Asal Muasal Lambang Binatang di Zodiak Cina

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 30 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Zodiak binatang dibawa ke Cina dari India melalui jalur sutra sekalian penyebaran paham Buddha ke Cina, lalu tersebar ke seluruh dunia.
tirto.id - Zodiak Cina atau Shio merepresentasikan 12 binatang untuk memprediksi masa depan dan peruntungan seseorang berdasarkan tahun lahirnya.

Budaya ini sudah dikenal oleh Bangsa cina sejak 500 tahun sebelum Masehi dan dilanggengkan sampai hari ini.

Menjelang Imlek, orang Cina berbondong-bondong mencari Shio atau Zodiak Cina untuk melihat peruntungannya sepanjang tahun.

Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam Jantan, Anjing, dan terakhir Babi adalah 12 binatang yang muncul dalam lingkran zodiak Cina.

Dilansir dari Things Asian, zodiak Cina dibuat berdasarkan pergerakan bulan dan masing-masing binatang menandai tahun.

Zodiak ala barat menggunakan gari waktu linier, maka zodiak Cina menggunakan garis waktu lingkaran edar (cycler), seperti bulan.

Sejarah dan asal usul kedua belas binatang tersebut menjadi sebuah legenda fantasi di Cina dengan cerita pada Zaman Kaisar Giok yang pada waktu itu tinggal di surga dan mengundang para binatang untuk memilih 12 diantaranya menjadi Penjaga Surga.

Ke-12 binatang ini datang paling awal dan didapuk menjadi Penjaga Gerbang Surga dan lambang sistem penanggalan Cina sampai sekarang.

Dilansir dari Thought.co, sejarah munculnya zodiak Cina ini agak sulit diprediksi, namun sebuah artefak berisi puisi dari Dinasti Tang (618-907 Masehi) menyatakan bahwa shio terkenal pada masa itu.

Artefak-artefak lainnya berasal dari Priode Perang (475-221 Sebelum Masehi) suatu masa dimana Cina Raya belum bersatu dan klan-klan besar saling bertarung untuk jadi penguasa.

Tertulis bahwa Zodiak binatang tersebut dibawa ke Cina dari India melalui jalur sutra sekalian penyebaran paham Buddha ke Cina.

Namun, beberapa menyanggah dengan teori bahwa ahli perbintangan kuno mengikuti gerak planet Jupiter yang bergerak mengelilingi bumi dalam 12 tahun.

Teori lainnya menyatakan, munculnya zodiak ini berdasarkan Bangsa Nordik di Cina Kuno yang membuat sistem penanggalan berdasarkan hewan yang mereka buru.

Terlepas dari semua spekulasi tentang sejarah shio tersebut, penggunaan binatang sebagai penanda tahun secara turun temurun digunakan masyarakat Cina untuk menandai tahun lahir seseorang.

Tidak hanya menandai tahun, kedua belas binatang ini juga menandai jam dalam satu hari.

Tikus menandai pukul 23.00-01.00, Kerbau 01.00-03.00, Macan 03.00-05.00, Kelinci 05.00-07.00, Naga 07.00-09.00, Ular 09.00-11.00, Kuda 11.00-13.00, Kambing 13.00-15.00, Monyet 15.00-17.00, Ayam Jantan 17.00-19.00, Anjing 19.00-21.00, dan Babi 21.00-23.00.

Kedua belas binatang juga merepresentasikan Yin dan Yang, unsur keseimbangan dalam ajaran Cina.

Melansir The Sun, kerbau, kuda, kambing, ayam jantan, babi, dan anjing adalah hewan domestik yang dirawat di rumah-rumah orang Cina. Sedangkan tikus, singa, kelinci, ular, naga, dan kera disukai karena kekuatan dan keliaran mereka.

Enam binatang jinak yang tinggal bersama manusia, 6 binatang lainnya dikagumi dan tinggal di alam liar jauh dari manusia. Kedua kategori tersebut memenuhi unsur Yin dan Yang.

Tidak hanya terkenal di negara Cina sendiri, Shio dan kebudayaan Cina lainnya dibawa oleh orang-orang Cina yang bermigrasi ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena ada banyak keturunan Cina yang menyebar di seluruh dunia, maka Shio ini juga ikut terkenal.

“Setiap anak di Cina, Taiwan, dan Singapore diajari dan mengerti tentang shio sejak kecil,” kata ShaoLan Hsueh, penulis yang mempelajari sejarah Cina seperti dilansir Ted Ideas.

Shio dalam Cina merepresentasikan keseimbangan hidup Yin dan Yang yang juga menjadi kunci bagi seseorang yang ingin memahami kultur dan budaya Cina, serta prinsip dan nilai-nilai Cina.

Karena itulah, sampai hari ini shio adalah unsur penting dari kebudayaan yang terus dijaga dan dilestarikan oleh keturunan Tionghoa dimanapun mereka berada.

Baca juga artikel terkait ZODIAK atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight