tirto.id - Jika ada satu jenama otomotif yang terkesan mustahil ikut di ajang balap, Vespa barangkali adalah jawaban paling tepat. Ini bukan sebuah hinaan atau cibiran, melainkan konklusi dari observasi terhadap citra yang selama ini melekat dengan jenama asal Italia tersebut.
Vespa identik dengan fesyen, tren, dan kebebasan anak muda. Ia adalah simbol la dolce vita di Italia pascaperang, yang lantas dipopulerkan lewat romansa Audrey Hepburn dan Gregory Peck di Roman Holiday (1953). Ia adalah lambang pemberontakan pemuda-pemuda Britania lewat subkultur Mod yang diabadikan The Who lewat album dan film Quadrophenia. Ia bukan Ducati, bukan Gilera, bukan MV Agusta, bukan pula Suzuki, Honda, atau Yamaha, yang mereguk kejayaan dari arena ke arena. Vespa tak pernah merasakan itu semua karena ia tidak dirancang bagi penggila kecepatan, melainkan untuk penikmat kehidupan.
Namun, jangan sekali-sekali memandang Vespa sebelah mata. Ia mungkin bukan kendaraan roda dua tercepat. Akan tetapi, soal ketangguhan, Vespa berani diadu.
Tengok saja yang dilakukan militer Prancis pada dekade 1950-an. Untuk memberangus pemberontakan di Aljazair dan Indochina, Prancis membutuhkan artileri ringan yang bisa dengan cepat diselundupkan ke garis depan peperangan. Hasilnya adalah Vespa 150 TAP (Troupes Aéro Portées).

Vespa 150 TAP kemudian populer dengan sebutan Vespa Bazooka karena dilengkapi dengan senjata api berukuran besar yang bentuknya mirip bazooka. Namun, sebenarnya, senjata yang dipasang di bodi Vespa 150 tersebut merupakan senapan berkaliber besar M20, digunakan sebagai senjata anti-tank. Selain itu, Vespa 150 TAP dilengkapi dengan dua jerigen bahan bakar plus satu troli kecil.
Meski tak satu pun yang pernah melihat pertempuran sesungguhnya, Vespa eksistensi Vespa 150 TAP setidaknya sudah menjelaskan satu hal, bahwa skuter buatan Piaggio dinilai cukup andal dan bandel untuk melahap medan berat.
Deromantisasi Vespa di Ajang Balapan Gurun
Sekitar seperempat abad berselang, lagi-lagi sekelompok orang asal Prancis membuktikan bahwa Vespa memang tidak cuma nyaman digunakan di perkotaan, melainkan bisa menjadi tunggangan yang bisa dengan buas menaklukkan lintasan ekstrem.
Pada 1978, untuk pertama kalinya ajang reli legendaris Paris-Dakar (sekarang hanya disebut Reli Dakar) diselenggarakan. Reli ini adalah hasil akal-akalan pebalap motor Prancis, Thierry Sabine, yang tersesat di Gurun Tenere, Libya, saat mengikuti reli Abidjan-Nice, dari Pantai Gading ke Prancis, pada 1977. Ketika itu, Sabine kehabisan bahan bakar dan bahan makanan, lalu memutuskan berjalan kaki selama 3 hari 2 malam sampai akhirnya ditemukan oleh regu pencari.
Sabine nyaris meninggal dunia kala itu. Namun, bukannya "bertaubat", Sabine malah menjadikan masa-masa paling mengerikan dalam hidupnya itu sebagai inspirasi untuk menggelar reli baru dengan rute dari Paris menuju Dakar, Senegal. Hanya kurang lebih setahun setelah nyaris bertemu Malaikat Maut di Gurun Tenere, Sabine memimpin Reli Paris-Dakar pertama sepanjang sejarah.
Singkat cerita, Reli Paris-Dakar menjadi seri reli endurance (uji ketahanan) termasyhur sejagat raya. Kini, ajang tersebut telah berubah menjadi laboratorium berjalan bagi pabrikan-pabrikan otomotif ternama untuk menguji ketahanan teknologi terbarunya. Bahkan, pabrikan seperti Audi sudah menurunkan mobil listriknya untuk berlaga di kompetisi ini.
Dalam sejarahnya, Reli Paris-Dakar memang sudah sering menyaksikan kehadiran kendaraan-kendaraan unik. Namun, lain ceritanya ketika Vespa P200 terjun di Reli Paris-Dakar edisi kedua.
Saat Reli Paris-Dakar pertama sedang diselenggarakan (dari Desember 1978 sampai Januari 1979), laki-laki asal Prancis bernama Jean-Francois Piot, yang ketika itu bekerja sebagai humas Honda, rela terbang ke Afrika untuk mengikuti pergelaran tersebut. Akan tetapi, bukan Honda yang kemudian menikmati ide gila hasil perjalanan Piot tersebut, melainkan Piaggio.
Pada 1979, Piot pindah dari Honda ke Piaggio dan dialah yang mencetuskan ide mengikutsertakan Vespa dalam ajang Reli Paris-Dakar. Ia menilai, citra Vespa sebagai kendaraan kaum urban penuh gaya sudah sangat kuat, tetapi di sisi lain dia pun melihat potensi untuk memasarkan skuter tersebut sebagai kendaraan tangguh dan bandel. Kalau rute gurun Paris-Dakar sepanjang 10 ribu kilometer saja berhasil ditaklukkan, jalanan perkotaan yang mulus tentu takkan jadi masalah, begitu pikirnya kira-kira.
Usulan Piot itu akhirnya disetujui oleh Piaggio. Vespa P200 dipilih sebagai basisnya dan, oleh Piaggio, empat skuter tersebut dimodifikasi dengan memperkuat bagian sasis, garpu, serta sokbreker. Setangnya pun diganti menjadi lebih lebar. Beberapa bagian, yang dianggap tidak perlu, dicopot untuk mengirit bobot. Tak lupa, Piaggio juga memasang tangki bahan bakar tambahan serta ban off-road.
Setelah selesai menyiapkan kendaraan, Piot dan Piaggio pun menyusun tim beranggotakan empat orang yang kesemuanya merupakan pebalap papan atas: Yvan dan Bernard Tcherniavsky, Bernard Neimer, serta Marc Simonot. Semuanya punya prestasi mentereng, khususnya di ajang balap off-road dan enduro. Mereka pun, selama dua pekan penuh, menguji kemampuan beberapa Vespa yang sudah dimodifikasi itu di sebuah pantai di Prancis.
Namun, bagi Piot dan Piaggio, itu semua belum cukup. Mereka sadar bahwa mengikutsertakan Vespa dalam Reli Paris-Dakar adalah hal berisiko. Bukan cuma bagi pebalap, tetapi juga untuk jenama. Apa jadinya jika, katakanlah, semua Vespa tersebut mogok dan tidak bisa menuntaskan balapan? Tentu semua upaya dan franc yang mereka gelontorkan bakal sia-sia belaka.
Untuk mengatasi potensi masalah ini, Piot dan Piaggio pun membentuk tim bayangan beranggotakan lima unit Land Rover. Salah satunya dikendarai sendiri oleh Piot, sedangkan empat unit lainnya dipiloti oleh pebalap-pebalap hebat dari kategori mobil, termasuk eks pebalap Formula One, Henri Parascolo. Empat dari lima Land Rover itu berfungsi sebagai pendamping, sementara satu unit lainnya bertugas mengangkut suplai logistik.

Menyatukan Vespa-Vespa itu dengan mobil-mobil pendukungnya bukan perkara mudah. Setelah memasuki Benua Afrika, kategori sepeda motor diharuskan memulai balapan terlebih dahulu dan, setelah semuanya finis, barulah kategori mobil diperbolehkan menjalani balapan. Di sini, hal yang semestinya jadi keunggulan, justru menjadi persoalan.
Meski "cuma" Vespa, skuter-skuter tadi mampu menyelesaikan etape pertama di Afrika dengan cepat. Mereka bukan yang tercepat, tetapi bukan pula yang finis paling belakang. Ini menjadi soal karena, apabila Vespa-Vespa itu berada di antara sepeda motor lain yang ikut serta, mobil pendamping jadi kesulitan membayangi mereka. Maka, sebelum menyentuh garis finis, keempat pebalap mematikan Vespa-nya dan bersantai. Baru setelah dipastikan bahwa mereka finis paling belakang, keempat pebalap mulai mengendarai Vespa-nya melewati garis finis.
Satu masalah terselesaikan. Sekarang, tinggal mencari jalan keluar agar para pebalap mobilnya bisa cukup cepat untuk berada berdekatan dengan keempat Vespa, yang jadi pusat dari proyek Piaggio. Pada akhirnya, meski tidak sempurna, misi mereka berhasil. Tiga dari lima mobil Land Rover berhasil finis di 20 besar. Itu membawa mereka pada posisi ideal untuk mengawal keempat Vespa sampai ke Dakar.
Namun, ujian sebenarnya memang baru bermula ketika balapan sudah sampai ke Benua Afrika, khususnya di area gurun yang penuh pasir dan kerikil. Di sinilah berulang kali Vespa-Vespa itu rusak, termasuk akibat kesalahan desain modifikasi yang membuat ban cepat aus dan akhirnya bocor. Para pebalap pun jatuh bangun hanya untuk mengejar jarak yang terasa makin jauh.
Di tengah situasi genting itu, Piot akhirnya sempat memilih cara curang, yaitu dengan mengangkut Vespa ke atas Land Rover untuk melewati gunungan pasir di Aljazair. Aksi tersebut sempat membuatnya bersitegang dengan Sabine, yang mengancam akan mendiskualifikasi tim Piaggio jika aksi tersebut terulang kembali. Namun, Piot akhirnya tetap berhasil menjaga timnya tetap ikut berkompetisi.
Meski demikian, ajang Reli Paris-Dakar pada akhirnya memang terlampau sulit ditaklukkan oleh skuter seperti Vespa. Dari empat pebalap yang ikut serta, hanya Simonot yang berhasil melewati garis finis di atas skuternya. Satu pebalap lain, Bernard Tcherniavsky, sebenarnya juga berhasil finis, tetapi dengan Vespa yang "digendong" oleh satu unit Land Rover. Sementara itu, dua pebalap lain, Yves Tcherniavsky dan Bernard Nemier, gagal. Vespa milik Nemier malah sampai patah jadi dua jelang akhir balapan.
Terlepas dari segala persoalan dan kesulitan yang melanda, misi Piaggio berhasil. Mereka memang tidak menjadi juara, tetapi setidaknya ada dua skuternya yang melewati garis finis.
Penjualan Vespa pun, setelah Reli Paris-Dakar 1980 itu, melonjak sampai 150 persen. Akan tetapi, bagi Piot, itu semua belum bisa disebut sebagai keberhasilan. Sosok kelahiran 1938 tersebut seakan terobsesi berdiri di atas podium Reli Paris-Dakar.
Sayangnya, mimpi Piot tak pernah terwujud. Pada November 1980, tak sampai setahun sejak dia membawa tim Piaggio mencatatkan sejarah di Reli Paris-Dakar, Piot meninggal dunia dalam sebuah balap reli di Maroko. Mobil Land Rover yang dikendarainya masuk ke dalam jurang di Pegunungan Atlas dan Piot tewas seketika.
Meski Piaggio dan Vespa tak pernah lagi berlaga di ajang Reli Dakar dan Piot telah meninggal dunia sebelum berdiri di podiumnya, hal yang dilakukan sosok asal Prancis tersebut masih membekas hingga kini. Berulang kali aksi "heroik" pada rider Vespa itu diceritakan lewat berbagai medium dan, rasanya, status sebagai legenda balap sudah bisa disematkan pada nama mendiang Jean-Francois Piot.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































