Asal Usul Tradisi Tatung Cap Go Meh: Sejarahnya di Kalimantan Barat

Oleh: Alexander Haryanto - 26 Februari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah, tradisi dan asal usul tatung yang dilakukan menjelang Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat.
tirto.id - Bagi orang Tionghoa, perayaan Cap Go Meh 2021 dilaksanakan pada hari ini, Jumat, 26 Februari 2021. Hari raya ini dilakukan 15 hari setelah Imlek atau Tahun Baru Cina yang sudah digelar pada 12 Februari 2021 lalu.

Biasanya, nyaris setiap perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimatan Barat, selalu disertai dengan pawai tatung. Pagelaran yang dilakukan setiap satu tahun sekali ini bahkan mampu menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Namun, pada Cap Go Meh 2021, Pemkot Singkawang memastikan tidak ada pawai tatung mengingat sekarang sedang masa pandemi Covid-19.


Apa Itu Tradisi Tatung dan Bagaimana Asal Usulnya?

Sebagaimana tertuang dalam buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia oleh Fitri Haryani NasuXon disebutkan tradisi tatung berasal dari Singkawang yang dilakukan menjelang perayaan Cap Go Meh.

Tradisi tatung ini berawal dari kedatangan etnis Tionghoa ke Indonesia pada abad ke-4. Mayoritas dari mereka ini berasal dari suku Hakka atau Khek dari Tiongkok Selatan yang merantau ke Pulau Kalimatan (Borneo).

Waktu itu, Sultan Sambas mempekerjakan mereka di tambang emas Montedaro dan mereka mendiami sebuah perkampungan di Kalimantan Barat selama bertahun-tahun. Suatu ketika, warga setempat terkena wabah penyakit.

Menurut kepercayaan warga, wabah itu berasal dari toh jahat. Maka daripada itu, mereka pun melakukan ritual tolak bala. Ini adalah cikal bakal dari tradisi tatung. Ritual tolak bala ini dalam bahasa Hakka disebut Ta Ciau. Tujuan utama dari tatung ini adalah membersihkan roh jahat dan segala kesialan di kota.


Syarat, Rahasia dan Ciri-ciri Orang Bisa Tatung

Dalam bahasa Hakka, tatung berarti orang yang dimasuki roh leluhur atau dewa-dewa. Roh itu dipanggil dengan mantra tertentu untuk merasuki tubuh seseorang. Tradisi tatung sangat unik, menyeramkan dan menjadi pawai terbesar di dunia sehingga mampu menarik minat para turis.

Orang yang sudah dirasuki ini akan menusukkan benda tajam ke tubuhnya, biasanya dengan besi, paku, kawat, pedang, pisau dan benda tajam lainnya. Namun demikian, untuk menjadi tatung, tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, karena pada umumnya diwariskan secara turun temurun.

Sebelum menjadi tatung, mereka harus berpuasa, tidak boleh memakan daging dan berhubungan badan dengan pasangannya minimal satu minggu. Di sisi lain, para calon tatung juga diharuskan untuk melempar kayu. Apabila kayu yang dilempar memunculkan dua sisi yang sama secara berurutan, maka mereka boleh menjadi tatung.


Baca juga artikel terkait TATUNG atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight