Pandemi COVID-19

Akui Kematian di Atas 1.000 per Hari, Satgas: Tak Bisa Ditoleransi

Oleh: Andrian Pratama Taher - 23 Juli 2021
Dibaca Normal 1 menit
Selama enam hari berturut-turut, Indonesia mencatat angka kematian harian di atas seribu kasus, sementara jumlah testing terus turun.
tirto.id - Pemerintah menyatakan kematian menjadi persoalan dalam penanganan pandemi COVID-19. Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito mengakui angka kematian Indonesia tinggi dalam 7 hari terakhir dan mencapai di atas 1.000 per hari.

"Angka kematian yang cenderung mengalami peningkatan selama 7 hari terakhir ini patut dijadikan refleksi kita bersama terlebih sudah 6 hari berturut turut kematian kita mencapai angka lebih dari 1.000 setiap harinya," kata Wiku dalam keterangan daring, Kamis (22/7/2021).

Kematian berturut-turut dengan angka di atas 1.000 kasus per hari, menurut Wiku, tidak bisa ditoleransi. Ia menilai, angka kematian tidak sebatas angka, tetapi ada keluarga, kolega hingga orang tercinta yang meninggal dunia.

Ia mencontohkan, kasus kematian dalam penerapan PPKM darurat masih tinggi. Saat ini, kata Wiku, baru Jakarta yang mengalami penurunan kasus kematian dibanding provinsi lain di Jawa-Bali dalam kurun waktu 6 hari terakhir.

"Kematian pada hampir seluruh provinsi masih menunjukkan tren peningkatan kecuali DKI Jakarta. DKI Jakarta per kemarin menunjukkan penurunan yang signifikan dari 268 menjadi 95 kematian dalam sehari," kata Wiku.

Di saat yang sama, Wiku menuturkan angka kasus positif mengalami penurunan hingga 40 persen dibanding pekan lalu. Kasus positif nasional mengalami penurunan di mana semula 56.757 pada tanggal 15 Juli 2021 menjadi 33.772 pada tanggal 21 Juli 2021.

Kemudian, pemerintah mencatat kesembuhan mengalami peningkatan 70 persen. Kemudian, kata Wiku, jika dilihat pada persen kasus aktif terlihat mulai mengalami penurunan selama tiga hari terakhir. Ia juga menuturkan persentase bor harian di tingkat nasional juga konsisten mengalami penurunan selama 7 hari terakhir dari 76,26 persen menjadi 72, 82%.

Namun, Wiku menilai kasus kematian harus ikut ditekan bersama dengan kasus konfirmasi positif dan peningkatan angka kesembuhan. "Kasus positif yang turun dan kesembuhan yang meningkat harus diikuti dengan kematian yang turun pula," kata Wiku.

Selain soal kasus konfirmasi positif, kesembuhan, BOR dan kematian, Wiku juga menyoroti turunnya angka testing. Menurutnya, angka testing yang turun selama beberapa hari terakhir perlu digenjot agar semakin banyak kasus yang bisa dideteksi secara dini.

"Jumlah orang diperiksa yang mengalami penurunan selama 4 hari terakhir perlu untuk segera dikejar untuk meningkat kembali, karena semakin tinggi testing semakin banyak kasus yang dapat terdeteksi, dan ditangani sejak dini," kata Wiku.

















Baca juga artikel terkait ANGKA KEMATIAN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight