Menuju konten utama

Asa Kurban di Kandang Karam Sultan Farm Muda Aceh

Seorang peternak muda di Lhoksukon, Muhammad Reza, bangkit dari kerugian ratusan juta rupiah usai kandang ternak diterjang banjir.

Asa Kurban di Kandang Karam Sultan Farm Muda Aceh
Muhammad Reza, pemilik peternakan Sultan Muda Farm di desa Cempeudak, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. tirto.id/Firhan Farabi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kamis, 25 November 2025, langit di Lhoksukon, Aceh Utara, masih menggelap. Hujan tak kunjung reda, air perlahan merayap naik mengepung pemukiman warga.

Di Desa Cempeudak, Kecamatan Tanah Jambo Aye, suara kambing dan sapi terdengar bersahut-sahutan parau, seolah meminta tolong dari dalam kandang yang mulai dikepung banjir.

Muhammad Reza, 30, harus rela menelan pil pahit dalam hidupnya. Ia harus memilih menyelamatkan istri dan keluarganya lebih dahulu dan terpaksa merelakan 230 ekor ternak yang dirawatnya sejak 2015 di Sultan Farm Muda, terkunci di dalam jebakan air yang melesat cepat. Yang tersisa hanyalah 10 ekor ternak dan kenangan.

“Waktu air naik, kami enggak sempat lagi menyelamatkan ternak. Yang penting keluarga dulu,” ujar Reza, Kamis (28/5/2026).

Tujuh bangunan kandang berukuran 10 X 5 meter itu adalah jantung dari peternakan milik Reza. Pada hari-hari biasa, tempat itu dipenuhi suara lenguhan sapi dan embikan kambing yang tengah digemukkan untuk menyambut hari raya.

Dalam hitungan jam, takdir berbalik arah. Air bah datang mengepung tanpa ampun, mengubah tempat itu menjadi kurungan maut. Air naik begitu cepat, menelan habis seluruh isi kandang dan hanya menyisakan ujung atap yang nyaris karam.

“Kandangnya cuma tampak atapnya saja. Jadi, enggak ada yang bisa diselamatkan satu pun,” katanya.

Selama dua hari, Reza bahkan tidak bisa kembali ke lokasi peternakan. Akses menuju kandang terputus total dan hanya bisa dilalui menggunakan perahu. Saat akhirnya ia kembali, pemandangan di depan mata membuatnya terpaku.

Tubuh-tubuh kambing terlihat mengapung. Sebagian tersangkut di sela kandang, sebagian lagi hanyut terbawa arus. “Yang masih hidup cuma sekitar 10 ekor. Itu pun sudah lemas semua,” kenangnya.

Beberapa ternak yang berhasil dievakuasi dibawa ke tempat pengungsian. Kondisinya sudah terlalu lemah. Tiga ekor ternak akhirnya harus disembelih di lokasi pengungsian karena tidak lagi mampu bertahan.

Reza menaksir kerugian yang ia alami atas insiden itu mencapai Rp600 juta. Bagi Reza, kehilangan itu bukan sekadar hitungan materi. Peternakan tersebut adalah hasil kerja keras yang ia bangun perlahan sejak 2015.

Sultan Muda Farm selama ini bukan hanya menjadi tempat penggemukan ternak, tetapi juga pusat jual beli serta penyedia bibit kambing dan sapi untuk masyarakat Aceh Utara dan sekitarnya.

“Waktu itu kandang lagi penuh dan siap panen. Kami benar-benar kaget karena banjir seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Nada suaranya mendadak berat dan tertahan saat ingatan tentang hari kelam itu kembali membayang. Ada jeda panjang, memperlihatkan rona kesedihan, dan penolakan yang masih berkelindan erat di dadanya. Sedih, syok, dan tidak percaya berbaur menjadi satu.

“Sedih lihat kambing di kandang sudah mati. Ada juga yang terbawa arus," kata Reza.

Di tengah kehilangan besar itu, Reza memilih untuk tidak menyerah. Peternakan bukan hanya soal usaha, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga kepercayaan masyarakat yang selama ini membeli hewan kurban darinya.

Reza Bangkit dari Keterpurukan

Dukungan keluarga dan sahabat menjadi alasan utama dirinya kembali berdiri. Reza bangkit dengan ternak yang tersisa. Ia memulai kembali usaha perternakannya itu dari 7 ekor kambing sisa yang selamat sewaktu banjir.

Untuk memenuhi kembali kandangnya yang telah kosong, ia membeli sedikit demi sedikit anakan hewan ternak seperti kambing dan sapi dari sisa-sisa modal yang masih ia simpan.

“Alhamdulillah, berkat dukungan keluarga dan kawan-kawan bisa bangkit lagi. Intinya semangat jangan kendor,” katanya.

Daging Qurban Aceh Utara

Pekerja memotong daging hewan qurban di peternakan Sultan Muda farm di desa Cempeudak, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. tirto.id/Firhan Farabi

Perlahan, Sultan Muda Farm mulai kembali beroperasi. Reza kembali mengisi hewan ternak itu di kandang yang sama, karena kandangnya hanya mengalami rusak ringan dan masih bisa digunakan. Ia berusaha bangkit agar masyarakat tetap bisa mendapatkan hewan kurban dari peternakan lokal.

Di tengah kondisi usaha yang masih tertatih, dukungan berbagai komunitas menjadi harapan baru baginya. Salah satunya datang dari Dompet Dhuafa yang memesan 48 ekor kambing kurban. Pesanan tersebut menjadi suntikan semangat bagi Reza untuk kembali membangun usahanya dari nol.

“Dengan hadirnya komunitas-komunitas yang memesan hewan kurban, itu sangat membantu kami untuk bangkit,” ujar Reza.

Kini, pada saat pelaksanaan Qurban di Hari Raya Idul Adha 1447 H, aktivitas di Sultan Muda Farm perlahan kembali hidup. Suara kambing kembali terdengar dari kandang-kandang yang dulu sempat tenggelam.

Bagi Reza, setiap hewan yang kembali terisi di kandang bukan hanya tanda usahanya pulih, tetapi juga simbol bahwa harapan masih ada setelah bencana.

Banjir mungkin telah merendam kandang dan menghanyutkan ratusan ternak miliknya. Tetapi semangat Reza untuk kembali menyediakan hewan kurban bagi masyarakat, tidak ikut melesap bersama arus banjir.

Baca juga artikel terkait BANJIR ACEH atau tulisan lainnya dari Firhan Farabi

tirto.id - Flash News
Kontributor: Firhan Farabi
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama