STOP PRESS! Hatta Taliwang Ditangkap, Diduga Lakukan Ujaran Kebencian

Alat Tes DNA Sederhana di Tangan Anda

Reporter: Maulida Sri Handayani
19 Oktober, 2016 dibaca normal 3 menit
Alat Tes DNA Sederhana di Tangan Anda
Mario Teguh sempat menantang Ario Kiswinar Teguh untuk melakukan tes DNA saat pemuda itu mengaku sebagai anak kandungnya. [Foto/Instgram/Google]
Jika ada orangtua yang tak meyakini anaknya benar-benar putra atau putri biologis, kabarkanlah pada mereka adanya alat PCR mini untuk menguji DNA. Alat tes DNA pribadi ini mengatasi masalah harga dan keterjangkauan terkait kebutuhan pengujian DNA selama ini.
tirto.id - Jika kelak bersepakat menguji DNA untuk mengetahui apakah mereka benar berhubungan ayah-anak, Mario Teguh dan Ario Kiswinar tak perlu repot-repot ke laboratorium. Mereka bisa menggunakan alat tes DNA pribadi, yang setelah dipakai bisa digunakan lagi untuk menguji DNA apapun.

Salah satunya yang diproduksi Sebastian Kraves dan kawannya.

“Tiga tahun lalu, bersama sesama biolog teman saya, Zake Alvarez Saavedra, kami memutuskan memakai mesin DNA pribadi yang bisa digunakan semua orang. Tujuan kami adalah membawa ilmu DNA pada lebih banyak orang di tempat-tempat baru,” ceramah Kraves di TED Talks, Mei lalu.

Kraves mengatakan mereka bekerja diawali satu pertanyaan: Akan seperti apa dunia jika setiap orang bisa menganalisis DNA?

Dengan jenaka, Kraves menunjukkan pesawat telepon nirkabel di layar TED dan mengajak hadirin membayangkan bagaimana jika mereka hidup di zaman itu. “Anda mungkin membayangkan, 'Wow! Aku sekarang bisa menelepon bibiku Glenda dari mobil dan mengucapkan selamat ulang tahun. Aku bisa menelepon siapapun, kapanpun. Inilah masa depan!'”

Di zaman itu, telepon tak berkabel saja sudah dianggap canggih. Tentu tak terbayang dua dekade kemudian orang-orang bisa melakukan begitu banyak hal cukup dengan sentuhan pada smartphone. Entah memesan reservasi di restoran untuk merayakan ulang tahun Bibi Glenda, juga sekalian memesan hadiah untuknya. Dan tak lupa menjempoli fotonya di Facebook. “Semuanya, bisa dilakukan di toilet,” kata Kraves. 

Sangat sulit, ucapnya, “memprediksi ke mana teknologi baru akan membawa kita. Hal sama juga berlaku dalam hal teknologi DNA pribadi sekarang ini.”

Sebastian Kraves benar. Sebelum kita mengenal ilmu soal heliks ganda, seorang lelaki paruh baya yang galau soal kesahihan keturunannya seperti Mario Teguh hanya bisa menerka-nerka dari golongan darah dan kemiripan fisikal.

Atau pikirkan bagaimana seorang perempuan bertanya-tanya mengapa ibu dan saudara-saudara perempuannya mati karena kanker payudara. Ia hanya bisa berspekulasi, mengira-ngira bahwa penyakit turunan. Atau bayangkan seseorang berdarah kreol yang penasaran: Sebenarnya leluhurku orang mana?

Semuanya, bisa diketahui setelah ada ilmu tentang DNA dan alat pengujinya yang bernama Polymerase Chain Reaction (PCR).

Lelaki paruh baya yang galau soal kesahihan hubungan darah dengan anaknya bisa memverifikasi keraguannya. 

Seorang perempuan yang kuatir akan adanya mutasi gen BRCA, salah satu penyebab kanker payudara, bisa memastikannya. Jika hasilnya positif, mungkin ia akan beraksi seperti Angeline Jolie 2013 lalu, yang memapas payudaranya untuk mengurangi risiko kanker.

Seseorang yang penasaran apakah ia keturunan Arab atau India atau Belanda bisa mengujinya dengan alat PCR jika memang sungguh berniat, dan dapat menemukan bahwa ternyata ia juga keturunan Cina, misalnya.

Tapi tentu semua contoh-contoh itu mengandalkan alat yang tak dimiliki secara pribadi. Para pasien harus datang ke laboratorium—yang bisa jadi jauh dari tempat tinggalnya—untuk melakukan tes.

Inilah yang sedang diubah dengan produksi alat-alat tes DNA pribadi seperti dilakukan Kraves dan Saavedra.

“Kita sampai pada titik sejarah di mana Anda semua bisa terlibat dengan DNA di dapur Anda. Anda bisa menyalin tempel, dan menganalisis DNA dan mengekstrak informasi berarti darinya. Dan di saat seperti inilah transformasi besar pasti akan terjadi; ketika teknologi transformatif dan berpengaruh, yang tadinya terbatas bagi sedikit orang di menara gading, akhirnya terjangkau bagi setiap kita, dari petani sampai anak sekolah.”

Tahun lalu, diproduksinya alat ini sudah diberitakan oleh Wall Street Journal yang mewartakan bahwa selama ini di kebanyakan lab-lab negara Barat, pengujian DNA dilakukan dengan mesin PCR (Polymerase Chain Reaction) yang mahal. Mesin-mesin itu beroperasi dengan menggunakan tenaga listrik dan memakan biaya puluhan ribu dolar.

Di sinilah pentingnya mesin PCR yang disimplifikasi macam miniPCR yang diproduksi Kraves. Biaya operasi alat yang diproduksi Chai Biotechnologies Inc. dan Amplyus hanya sekira $600 sampai $700 dan bisa jalan dengan baterai solar. Amplyus, seperti dipetik Wall Street Journal, telah menjual 500 mesinnya pada 2014. Kebanyakan pembelinya adalah sekolah dan laboratorium penelitian.

Alat Tes DNA Sederhana di Tangan Anda

Selain harga, urusan sumber energi juga penting. Ambillah contoh Guinea yang sempat dilanda wabah Ebola. Bagi para peneliti di sana, alat-alat kedokteran yang umum dipakai di lab dan rumah sakit tak berguna karena tak ada listrik. Di sinilah pentingnya alat PCR yang sederhana.

Dengan miniPCR, para peneliti bisa melihat jejak-jejak DNA virus dari sampel langsung di lapangan, saat itu juga. Mereka tak perlu mengirimkan sampel yang sampainya berhari-hari bahkan berminggu-minggu ke laboratorium di kota besar.

Ini penting bagi daerah-daerah yang rawan wabah akibat virus atau bakteri tapi tak punya fasilitas laboratorium lengkap. Tak hanya di Guinea yang terkena wabah Ebola. Tapi juga di negara-negara yang kerap terkena wabah flu babi atau flu burung, apalagi jika yang terkena adalah daerah terpencil.

Contohnya adalah kasus flu burung terakhir yang terjadi di Kotamobagu. Anda yang bukan warga Kotamobagu, pernahkah mendengar nama kota ini? Ini adalah satu kota di Sulawesi Utara. Peneliti yang hendak melacak jejak-jejak penyebaran virus tak perlu mengirim sampel—misalnya sampel sumber air—ke kota besar untuk menguji apakah air itu ada jejak virus flu burung.

Tentu saja kemudahan itu hanya bisa terwujud jika para peneliti dibekali miniCPR atau alat semacamnya. Situsnya menunjukkan harga paket bundelannya adalah $4.500, bahkan starter pack-nya hanya $1.250. Harga yang tampaknya juga bisa dijangkau oleh Mario Teguh—jika ia sudah bersepakat dengan Ario Kiswinar.

(tirto.id : msh/nqm)

Keyword