tirto.id - Kampung Somang di Kabupaten Lebak, Banten, yang sekian lama tenggelam di dasar Waduk Karian, kembali tersingkap. Ketika volume air waduk menyusut drastis, kubah biru Masjid Al Mujahidin dan sisa-sisa bangunan yang pernah ditinggali warga tampak berdiri tegar di atas hamparan tanah yang retak-retak.
Kampung ini merupakan satu dari beberapa wilayah yang harus ditenggelamkan demi membentuk badan air Waduk Karian. Genangan raksasa seluas kurang lebih 1.740 hektar tersebut lahir dari pembangunan Bendungan Karian, struktur dinding penahan berbahan urugan batu untuk membendung alur Sungai Ciberang.

Mengutip laman Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Bendungan Karian difungsikan sebagai pengendali banjir di Kabupaten Lebak. Selain itu, bendungan ini menyediakan kebutuhan air baku bagi 8 juta jiwa yang tersebar dari Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Daya tampung raksasa Bendungan Karian mencapai 314,7 juta meter kubik. Ini tercermin saat pengisian awal pada Desember 2024, ketika tingginya intensitas hujan mulai menenggelamkan Kampung Somang. Namun, belum genap dua tahun berselang, kondisi air Waduk Karian berbalik drastis, salah satunya akibat fenomena El Niño yang memicu kekeringan.
Dampaknya, elevasi air waduk mulai menyusut drastis saat musim kemarau memasuki Juli 2026. Hingga pada Oktober 2026, Kampung Somang yang sempat hilang dari peta sepenuhnya kembali "terkuak". Kemunculan kembali daratan yang sudah lama terendam ini membawa pertanyaan mendasar soal proses alam dan fluktuasi air di balik surutnya waduk raksasa tersebut.
Apa Saja Penyebab Wilayah yang Sudah Ditenggelamkan Muncul Lagi?
Mengapa air waduk raksasa seperti Waduk Karian bisa surut hingga menyebabkan Kampung Somang "muncul ke permukaan" kembali?
Penurunan muka air waduk sebenarnya mengikuti hukum keseimbangan. Kondisi surut ekstrem terjadi ketika jumlah air yang masuk (inflow) tidak sebanding lagi dengan volume air yang keluar (outflow). Terganggunya keseimbangan air yang menyebabkan surut ekstrem ini bisa dilacak dari berbagai faktor, baik itu faktor alam maupun manusia.
Banyak yang menduga bahwa fenomena ini murni dipicu oleh kemarau panjang akibat El Niño. Singkatnya, kemarau berkepanjangan memangkas pasokan hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS), wilayah daratan yang menyerap air hujan lalu mengalirkannya ke waduk. Akibatnya, tanah di sekitar DAS mengering dan aliran anak-anak sungai yang biasa mengisi Waduk Karian mendadak terhenti. Kondisi ini makin parah karena terik matahari terus menyedot air permukaan waduk lewat penguapan yang tinggi.

Namun, El Niño bukanlah faktor tunggal yang menyebabkan surutnya air Waduk Karian. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah aktivitas penggunaan air oleh manusia yang terus berjalan di tengah kondisi kemarau.
Secara teknis, ketika alam memangkas kran air masuk (inflow), kran pengeluaran (outflow) Waduk Karian tidak bisa serta-merta ditutup total. Sebagai waduk strategis, Karian tetap mengalirkan jutaan meter kubik air setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air baku di wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat. Kombinasi antara pasokan alam yang "macet" dan konsumsi air yang jalan terus inilah yang mengacaukan stok air waduk.
Prinsip ini sejalan dengan penelitian Irwandi dkk. (2021) berjudul “The Effects of ENSO, Climate Change and Human Activities on the Water Level of Lake Toba, Indonesia: A Critical Literature Review”. Studi terhadap berbagai danau dan bendungan di dunia menunjukkan bahwa fluktuasi air tak pernah berdiri sendiri. Ada tiga faktor penyebab utama, yaitu climate variability (dinamika cuaca), perubahan iklim, hingga aktivitas manusia.
Climate variability akibat El Niño, misalnya, mengurangi curah hujan dan menurunkan permukaan air. Berikutnya, perubahan iklim secara umum menyebabkan penurunan permukaan air. Selain itu, aktivitas manusia juga berpengaruh dan umum terjadi di seluruh dunia. Praktik irigasi dan penipisan air tanah bisa menyebabkan berkurangnya volume air danau atau bendungan.
Mengapa Bangunan Tidak Hancur Meski Tenggelam?
Ketika Kampung Somang muncul kembali setelah surutnya air Bendungan Karian, yang menjadi sorotan adalah bangunan demi bangunan yang tidak hancur meski tenggelam di bawah air dalam waktu yang cukup lama. Masjid Al Mujahidin, misalnya, masih berdiri tegar lengkap dengan dinding dan kubah birunya.
Fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah berkaitan dengan sifat fisika dan kimia bahan bangunan. Sebagaimana dijelaskan Jun Liu (2014) dalam “Study on Surface Permeability of Concrete under Immersion”, beton merupakan bahan utama dalam teknik hidrolik karena ketahanannya yang sangat baik terhadap perembesan air.

Rahasia utamanya terletak pada reaksi kimia saat pembangunan. Semen dan beton mengeras melalui proses hidrasi, yaitu pembentukan senyawa kalsium silikat hidrat (CSH) yang saling mengikat kuat. Begitu matriks beton ini mengeras sempurna, ia tidak akan mudah larut atau rusak hanya karena terendam air tawar.
Menariknya, lingkungan dasar waduk yang relatif tenang justru ikut "mengawetkan" struktur bangunan yang terbenam air tersebut. Air waduk yang menutupi bangunan menghalangi kontak langsung dengan udara bebas. Hal ini mencegah reaksi karbonasi yang biasanya menjadi pemicu utama korosi (pengeroposan) pada besi tulangan di dalam beton.
Selain itu, partikel lumpur dan sedimen halus di dasar waduk perlahan mengendap dan membungkus bagian bawah bangunan. Lapisan sedimen ini bertindak sebagai perisai alami yang menahan laju erosi dari pergerakan air waduk.
Tentu saja, bangunan kayu atau material ringan lain di Kampung Somang mungkin sudah lapuk atau hanyut. Namun, struktur bangunan yang punya tekstur kokoh seperti Masjid Al Mujahidin, sanggup tetap bertahan di bawah air berkat kombinasi antara ketahanan material hidrolik dan kondisi dasar waduk yang stabil, hingga akhirnya tersingkap kembali ke permukaan.

Sisa-sisa bangunan Kampung Somang yang kembali terlihat mungkin hanya pemandangan sementara sebelum air hujan kembali mengisinya. Namun, fenomena ini menyisakan pelajaran penting tentang tipisnya cadangan air kita saat kemarau menghantam dan konsumsi terus berjalan.
Ketika kubah masjid itu nantinya kembali tenggelam, prinsipnya tetap sama: Waduk Karian, sebagai wakil dari waduk-waduk lain, hanya bisa terus memberi kehidupan selama kita menjaga Daerah Aliran Sungai di sekitarnya.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id


































