Adriaan Valckenier, Gubernur Pembantai Cina di Batavia

Oleh: Iswara N Raditya - 7 Juni 2017
Dibaca Normal 4 menit
Adriaan Valckenier adalah Gubernur Jenderal VOC yang dipersalahkan atas aksi pembantaian warga Cina di Batavia pada Oktober 1740. Antara 5.000-10.000 orang Tionghoa tewas dalam tragedi itu.
tirto.id - Peristiwa Geger Pacinan yang terjadi selama 13 hari pada bulan Oktober 1740 mengisi lembar-lembar sejarah Batavia dengan jejak darah. Di ibukota Hindia Belanda yang dikuasai VOC itu, telah berlangsung aksi pembantaian massal terhadap warga etnis Tionghoa.

Ribuan orang Cina, termasuk peranakan, meregang nyawa dibantai serdadu Belanda, banyak di antara mereka yang disembelih secara sadis di halaman belakang Balai Kota Batavia. Tercatat, 5.000-10.000 jiwa menjadi korban tewas, belum termasuk yang dipenjara tanpa pengadilan, hilang tanpa jejak, atau terluka parah akibat kejadian berdarah tersebut.

Geger Pacinan disebut pula dengan istilah Tragedi Angke, merujuk nama suatu daerah di pesisir utara. Mulanya, Batavia memang dibangun di atas puing-puing kota pelabuhan Jayakarta sebelum dipindahkan lebih ke tengah atau area Jakarta Pusat sekarang.


Salah satu versi tentang asal-muasal kata Angke dicetuskan oleh Alwi Shahab (2002:103) dalam buku Betawi: Queen of the East. Menurutnya, kata Angke berasal dari salah satu ragam bahasa Cina, Hokkian, yakni “ang" atau “merah” dan “ke” yang artinya “sungai”. Dengan demikian, "Angke” dapat dimaknai sebagai “sungai merah”, warna dari darah orang-orang Tionghoa yang dibantai pada 1740 itu.

Dan, orang yang harus bertanggungjawab atas berlangsungnya tindak penghancuran etnis yang mirip dengan aksi genosida beraroma SARA tersebut adalah sang gubernur jenderal, Adriaan Valckenier.

Jejak Karier Sang Penguasa

Adriaan Valckenier adalah putra daerah Amsterdam, ia dilahirkan di ibukota Belanda itu pada 6 Juni 1695. Keluarga Valckenier memang kadung lekat dengan kekuasaan. Ayah Adriaan merupakan anggota Dewan Kota sekaligus pejabat VOC yang bekerja di Amsterdam, kantor pusat perusahaan dagang Hindia Timur itu. Sedangkan kakeknya, Gillis Valckenier, pernah menjabat sebagai kepala daerah.

Setelah merintis karier di kota kelahirannya, Adriaan Valckenier meninggalkan Amsterdam pada 22 Oktober 1714 menuju Hindia Belanda. Tanggal 21 Juni 1715, ia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Batavia, dan mulai mengabdi untuk VOC yang sudah menancapkan pengaruhnya di bekas bandar dagang Sunda Kelapa itu.

Karier politik Valckenier dimulai pada 1730 ketika dirinya diangkat sebagai anggota Dewan Hindia atau Raad Extra Ordinair alias semacam parlemen luar biasa VOC. Hanya dalam waktu 3 tahun, ia sudah menjadi anggota dewan secara penuh. Pada 1736 atau saat menapak usia matang yakni 41 tahun, Valckenier masuk ke jajaran tim penasihat Gubernur Jenderal VOC saat itu, Abraham Patras, yang menjabat sejak 11 Maret 1735.


Tanggal 3 Mei 1737, Abraham Patras meninggal dunia. Adriaan Valckenier pun langsung ditunjuk sebagai penggantinya di waktu yang sama. Ia menjadi Gubernur Jenderal VOC ke-25. Ini adalah jabatan paling istimewa untuk menyebut penguasa tertinggi di Hindia Timur (Indonesia).

Geger Cina di Batavia

Semua bermula dari serbuan imigran dari negeri Cina yang kian berdatangan ke Batavia di awal abad ke-18. Sebenarnya, dibukanya Batavia untuk orang luar sudah dimulai pada masa Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon (1720-1725) yang bahkan sampai merumuskan jabatan baru yakni Kapitan Cina untuk mengatur masyarakat etnis Tionghoa di Batavia dan wilayah-wilayah lainnya di Hindia Belanda.

Ketika Adriaan Valckenier menjabat sejak 1737, populasi orang Cina di Batavia meningkat pesat seiring lesunya perekonomian dunia yang menjalar hingga ke Hindia Belanda. Salah satu indikasinya adalah lemahnya VOC dalam persaingan perdagangan gula dengan Brasil (Greg Purcell, South East Asia Since 1800, 1965:14).

Itu belum termasuk kesulitan yang juga menyerang aspek-aspek ekonomi lainnya. Jumlah pengangguran di Batavia pun melesat. Kondisi bertambah runyam karena kaum pendatang dari Cina semakin memadati kota. Yang bermukim di dalam tembok kota saja ada sekitar 4.000 orang, sedangkan yang di luar benteng tidak kurang dari 10.000 orang.


Untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi kepadatan penduduk di Batavia, Adriaan Valckenier kemudian mengirimkan orang-orang Cina, terutama mereka yang belum punya pekerjaan, ke Sri Lanka, juga ke wilayah Afrika Selatan yang diduduki VOC (Paul H. Kratoska, South East Asia, Colonial History: Imperialism Before 1800, 2001:122).

Saat rencana tersebut mulai berjalan, terdengar kabar yang meresahkan. Beredar rumor bahwa orang-orang Cina yang dikirim ke Sri Lanka atau Afrika Selatan dengan kapal itu justru dilemparkan ke laut sebelum sampai ke tempat tujuan (Jocelyn Armstrong, et.al., Chinese Populations in Contemporary Southeast Asian Societies, 2001:32).

Kabar yang belum jelas kebenarannya itu tak pelak memantik kepanikan di kalangan bangsa Cina yang masih bertahan di Batavia. Gerakan perlawanan untuk menentang kebijakan Gubernur Jenderal mulai menyeruak.

Pembantaian pun Dimulai

Akhir September 1740, situasi Batavia dan sekitarnya semakin genting karena aksi perlawanan dari komunitas Cina kian sering terjadi dan cukup masif. Willem G.J. Remmelink (2002:164) dalam Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa, 1725-1743, menuliskan bahwa orang-orang Tionghoa itu berkumpul, mempersenjatai diri, dan mulai menyerang unit-unit penting, termasuk pabrik-pabrik gula.

Adriaan Valckenier selaku Gubernur Jenderal pun menggelar rapat darurat dengan Dewan Hindia pada 26 September 1740. Hasilnya, diberikan perintah dan kuasa kepada ketua dewan yakni Gustav Willem Baron van Imhoff untuk bertindak tegas (Benny G. Setiono, Tionghoa dalam Pusaran Politik, 2008:113).

Van Imhoff sebenarnya tidak ingin menerapkan tindakan berlebihan untuk menindak pemberontakan tersebut. Rapat beberapa kali digelar lagi karena kubu kubu van Imhoff dengan pihak pendukung Valckenier masih terlibat perdebatan. Itu berlangsung hingga terdengar kabar bahwa benteng Batavia telah dikepung oleh orang-orang Cina.

Maka, aksi yang lebih beringas dari penguasa pun dimulai pada 7 Oktober 1740. Setiap orang Cina, dari bayi sampai orang tua, juga tak peduli pria atau wanita, dihabisi dengan membabi-buta. Bahkan, orang Tionghoa yang sedang dirawat di rumah sakit pun tidak luput dari pembantaian (Lilie Suratminto, “Pembantaian Etnis Cina di Batavia 1740”, Jurnal Wacana, April 2004, h. 24).


infografik adriaan si pembantai


Batavia Ajang Perang SARA

Dalam kajian Dharmowijono (2011:302) bertajuk Mengenai Kuli, Klontong, dan Kapitan: Citra Orang Tionghoa dalam Sastra Indonesia-Belanda 1880-1950, disebutkan bahwa di Meester Cornelis (kini Jatinegara) dan Tanah Abang, komunitas orang Cina membunuh 50 serdadu Belanda. Ini membuat Valckenier murka dan mengirim 1.800 tentara untuk membalasnya.

Tanggal 8 Oktober 1740, kerusuhan semakin membesar. Orang-orang Tionghoa dari wilayah sekitar Batavia, termasuk Tangerang dan Bekasi, turut bergabung hingga mencapai 10.000 orang. Thomas Stanford Raffles (1830) dalam The History of Java mencatat, 1.789 orang peranakan Cina terbunuh dalam insiden ini.

Konflik kian meluas lantaran beredar isu SARA, bahwa orang-orang Cina juga mengincar warga lokal. Mereka akan membunuh, memperkosa wanita pribumi, atau menjadikannya sebagai budak (Setiono, 2008:114). Maka, kaum pribumi dari berbagai suku yang ada di Batavia pun bergabung dengan pasukan Belanda untuk menghabisi orang-orang Cina.

Valckenier memanfaatkan situasi ini dengan menggelar sayembara. Ia menjanjikan akan memberi hadiah berupa sejumlah uang untuk setiap kepala orang Cina yang berhasil dipancung (Hembing Wijayakusuma, Pembantaian Massal 1740: Tragedi Berdarah Angke, 2005:103). Ratusan orang pun ditangkap dan dieksekusi dengan cara disembelih di halaman Balai Kota Batavia.


Aksi pembantaian orang-orang Tionghoa yang ada di Batavia tersebut berlangsung tidak kurang dari 13 hari, belum termasuk berbagai upaya pembersihan setelahnya. Antara 5.000 hingga 10.000 orang Cina tewas, dan 500 orang lainnya luka berat, juga lebih dari 700 rumah warga Tionghoa dijarah dan dibakar (W.R. van Hoevell, Batavia in 1740, 1840:447-557).

Tragedi yang juga terkenal dengan istilah Chinezenmoord atau “Pembunuhan orang Tionghoa” itu pun menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Kerajaan Belanda sendiri. Kerajaan Belanda meyakini bahwa Adriaan Valckenier selaku Gubernur Jenderal adalah orang yang paling bertanggungjawab atas terjadinya aksi keji tersebut.

Kerajaan Belanda menginstruksikan untuk segera menangkap Valckenier yang sebelumnya telah mengundurkan diri dari jabatannya. Valckenier sebenarnya berniat kembali ke Belanda, namun dengan alasan sakit dalam perjalanan, ia menetap di Cape Town, Afrika Selatan (Wijayakusuma, 2005:116).

Pada 1941, Valckenier ditangkap di Cape Town dan segera dibawa kembali ke Batavia. Namun, proses pemeriksaan berkas perkaranya terkesan bertele-tele, sementara si terdakwa meringkuk sebagai tahanan. Tanggal 20 Juni 1751 atau hampir 10 tahun ditahan tanpa kepastian vonis hukuman, Valckenier menghembuskan nafas penghabisan di balik terali besi.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS