25 Juni 2014

Alfred Simanjuntak: Diburu Kempeitai Jepang karena Lagu Patriotis

Alfred Simanjuntak. tirto.id/Nauval
Oleh: Alexander Haryanto - 25 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Karena lagu "Bangun Pemudi Pemuda", Alfred Simanjuntak pernah masuk dalam daftar buronan Kempeitai Jepang.
Bukan cuma Ed Sheeran atau Taylor Swift yang pernah terinspirasi dan membuat lagu di kamar mandi. Komposer besar Indonesia, Alfred Simanjuntak, pernah mendapat ilham yang sama tatkala menuliskan lagu "Bangun Pemudi Pemuda" pada 1943.

Kepada Tempo, Alfred mengatakan kala itu Indonesia sedang membutuhkan lagu patriotis yang mampu membakar semangat pemuda untuk merebut kemerdekaan. Saat itu Indonesia sedang dijajah Jepang dan Alfred masih berumur 23.

Maka, saat berada di kamar mandi, ia mendapat ilham lirik dan nada lagu perjuangan yang terngiang di kepalanya. Cepat-cepat Alfred keluar dari kamar mandi, kemudian mencari kertas. Supaya tidak lupa, nada itu ia tumpahkan lewat not angka.

Tak butuh waktu lama bagi Alfred untuk menyelesaikannya. Keesokan harinya, lagu yang kini seakan-akan wajib dibawakan saat upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus itu sudah rampung.

Karena khawatir lagu pengobar semangat pemuda ini terendus polisi militer Jepang, secara diam-diam ia mengajarkan lagu itu ke murid sekolah menengah tempatnya bekerja, yaitu Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang.

Menurut Wildan Bayudi dalam buku Lagu Wajib Nasional, sekolah ini didirikan sejumlah tokoh nasionalis seperti Bahder Djohan, Wongsonegoro, dan Parada Harahap.

Saat Jepang kalah dalam pertempuran lima hari, seperti diungkap Alfred dalam wawancara bersama Majalah Dia, ia mendapat telepon dari orang yang mengaku intel Jepang dan memberi selamat karena dia masih hidup. Sebab, namanya masuk dalam daftar buronan Kempeitai Jepang. Semua itu karena isi lirik lagu "Bangun Pemudi Pemuda" yang dinilai mampu membakar semangat pemuda.

Di zaman pendudukan Jepang, Kempeitai sangat ditakuti. Apabila bila mereka mencurigai Anda sebagai orang berbahaya, maka bersiaplah ditangkap, disiksa, atau dihukum mati. Kempeitai adalah unit militer yang bertindak sebagai polisi rahasia sekaligus polisi militer. Tentu saja bukan hal yang biasa bila nama Alfred masuk dalam daftar buronan Kempeitai.

Bukan Alfred saja yang punya nyali untuk membuat karya pembakar semangat kaum muda kala itu. Ia punya kawan serupa seperti Cornel Simanjuntak dan Liberty Manik, yang pertemuannya dimulai saat Alfred mengenyam pendidikan guru di Holland Indische Kweek School di Surakarta, Jawa Tengah.

Cornel Simanjuntak adalah komponis lagu perjuangan seperti "Tanah Tumpah Darah", "Maju Tak Gentar", dan masih banyak lagi. Tidak hanya menciptakan lagu, Cornel juga ikut berjuang bersama laskar rakyat di front Senen dan Tanah Tinggi melawan NICA. Bahkan, bokongnya pernah tertembak saat berperang. Sementara Liberty Manik adalah pencipta lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" dan belakangan menjadi pengajar musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Dalam wawancaranya dengan Tempo, Alfred mengaku terkesima dengan sosok Cornel Simanjuntak dan menjadikannya sebagai komponis panutan. Bahkan Alfred sudah menyimpan kagum saat mereka pertama kali bertemu. “Saya kenal Cornel waktu ikut ujian di sekolah Katolik, Muntilan. Cornel sekolah di sana,” kata Alfred.

Menurut Alfred, ia dan Cornel sering bersaing dalam menciptakan lagu. Saat Cornel menciptakan "Pada Pahlawan", Alfred mencipta "Saudaraku Berpulang Dulu". Uniknya, lagu-lagu kedua komposer ini hampir serupa. "Pada akhir lagu, nada-nadanya pasti naik. Bersemangat. Tak ada yang cengeng."

Namun, persahabatan itu harus berakhir karena Cornel meninggal di Yogyakarta pada September 1946 akibat terkena TBC. Sementara Alfred melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1950. Sementara Liberty Manik hjrah ke Jerman dan memperoleh gelar doktor filsafat di Universitas Frein.

Multitalenta

Alfred adalah salah satu komposer langka yang dimiliki Indonesia. Ia multi-instrumentalis—bisa memainkan piano, biola, gitar, dan beberapa alat musik lain. Semuanya ia pelajari secara otodidak. Selain pencipta lagu dan pengajar, ia juga bekerja di penerbitan dan pernah aktif sebagai wartawan Sumber selama tiga tahun dari 1946-1949.

Di sisi lain, ia juga seorang poliglot. Ia mengaku menguasai bahasa Jawa kromo halus, Belanda, Inggris, Jerman, dan bisa memahami sedikit bahasa Jepang. Bahkan, kepada Majalah Dia, Alfred mengaku: "Ketika saya ke Belanda, masuk keluar kampung, orang Belanda heran, 'kok bahasa Belandamu bagus'."

Suatu kali, Alfred pernah diminta Abdurrahman Wahid atau Gus Dur membuat himne Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Alfred menyanggupi, asalkan bertemu langsung dengan Gus Dur agar bisa mendapatkan garis besar dari himne yang akan dibuat.

Hampir satu jam mereka berbicara, Alfred langsung bisa menyimpulkan Presiden RI ke-4 itu orang yang berjiwa besar, terbuka, dan tidak berpikir sempit. "Dia manusia Indonesia. Saya kagum. Saya senang, dan saya sayang sama dia," kata Alfred kepada Majalah Dia.

Tak sampai sebulan, mars PKB itu rampung, sebab Alfred mengaku terbantu dengan obrolannya bersama Gus Dur. "Karena begitu bicara dengan Gus Dur. Di tengah jalan itu sudah mulai tergambar [marsnya]. Karena enak pembicaraan itu. Berisi, berjiwa. Ada kerohaniannya. Cepat. Lalu terbayang irama mars."



Pada 10 Februari 2001 Alfred menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR. HC) atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University. Dalam karya tulisnya berjudul "Membangun Manusia Pembangunan", Alfred mengaku kagum dengan sosok pengarang Pramoedya Ananta Toer dan akhirnya berteman cukup akrab. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya bahkan mengaku pernah diberi sepeda motor Sparta tua oleh Alfred.

Menurut Alfred, Pramoedya adalah pejuang orang kecil yang tertindas, yang menjadi bulan-bulanan orang-orang elite atau yang disebut sub-class feodal. Pram, sebagaimana ia sering dipanggil, juga berpesan kepada Alfred agar senantiasa membangkitkan rasa harga diri rakyat dengan lagu.

Sepanjang kariernya di dunia musik, Alfred telah banyak menulis lagu anak-anak, rohani, lagu paduan suara, dan lagu nasional sejak 1934. Pria kelahiran Tapanuli Utara, Sumatera Utara 8 September 1920 ini mengaku ingin hidup hingga umur 100 tahun, atau kalau bisa 111 tahun. "Kalau seperti itu sepertinya jalan ke Surga lurus sekali. Satu itu tegak lurus," kata Alfred seperti dikutip Majalah Dia.

Namun keinginan itu tidak pernah tercapai karena Alfred meninggal dunia pada 25 Juni 2014, tepat hari ini 6 tahun lalu, di usia yang "baru" 93. Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Siloam Karawaci Tangerang karena penyakit radang paru-paru dan pneumonia yang dideritanya cukup lama.

Hari itu ia menyusul Liberty Manik dan Cornel Simanjuntak. Tentu saja, karya-karya mereka abadi dan dunia musik selalu mengenang nama mereka.

Baca juga artikel terkait KOMPONIS atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight