Bagaimana Efek Rumah Kaca Mundur Sebagai Delegasi Bekraf untuk SXSW

Oleh: Husein Abdulsalam - 7 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Efek Rumah Kaca tadinya hendak mewakili Bekraf untuk manggung di festival South by Southwest (SXSW) 2018, akan tetapi akhirnya batal karena masalah tiket dan kuota.
tirto.id - "Kami sudah e-mail ke Bekraf. Dengan ketentuan ini dan ada persoalan tiket, akhirnya Efek Rumah Kaca menarik diri dari Bekraf. Kami pakai biaya sendiri untuk ke SXSW 2018."

Kalimat tersebut diucapkan Manajer ERK, Dimas Ario, sebagai pernyataan resmi penarikan diri selaku delegasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk tampil di festival South by Southwest (SXSW) 2018. Keputusan ini diambil setelah pihaknya menemukan kejanggalan dana pembelian tiket. Meski demikian, ERK tetap bakal tampil di festival tersebut dengan biaya sendiri.

SXSW merupakan festival seni kreatif dan teknologi tahunan yang digelar di Austin, Texas, Amerika Serikat (AS). Tahun ini Bekraf berencana mengirim enam usaha rintisan (start up) dan tiga grup musik, termasuk ERK, ke festival yang telah berumur 30 tahun tersebut. Jika terealisasikan, maka ini jadi tahun kedua lembaga pemerintah nonkementerian tersebut mengirimkan delegasi.

Awal Mula

Lewat sambungan telepon, Dimas Ario mengatakan mulanya ERK dan tim mengeluh soal jatah dan jadwal tiket. Untuk setiap kelompok, Bekraf menyediakan lima tiket pergi-pulang Jakarta-Austin serta membatasi kunjungan 10 hari atau hanya selama SXSW 2018 berlangsung.

"Lima tiket yang disediakan Bekraf itu hanya bisa untuk rute Jakarta-Austin dan Austin-Jakarta. Tidak bisa untuk ke kota lain. Misalnya kami ingin manggung di New York, lalu kami pulang ke Jakarta dari New York, itu tidak bisa," ujar Dimas, Selasa (6/3/2018).

Cholil Mahmud, vokalis ERK, mengatakan SWSX 2018 merupakan kesempatan pertama grupnya "manggung di luar Asia Tenggara." Kesempatan emas itu tidak ingin dilewatkan hanya untuk tampil di satu tempat saja. ERK juga ingin tampil di sejumlah kota lain di AS, yang tentu saja mensyaratkan waktu kunjungan melebihi yang ditetapkan Bekraf.

Dimas bilang kalau awalnya Bekraf menyanggupi untuk memfasilitasi, meski "ada biaya yang harus diganti kalau kami pulangnya mau lebih lama." Namun ia terkejut ketika tahu harga tiket yang dialokasikan ternyata jauh lebih mahal, lebih dari dua kali lipat harga normal.


Dimas mengatakan awalnya delegasi Bekraf bakal menggunakan EVA Air dengan harga tiket Jakarta-Austin sebesar $3.448,21 (setara Rp47,3 juta) dan Austin-Jakarta sebesar US$3.782,21. Kemudian dibatalkan dan menggunakan China Airlines dengan tiket lebih murah, Rp32 juta. (Ralat 7 Maret pukul 9.53, kalimat pertama sebelumnya tertulis "delegasi Bekraf bakal menggunakan China Airlines")

Sebagai gambaran, di Google Flight, penerbangan Jakarta Austin dengan maskapai China Airlines hanya Rp18 juta.

Menurut Dimas, Bekraf tidak menjawab secara tegas kenapa ada perbedaan yang begitu jauh antara harga tiket yang mereka tawarkan dengan yang tertera di internet. Bekraf, menurut Dimas, hanya mempersilakan ERK mencari tiket yang lebih murah dari itu dan kemudian memberikan reimburse. Namun, kuota lima orang per kelompok tetap tidak bisa diubah.

"Bekraf punya dana yang cukup untuk kami tampil dengan personel lengkap. Uang itu [biaya tiket yang lebih mahal dari yang ada di internet] bisa digunakan untuk hal lain," sebut Dimas.

Cholil pun demikian. Ia menilai kebijakan pembatasan kuota dan harga tiket aneh. Untuk yang terakhir, menurut Cholil, harusnya Bekraf bahkan bisa mendapat harga yang lebih rendah ketimbang tarif normal karena membeli menggunakan corporate/commercial rate dan dalam jumlah besar.

"Kami mengadu ke komite [panitia pemberangkatan]. Mereka bilang yang menentukan harga itu Bekraf. Masalahnya harga dari Bekraf itu untuk memberangkatkan lima orang, padahal bisa untuk 10 orang. Ini kan lucu," sebut Cholil, yang saat ini tengah berada di AS untuk menemani istrinya yang sedang studi doktoral.

"Bekraf begitu kaku mengenai peraturan band lima orang. Kami semua satu suara [menilai] itu ngga oke. Kami memutuskan untuk keluar dengan risiko kekurangan dana." tambah Cholil.

Tanggapan Bekraf

Wakil Kepala Bekraf, Ricky Pesik, mengatakan dana yang digelontorkan Bekraf untuk mengirim delegasi ke SXSW 2017 dan 2018 sama besarnya. Bekraf sedari awal telah menyatakan hanya bisa membiayai lima orang per kelompok, dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

"Dananya sangat terbatas. Karena anggaran tidak berubah, kami hanya bisa membiayai lima orang per grup," ujar Ricky.


Jika permintaan ERK menambah jatah tiket disetujui, dikhawatirkan itu akan membuat iri kelompok lain.

"Saya punya power untuk bilang Deputi Pemasaran Luar Negeri Bekraf untuk memberikan 10 tiket kepada ERK. Tapi, apa itu fair bagi grup lain?"

Soal harga tiket yang jauh lebih mahal, Ricky beralasan hal itu terjadi karena tiket pesawat yang dibeli Bekraf berkategori fleksibel.

"Kalau di pemerintahan, kalau kami pesan tiket ekonomi, tanggalnya tetap atau tidak bisa diubah. Ketimbang ada masalah, kami beli tiket yang lebih mahal. Tapi, dengan itu pemegang tiket bisa mengubah tanggal. Kalau ada pembatalan atau delay, pemegang tiket dijamin dapat penerbangan pengganti," ujar Ricky.

Saat ditanya soal kebijakan reimburse yang sempat ditawarkan Bekraf sebagai jalan tengah, Ricky mengaku tidak tahu soal hal tersebut. "Saya akan klarifikasi segera," imbuhnya.

Kini, meski ERK sudah mengajukan pembatalan, Bekraf menyatakan grup band tersebut tetap berhak atas lima tiket yang telah disediakan. "Kementerian Keuangan lewat Kantor Perbendaharaan Negara yang membayar langsung ke pihak agen perjalanan," tutup Ricky.

Baca juga artikel terkait BADAN EKONOMI KREATIF atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Rio Apinino