tirto.id - Militer Rusia dilaporkan mulai menggunakan pesawat nirawak (UAV) serang jarak jauh jenis Geran-5 dalam serangan terhadap Ukraina pada 2026.
Drone bermesin turbojet ini memiliki kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah model Geran sebelumnya dan diperkirakan mampu membawa hulu ledak seberat sekitar 90 kg.
Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina mengumumkan penggunaan Geran-5 pada 11 Januari 2026. Berdasarkan analisis yang dipublikasikan otoritas Ukraina, drone tersebut memiliki kecepatan jelajah sekitar 450–600 km per jam dan jangkauan hingga sekitar 950 km.
Angka-angka tersebut merupakan estimasi yang dilaporkan intelijen Ukraina. Ukraina juga menyatakan bahwa Geran-5 menggunakan mesin turbojet Telefly TF-TJ2000A buatan Tiongkok.
Berbeda dari banyak drone Shahed/Geran sebelumnya yang menggunakan desain sayap delta, Geran-5 memiliki konfigurasi aerodinamis konvensional.
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa dua unit drone tersebut diduga ditembak jatuh di dekat Kyiv dan Dnipro pada Januari 2026. Analisis puing yang dipublikasikan Ukraina mengidentifikasi komponen elektronik yang berasal dari Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jerman.
Dengan mempertimbangkan kecepatan, jangkauan, dan kapasitas hulu ledaknya, para ahli menilai Geran-5 berpotensi menambah tekanan terhadap sistem pertahanan udara Ukraina.
Membandingkan Drone Geran 5 Rusia dengan Shahed Iran
Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina (GUR) memperkirakan jangkauan Drone Geran-5 mencapai sekitar 950 km dengan hulu ledak seberat 90 kg. Drone tersebut juga disebut memiliki kemiripan desain dengan Karrar, drone serang buatan Iran. Sementara Geran edisi sebelumnya berdesain seperti drone Shahed Iran.
Dari segi kecepatan, Geran-5 diperkirakan mampu mencapai 450–600 km/jam. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kecepatan sejumlah model Geran sebelumnya, termasuk Geran-2 yang menggunakan mesin piston.
Sementara itu, Geran-3 dilaporkan memiliki kecepatan yang dapat mencapai sekitar 330 km/jam. Dengan kemampuan tersebut, Geran-5 berpotensi memberikan tantangan tambahan bagi sistem pertahanan udara yang harus mendeteksi dan mencegatnya dalam waktu terbatas.
Menurut analisis GUR, Geran-5 menggunakan konfigurasi aerodinamis konvensional sehingga bentuknya lebih menyerupai pesawat terbang pada umumnya dibandingkan drone bersayap delta. Pesawat nirawak ini diperkirakan memiliki panjang sekitar 6 meter dan bentang sayap sekitar 5,5 meter. Dari segi jangkauan, drone tersebut dilaporkan mampu terbang hingga sekitar 950–1.000 kilometer.
"Drone ini memiliki hulu ledak seberat sekitar 90 kg dan jangkauan yang diperkirakan mencapai 1.000 km," demikian keterangan GUR dikutip Business Insider.
Berbeda dari sejumlah model Geran terdahulu yang dikembangkan berdasarkan teknologi drone Shahed Iran, Geran-5 memiliki karakteristik desain dan sistem penggerak yang berbeda. Drone ini menggunakan mesin turbojet, bukan mesin piston seperti yang digunakan Shahed-136. Perbedaan tersebut memungkinkan Geran-5 mencapai kecepatan lebih tinggi.

Dibandingkan Shahed-136 yang menggunakan mesin piston dan mengandalkan kecepatan relatif rendah untuk mencapai sasaran, Geran-5 memiliki karakteristik penerbangan yang lebih menyerupai pesawat bermesin jet. Kecepatan yang lebih tinggi berpotensi mengurangi waktu respons sistem pertahanan udara.
"Sebelumnya, Shahed biasa terbang lebih rendah – satu atau 1,5 kilometer (di atas tanah) dan kami bisa mengatasinya,” kata Vasyl, seorang operator roket Ukraina, dikutip dari Straits Times.
"Tetapi drone bertenaga jet sekarang terbang pada jarak empat, lima, bahkan tujuh kilometer. Tidak realistis bagi kami untuk menjatuhkannya,” kata pria berusia 26 tahun itu.
Geran-5 juga dilaporkan mampu membawa hulu ledak sekitar 90 kilogram. Kapasitas ini membuatnya berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan terhadap sasaran tertentu.
Dari sisi navigasi, GUR menyebut Geran-5 menggunakan modem 3G dan 4G serta sistem navigasi satelit Kometa dengan 12 kanal. Sistem tersebut dilaporkan menjadi bagian dari perangkat navigasi dan kendali drone.
Kemunculan drone Geran 5 yang menimbulkan kerusakan sangat signifikan ini sontak menimbulkan kekhawatiran bagi warga Ukraina yang menilainya sebagai ancaman baru yang sangat meresahkan, terutama dalam konflik Rusia-Ukraina.
Baru-baru ini, merespons kekhawatiran yang terus menjalar, pasukan Ukraina akhirnya menciptakan drone pencegat STING S Ukraina yang diyakini bisa menembak jatuh drone bertenaga jet Geran 5 Rusia.
Rekam Jejak Inovasi Drone Geran 5 Milik Rusia
Drone Geran-5 milik Rusia adalah evolusi tingkat lanjut dari model Shahed Iran yang jauh lebih radikal. Pasalnya, seri ini menjembatani fungsi antara drone Kamikaze tradisional dengan rudal jelajah murah, tetapi mampu menghasilkan kecepatan sangat tinggi serta daya rusak lebih besar.
Berbeda dari seri Geran sebelumnya yang sama-sama berdasarkan desain model Shahed dengan sayap delta lambat berbaling-baling, seri Geran-5 lebih mengadopsi mesin jet dan desain aerodinamis menyerupai rudal.
Geran 5 awalnya diyakini dikerahkan Rusia pertama kali ke medan tempur dengan menyerang Ukraina pada awal Januari 2026. Hadir dengan daya hancur dahsyat, seri ini sontak mengejutkan pertahanan udara Ukraina karena memiliki kecepatan yang melonjak drastis dari pendahulunya.
Dari rekam jejaknya, Geran 5 ini diawali dari Geran-1 yang berbasis pada Shahed-131 milik Iran. Menggunakan mesin piston dengan ukuran lebih kecil, seri ini diperkirakan mampu membawa hulu ledak yang relatif kecil, yakni mencapai 15-20 kg. Bahkan, jangkauan serangannya juga terbatas karena biasanya hanya digunakan sebatas untuk menguji pertahanan udara musuh atau menyerang target taktis.

Perubahan serangan udara Rusia nirawak terjadi saat mereka menciptakan Geran-2 yang berbasis pada Shahed-136. Seri ini mulai menampakkan perkembangan cukup signifikan dengan kecepatan jelajah mencapai 185 km/jam ditambah hulu ledak yang meningkat jadi 40-50 kg.
Geran-2 tampaknya jadi titik awal Rusia terus mengembangkan inovasi dari rudal jelajah tanpa awak. Geran-3 jadi era transisi mesin jet yang dipamerkan Moskow pada pertengahan 2025 lalu. Seri ini menggunakan mesin turbojet (Telefly) dengan kecepatan meningkat jadi 370-500 km/jam.
Inovasi seri ini berlanjut lagi lewat Geran-4 yang jadi varian penyempurnaan aerodinamis. Seri keempat ini dirancang khusus untuk optimalisasi efisiensi bahan bakar jet agar jangkauan terbangnya bisa lebih jauh dibandingkan seri ketiga.
Akan tetapi, dari perjalanan inovasi kekuatan militer Rusia, Geran 5 tampaknya menggunakan mesin terkini. Sama-sama dibuat dengan relatif murah, seri ini menggunakan desain berbentuk silinder dengan sayap lurus menyerupai rudal jelajah kecil.
Selain itu, Geran 5 juga dirancang memiliki fitur lebih canggih menggunakan pelacak berbasis mikrokomputer Raspberry Pi, modem jaringan radio MES, serta modem 3G/4G yang memungkinkannya bisa diluncurkan dari udara menggunakan pesawat tempur seperti Su-25.
Andalan Baru Rusia untuk Serangan Udara
Melansir Politico, pada bulan Mei lalu, pemerintah Rusia telah menyetujui rencana Rosatom untuk membangun jalur produksi baru di pabrik Alabuga-Volokno yang digunakan untuk mewujudkan produksi drone pembunuh berskala besar dengan biaya murah.
Rencana tersebut mulai banyak diperbincangkan usai Rusia memamerkan drone Geran-5 yang memiliki kecepatan tinggi ala rudal jelajah dengan jangkauan jauh dan daya rusak jauh lebih besar dari pendahulunya. Inovasi tersebut tentu jadi momentum bagi Rusia untuk menegaskan dominasi kekuatan militernya, terutama terhadap Ukraina.
Berdasarkan laporan lembaga think tank yang berbasis di Ukraina, Ukrainian Security and Cooperation Centre, Rusia berencana memproduksi drone pembunuh dalam jumlah 130.000 drone untuk proyek nasional pada tahun 2030. Moskow juga berupaya meningkatkan produksi serat karbon dalam negerinya yang jadi komponen penting rudal jelajah buatannya. Tujuannya tidak lain agar Rusia mengurangi ketergantungannya pada impor dari Cina.
Langkah tersebut diambil sebagai upaya meningkatkan jumlah produksi drone naik lebih dari dua kali lipat mencapai 350.000 pada tahun 2035. Dalam prosesnya, pabrik Alabuga-Volokno akan ikut andil yang jadi sumber substitusi impor produk dwiguna sekaligus memenuhi permintaan sektor strategis Rusia akan serat karbon.

Menurut Fabian Hinz, analis teknologi rudal dan pesawat nirawak dari International Institute for Strategic Studies (IISS), kemunculan Geran-5 menunjukkan bahwa Rusia mulai mengembangkan drone serang berkecepatan tinggi untuk menghadapi peningkatan kemampuan pertahanan udara Ukraina.
Dalam analisisnya yang diterbitkan pada 28 Januari 2026, Hinz menjelaskan bahwa kecepatan Geran-5 berpotensi menyulitkan upaya pencegatan, terutama karena sejumlah drone pencegat Ukraina saat ini memiliki kecepatan sekitar 200–300 km/jam.
Hinz juga menyoroti persoalan biaya dan kapasitas produksi. Menurutnya, drone serang berbiaya relatif rendah seperti Geran-5 merupakan bagian dari tren pengembangan senjata menyerupai rudal jelajah yang dapat diproduksi dalam skala besar dengan waktu pengembangan lebih singkat.
Di sisi lain, sistem pencegat yang lebih cepat dan mampu menghadapi drone bermesin jet membutuhkan teknologi yang lebih canggih, sehingga berpotensi lebih mahal dan memerlukan waktu lebih lama untuk diproduksi. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap pertahanan udara Ukraina sekaligus menjadi tantangan bagi perencanaan pertahanan negara-negara Eropa.
Secara tidak langsung, konflik saat ini mengubah peperangan antara Rusia-Ukraina jadi medan uji coba senjata otonom berbiaya rendah, peperangan elektronik, kecerdasan buatan, serta pertahanan udara berbasis jaringan.
Menurut Wakil Direktur Program Eropa, Rusia, dan Eurasia di CSIS, Nicholas Fenton, menyebut bahwa Moskow mulai melancarkan eskalasi secara bertahap menjadi lebih luas tak hanya menargetkan Ukraina saja. Dapat dilihat pada awal September 2026, Rusia telah melancarkan serangan tak berawak terhadap kereta penumpang di dekat perbatasan Polandia dan serangkaian perang hibrida di Eropa.
Fenton menyebut Moskow memiliki "nafsu yang signifikan" untuk meningkatkan konflik baik di Ukraina maupun di Eropa.
“Terlepas dari hasil politik apa pun terkait solusi diplomatik untuk Ukraina, kami tidak melihat Rusia akan mengurangi ketegangan militernya terhadap NATO atau terhadap Eropa. Kami percaya bahwa kepemimpinan rezim saat ini di Rusia berkomitmen untuk konfrontasi dengan Barat,” ujar Fenton.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































