tirto.id - Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempertimbangkan penggunaan bom non-nuklir terbesar di gudang senjata mereka untuk menggempur Iran. Jika betulan digunakan, hal ini akan menjadikan eskalasi konflik AS dengan Iran pada tahap yang signifikan, kendati beberapa pihak meragukan efektivitasnya.
Pada Kamis (15/10/2026), CNN melaporkan bahwa militer AS kini tengah menggodok rencana serangan dengan melibatkan bom non-nuklir terbesar itu. Bom yang dimaksud adalah GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB), atau yang populer dijuluki mother of all bombs (induk dari semua bom).
Sejumlah pejabat AS yang tak disebut identitasnya mengungkapkan hal tersebut kepada CNN. Mereka mengatakan bom itu kemungkinan akan digunakan untuk menargetkan infrastruktur energi dan situs nuklir Iran.
Para pejabat itu juga menjelaskan bahwa serangan ini dapat terjadi jika Presiden AS Donald Trump memberi perintah untuk melanjutkan pertempuran, baik sebelum maupun sesudah pemilihan paruh waktu di sana. Hal ini bertentangan dengan pernyataan publik Trump yang menyebut ia tak akan mengambil tindakan baru sebelum pemilu paruh waktu.
Penggunaan MOAB digambarkan sebagai alternatif yang kini dimiliki Trump di tengah desakan untuk mengakhiri perang melawan Iran. Alternatif tersebut juga disebut muncul setelah para pejabat di Gedung Putih mulai membicarakan opsi serangan yang dapat benar-benar mengakhiri perang.
Perang yang kini berlangsung lebih dari tujuh bulan tersebut pecah setelah AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 dan menciptakan gejolak ekonomi global imbas terganggunya rantai pasok energi dunia.
Dalam sebuah wawancara untuk Newsmax pada Kamis, Trump juga mengindikasikan potensi penggunaan MOAB secara publik. Ia menjelaskan bom tersebut sebagai bom dengan kekuatan besar, meski tak sebesar nuklir.
“Ini sama sekali bukan nuklir, ini hanya bom yang sangat besar. Ini seperti bom nuklir kecil. Tetapi ‘induk dari semua bom’ adalah salah satu bom besar,” kata Trump.
Keterangan itu dikeluarkan Trump ketika membantah adanya niat AS untuk menggunakan bom nuklir dalam perang melawan Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa nuklir tak diperlukan dalam perang ini.
“Saya tidak akan menggunakan nuklir, kita tidak memerlukannya,” katanya.
Berpotensi Digunakan, tapi Efektivitasnya Dipertanyakan
Kendati rencana penggunaan MOAB tengah digodok militer AS, namun sumber anonim CNN mengungkapkan penggunaan bom tersebut turut dipertanyakan. Sumber itu menyatakan keraguan atas efektivitas bom yang turut muncul dalam pembicaraan mengenai potensi penggunaan MOAB.
Keraguan itu berkisar pada ketidaktahuan Washington apakah ledakan MOAB dapat menjangkau target tingkat tinggi yang terkubur jauh di bawah tanah. Hal ini mengingat laporan intelijen AS menunjukkan bahwa fasilitas nuklir Iran berada jauh di dalam tanah berlapis granit.
Selain itu, daya ledak MOAB juga dikhawatirkan akan menciptakan kemungkinan korban sipil yang besar. Media DW menyebut efek kejut bom ini dapat meratakan area dengan diameter 150 meter. Dengan daya ledak tersebut, kemungkinan jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar hampir pasti terjadi jika digunakan untuk menarget infrastruktur dengan area non-militer macam pemukiman.
Namun, kekhawatiran akan efektivitas MOAB kini tampaknya bersaing dengan kepentingan politik pemerintahan Trump jelang pemilu paruh waktu pada November.
Selama beberapa pekan terakhir, para pejabat tinggi pemerintah Trump dan para perencana militer mereka dilaporkan telah berupaya untuk menemukan jalan keluar dalam perang melawan Iran. Mereka berupaya memberi Trump semacam “kemenangan simbolis” yang dapat dicoba untuk mendongkrak perolehan suara Partai Republik dalam pemilu.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































