Apa yang Terjadi Jika Anda Terlalu Banyak Makan?

Infografik Kekenyangan
Ilustrasi pria gemuk memakan roti isi berukuran besar. Foto/iStock
Oleh: Arman Dhani - 28 Juni 2017
Dibaca Normal 2 menit
Tubuh kita memiliki mekanismenya tersendiri untuk merespons makanan yang masuk ke dalam tubuh.
tirto.id - Lebaran tiba dan ini momen yang penting untuk kita menguji diri sendiri, apakah sebulan berpuasa mengubah perilaku konsumsi kita ataukah Idul Fitri menjadi hari pemuasan lapar dan dahaga dengan pesta pora.

Segala jenis makanan enak selalu hadir saat lebaran. Berbagai tradisi punya makanan khasnya masing-masing. Di Pulau Jawa, ada opor ayam, sambal goreng hati, dan juga ketupat sebagai menu paling umum. Berakhirnya kewajiban berpuasa Ramadan membuat kita bisa memakan segala kenikmatan yang terhidang di meja makan itu.

Banyak yang menganggap (atau berharap) puasa akan membuat berat badan kita turun. Namun, percayalah, harapan itu karap kali kandas di hari-hari awal bulan Syawal. Seorang muslim bisa saja berpuasa selama 29 atau 30 hari dan kehilangan 2-3 kilogram bobotnya, tapi niscaya sejumlah massa itu akan kembali jika Anda nggragas hidangan Lebaran dan seterusnya.

Sebuah studi berjudul "Islamic Fasting and Weight Loss: a Systematic Review and Meta-analysis" yang dilakukan oleh Behnam Sadeghirad dan kawan-kawan mengkonfirmasi ketidakmudahan untuk kehilangan berat badan setelah Ramadan. Menurut studi itu, perubahan berat badan yang terjadi saat bulan puasa relatif kecil. Alasannya sederhana: butuh konsistensi untuk menurunkan berat badan yang maksimal.

Selain sulit turun berat badan, Anda juga harus mencegah kekenyangan di masa Lebaran agar terhindar dari begah dan nyeri perut.

Rata-rata tubuh manusia hanya bisa menampung sekitar satu sampai satu setengah liter makanan sebelum muncul dorongan untuk muntah. Namun, pada kesempatan lain manusia bisa mengembangkan diri untuk bisa menampung makanan hingga empat kali kondisi normal. Tentu saja perlu diingat bahwa tidak semua manusia bisa melakukan ini.

Saat kita mengkonsumsi makanan yang memiliki kandungan lemak, gula, dan karbohidrat tinggi, sistem saraf parasimpatetik kita secara langsung akan memerintahkan tubuh untuk melambat dan fokus pada pencernaan makanan. Hal ini akan membuat kita merasa lesu. Saat makanan dicerna, sel dalam pankreas akan menghasilkan hormon insulin yang berimbas pada meningkatnya melatonin dan serotonin, hormon yang membuat Anda mengantuk dan merasa gembira.

Bagi beberapa orang, makan berlebihan akan menyebabkan rasa kantuk. Penyebabnya adalah lonjakan kadar glukosa dalam tubuh akibat terlalu banyak makan nasi. Hal ini bisa berimbas pada terganggunya neuron dalam otak yang biasanya memproduksi protein oreksin yang bertanggung jawab membuat Anda terjaga dan awas. Sel lemak dalam tubuh kita akan memproduksi hormon leptin yang mengikat reseptor di otak dan yang akan membuat kita merasa tidak lagi lapar.

Lantas, bagaimana jika kita terus menerus makan banyak? Tubuh akan merespons dengan melakukan adaptasi. Jika kita biasa kenyang dengan sekepal makanan lantas suatu waktu makan dua kepal, tubuh akan melakukan adaptasi. Awalnya akan ada penolakan dan reaksi. Pada banyak kasus, tubuh melakukan resistensi terhadap hormon leptin yang mengganggu kinerja tubuh untuk mengenali kapan kita kenyang.

Inilah yang menuntun kita makan berlebih dan menjadi gemuk. Namun, gemuk bukan satu-satunya hal buruk yang bisa terjadi saat kita terlalu banyak makan. Heartburn atau nyeri ulu hati bisa menjadi hal mengerikan yang terjadi di masa hari raya. Asupan makanan seperti opor, gulai, sambal goreng, ketupat, dan makanan lain yang dikonsumsi berlebihan akan mengakibatkan tubuh kaget.

Saat kita membiasakan diri makan banyak, tubuh kita akan beradaptasi dengan cara tidak baik. Kita akan susah merasa kenyang, bergantung terhadap makanan, mengubah jam lapar, menurunkan kualitas indra perasa dalam lidah, dan kehilangan kemampuan untuk mengetahui kapan waktu untuk berhenti makan.

Artikel Irene Anindyaputri di situs Hello Sehat menyebutkan saat kekenyangan, kita tidak dianjurkan tiduran. Meski usai makan ada dorongan untuk berbaring dan tidur karena mengantuk, ini sangat berbahaya. Rasa begah yang biasanya muncul akibat kekenyangan akan semakin memburuk jika dibawa tiduran. Ini terjadi karena kerja pencernaan terganggu saat Anda tidur.

Posisi berbaring bisa memicu asam lambung atau gangguan pernapasan pada orang yang punya penyakit asma. Ini karena sistem pencernaan manusia memang sudah dirancang sedemikian rupa untuk memproses makanan dalam posisi duduk atau berdiri tegak. Jadi, tunggulah sampai kira-kira tiga jam sebelum Anda tidur atau berbaring.



Terlalu banyak makan juga bisa mengganggu kerja tubuh. Otak dan perut akan mengirimkan sinyal bahwa kita terlalu banyak makan. Saat kita merasa sudah cukup kenyang, perut dan organ pencernaan kita akan menghasilkan hormon yang akan meneruskan pesan ke otak bahwa perut kita sudah menampung terlalu banyak makanan.

Namun, kerja hormon ini akan terganggu jika kita berulang kali makan terlalu banyak. Reseptor otak akan menumpul dan menganggap tubuh masih lapar sehingga kita makan terus hingga muntah.

Hal buruk lain yang terjadi saat kita terlalu banyak makan adalah berkumpulnya gas dalam perut. Hal ini bisa terjadi karena kita terlalu cepat dan terlalu banyak makan dalam waktu yang singkat. Tubuh akan memproduksi gas yang jika tidak dikeluarkan akan membuat rasa sakit. Cara paling mudah mengatasi ini adalah mengunyah jahe atau minum teh yang dicampur jahe. Cara lainnya adalah meminum obat antasida yang bisa membantu menetralisir asam lambung yang naik dan menyebabkan nyeri dada.

Rasa nyeri atau heatburn akibat terlalu banyak makan biasanya terjadi karena terjadi reaksi asam dalam tubuh. Gejalanya rasa sesak di dada dan perut yang melilit. Asam yang seharusnya dibuat untuk proses pencernaan, “bocor” karena kita terlalu banyak makan makanan yang mengandung lemak tinggi atau makan hingga terlalu penuh.

Baca juga artikel terkait MAKANAN atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight