut merupakan serangan psikologis AS.
“Ini adalah alat propaganda yang dimaksudkan untuk mengintimidasi rakyat Iran,” katanya.
“Rakyat Iran adalah bapak dari semua bom,” lanjut Sheikh.
Pernyataan Alireza Sheikh itu merupakan salah satu pernyataan terbaru para pembesar militer Iran terkait perang. Setidaknya sebulan terakhir, mereka telah mengintensifkan pesan publik yang mengeklaim kesiapan Iran untuk memulai kembali pertempuran.
Pernyataan-pernyataan itu termasuk klaim bahwa Iran kini telah membangun kembali persediaan senjata dalam jumlah besar. Mereka mengeklaim persediaan militer baru ini akan siap digunakan untuk bertempur kapan saja.
Akhir September lalu, juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, bahkan menyebut Iran masih memiliki kemampuan militer untuk membuat “dunia tercengang”. Hal ini diungkapkannya sembari mengeklaim kemampuan Iran untuk memperluas target serangan.
“Kami memiliki target baru yang belum diserang,” katanya, sembari menekankan bahwa “perang belum berakhir” dan pihaknya telah bersiap untuk “perang jangka panjang”.
Kemudian, pada 11 Oktober lalu, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei membuat peringatan bahwa kekuatan militer pihaknya masih dapat melakukan serangan ke target-target baru di kawasan Teluk. Hal ini, katanya, akan termasuk fasilitas teknologi.
“Jika perang lain pecah, banyak kabel bawah laut, pusat data, fasilitas AI, dan infrastruktur lainnya di seluruh kawasan dapat dihancurkan,” katanya.
Sejak pecahnya peperangan pada Februari lalu, Iran telah memusatkan taktik militer mereka untuk menutup jalur pelayaran Selat Hormuz dan menargetkan fasilitas militer AS di wilayah Teluk. Serangan Iran ke fasilitas militer AS di negara-negara Teluk tak jarang berhasil dicegat, namun penutupan jalur pelayaran Hormuz telah menciptakan tekanan ekonomi global sejauh ini.
Pernyataan Rezaei pada 11 Oktober lalu itu mengindikasikan bahwa risiko dampak perang yang meluas ke luar wilayah Teluk juga masih bisa terjadi. Hanya saja, hal ini dapat terjadi jika Iran berhasil menyerang fasilitas teknologi penting di kawasan tersebut.
Ada Potensi Serangan Iran Meluas ke Eropa
Laporan CNN menyebut bahwa Iran kini mengisyaratkan telah memiliki doktrin militer baru yang lebih ofensif. Dengan doktrin ini, Teheran disebut tidak lagi menunggu untuk diserang, tetapi juga berpeluang untuk melancarkan serangan pendahuluan.
Spekulasi ini berkembang seiring pernyataan para pembesar militer Iran dan apa yang dilakukan IRGC sejauh ini. Pekan lalu, IRGC menyatakan telah melakukan latihan militer di seluruh negeri dan mendapat pencapaian untuk meluncurkan 30 rudal balistik sekaligus.
Farzin Nadimi, seorang peneliti senior bidang kebijakan luar negeri AS di lembaga Washington Institute, pernyataan yang ditampilkan IRGC belakangan ini merupakan sinyal bahwa pertempuran dapat berpotensi meluas, bahkan ke luar kawasan Teluk.
Hal itu, kata Nadimi, bisa dilakukan Iran jika pada akhirnya mulai menggunakan rudal jarak jauh lintas kawasan. Menurut peneliti itu, Eropa dapat menjadi target potensial mengingat AS memiliki sejumlah fasilitas militer di kawasan ini, termasuk pangkalan udara AS di Inggris dan pusat logistik AS di Ramstein, Jerman.
“Namun, Iran kemungkinan akan menyimpan kemungkinan itu untuk tingkat eskalasi yang sangat tinggi,” katanya.
Sementara itu, pada awal Oktober, AS secara mendadak menarik seluruh pesawat pengebom dari pangkalan udara Inggris yang mereka gunakan di Gloucestershire. Hal ini dilakukan dalam beberapa hari usai terungkapnya dugaan upaya pemboman pangkalan tersebut oleh orang tidak dikenal pada akhir September.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id































