Menuju konten utama

8 Desa di Magelang dan Boyolali Terdampak Erupsi Gunung Merapi

BNPB melaporkan sebanyak 8 desa terdampak erupsi Gunung Merapi berupa muntahkan awan panas guguran (APG) ke arah Kali Bebeng/Krasak pada pukul 12.12 WIB.

8 Desa di Magelang dan Boyolali Terdampak Erupsi Gunung Merapi
Awan panas guguran Gunung Merapi terlihat pada sore ini 9 Desember 2021. (FOTO/BPPTKG)

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak delapan desa terdampak erupsi Gunung Merapi berupa muntahkan awan panas guguran (APG) ke arah Kali Bebeng/Krasak pada pukul 12.12 WIB, Sabtu (11/3/2023).

Kedelapan desa itu meliputi Desa Mangunsuko, Desa Dukun, Desa Paten dan Desa Sengi di Kecamatan Dukun, Magelang; Desa Wonolelo dan Desa Krogowanan di Kecamatan Sawangan, Magelang; serta Desa Klakah dan Desa Tlogolele di Kecamatan Selo, Boyolali.

Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Daerah Istimewa Yogyakarta melaporkan erupsi masih berlangsung hingga pukul 12.31 WIB .

"Jarak 7 kilometer dari puncak Gunung Merapi di alur Kali Bebeng dan Krasak. Saat ini erupsi masih berlangsung," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melalui keterangan tertulis, Sabtu.

Dalam rekaman visual BPPTKG, Gunung Merapi teramati dengan jelas hingga kabut 0-II. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 50-100 meter di atas puncak kawah.

Di samping itu, Gunung Merapi teramati satu kali mengalami guguran lava dengan jarak luncur 1.500 meter ke barat daya. Suara guguran terdengar dua kali dengan intensitas sedang dari Pos Babadan.

BPPTKG mengamati status kegempaan meliputi jumlah guguran terpantau 9, amplitudo 4-11 mm dan durasi 43.9-96.6 detik. Berikutnya hybrid/fase banyak 1, amplitudo 5 mm, S-P 0.4 detik dan durasi 7.4 detik. Berikutnya untuk rekaman vulkanik dalam berjumlah 19, amplitudo 9-12 mm, S-P 0.5-1 detik dan durasi 9.3-11.2 detik.

Lebih lanjut, BPPTKG menyebut potensi bahaya Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya. Wilayah itu meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.

"Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak," ucapnya.

Guna mengantisipasi potensi bahaya erupsi Gunung Merapi, BNPB mengimbau masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya.

Masyarakat diminta agar selalu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.

BBPTKG juga menyebut apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

"Saat ini, status Gunung Merapi masih dalam level III atau siaga sejak november 2020," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Merapi di Babadan, awan panas guguran itu juga memicu abu vulkanik yang mengarah ke barat laut-utara. Petugas Pos Babadan mengatakan di lokasinya mulai terdampak abu vulkanik cukup tebal.

"Kalau APG-nya mengarah ke Barat Daya, ke Kali Bebeng dan Krasak. Tapi kalau abu vulkanik ke arah barat laut-utara. Karena faktor angin, ya," ujar Muhari.

Terkait pengungsian, BNPB belum menerima adanya laporan warga yang mengungsi di wilayah yang terdampak abu vulkanik tersebut. Saat ini, pihaknya bersama BPPTKG akan memberikan rekomendasi kepada warga sekitar untuk mengungsi apabila cakupan wilayah awan panas guguran beserta abu vulkanik berkembang dalam beberapa event dan jaraknya lebih jauh dari 7 kilometer.

"Ini kan baru terpantau satu kali event. Terjadi 5-6 kali guguran. Kalau cakupannya terus berkembang dan jaraknya lebih jauh dari 7 kilometer maka besar kemungkinan akan ada rekomendasi kepada warga agar mengungsi," jelas dia.

Hasil monitoring lapangan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten, belum ada laporan mengenai dampak signifikan maupun adanya korban jiwa. Hasil laporan dan monitoring lanjutan akan diperbarui secara berkala.

Baca juga artikel terkait ERUPSI GUNUNG MERAPI atau tulisan lainnya dari Riyan Setiawan

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Gilang Ramadhan