Menuju konten utama

Tertekan Sinyal Pelonggaran Sanksi AS, Harga Minyak Melemah

Hal ini dipicu ancaman pasokan akibat eskalasi serangan kapal di Selat Hormuz dan langkah AS yang berencana meringankan beban biaya angkut minyak.

Tertekan Sinyal Pelonggaran Sanksi AS, Harga Minyak Melemah
kapal-kapal yang berlayar di dekat Selat Hormuz, di lepas pantai timur Uni Emirat Arab tepatnya di Khor Fakkan, pada 13 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menyatakan pada 13 Juli bahwa Amerika Serikat akan "mengambil alih" Selat Hormuz dan akan dibayar untuk melindunginya, di tengah kembali memanasnya perselisihan antara Washington dan Teheran terkait jalur perairan vital tersebut. Foto/AFP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada perdagangan awal Kamis (15/10/2026), harga minyak mentah merosot lebih dari 1 dolar AS. Penurunan ini terjadi karena para pelaku pasar menimbang dua sentimen yang saling berlawanan, yakni ancaman pasokan akibat eskalasi serangan kapal di Selat Hormuz dan langkah Amerika Serikat yang berencana meringankan beban biaya angkut minyak lewat pelonggaran sanksi kapal.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent terpangkas sebesar 1,39 dolar AS (1,31 persen) ke level 104,67 dolar AS per barel pada pukul 01.16 GMT.

Kondisi serupa dialami oleh kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang melemah 1,02 dolar AS (1,07 persen) menjadi 94,07 dolar AS per barel, sekaligus menghapus seluruh perolehan positif dari sesi perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, WTI sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan menyusul serangan kelompok Houthi ke markas besar Saudi Aramco serta pernyataan Iran yang siap mengerahkan strategi anyar demi melumpuhkan kapal-kapal di Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi.

Berdasarkan laporan otoritas maritim pada Rabu lalu, dua armada, masing-masing satu kapal kontainer dan satu kapal muatan curah, dilaporkan karam di sekitar perairan selat tersebut dalam kurun waktu 24 jam terakhir usai dihantam proyektil dalam peristiwa yang terpisah.

Intensitas serangan di jalur perairan strategis itu melonjak drastis sepuluh hari belakangan. Pihak Iran menegaskan bahwa eskalasi serangan ini merupakan bentuk balasan atas blokade pelabuhan mereka oleh AS serta pengetatan sanksi yang disahkan bulan lalu.

Di tengah situasi perang Iran yang telah mengacaukan jalur distribusi dan melambungkan biaya logistik ke titik tertinggi, seorang pejabat AS mengungkapkan pada Rabu bahwa pemerintahan Trump tengah mengkaji pelonggaran sanksi bagi kapal-kapal yang tergabung dalam armada bayangan (shadow fleet).

Langkah ini bertujuan untuk memfasilitasi kembali distribusi komoditas minyak dari sejumlah negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela demi meredam lonjakan harga. Pejabat tersebut menyampaikan pembahasan terkini berfokus pada kemungkinan Washington memberikan lampu hijau bagi 'minyak legal' untuk disalurkan melalui armada kapal yang sebelumnya sempat diblokir sanksi.

Di sisi lain, bertambahnya volume pasokan dari kawasan Timur Tengah dan Rusia turut berfungsi sebagai peredam lonjakan harga. Laporan Badan Energi Internasional (IEA) pada hari Rabu menunjukkan bahwa produksi minyak mentah Rusia mengalami kenaikan sebesar 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari, kendati secara tahunan masih membukukan koreksi sebesar 870.000 barel per hari.

IEA juga mencatat adanya lonjakan ekspor minyak mentah dari para produsen di Teluk Timur Tengah sebesar 4,4 juta barel per hari pada September, yang kini telah pulih mencapai sekitar 75 persen dari kapasitas di era praperang.

Sementara itu, merujuk pada data American Petroleum Institute (API) yang dirilis sumber pasar pada hari Rabu, persediaan minyak mentah dan produk distilat di AS dilaporkan menyusut, sementara stok bensin justru bertambah pada pekan lalu.

Cadangan minyak mentah tercatat berkurang hingga 11,1 juta barel per pekan yang berakhir pada 9 Oktober. Angka penurunan tersebut jauh melampaui proyeksi para analis yang dihimpun oleh Reuters.

"Meskipun terjadi penurunan persediaan yang tajam, harga minyak nyaris tidak bereaksi. Kegagalan untuk naik di tengah berita yang bersifat bullish ini menunjukkan bahwa para investor bersikap hati-hati dalam mengejar harga yang lebih tinggi pada level saat ini," tulis Haitong Futures dikutip dari Reuters.

Data resmi terkait stok energi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan rilis pukul 12 siang EDT (1600 GMT), setelah sempat mengalami pengunduran jadwal selama sehari akibat libur Hari Columbus pada hari Senin.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK MENTAH HARI INI atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama