7 Tahun Perjalanan Robot NASA "Curiosity" Jelajah Planet Mars

Oleh: Yonada Nancy - 8 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Perjalanan "Curiousity", robot NASA yang telah berkelana selama tujuh tahun di Planet Merah Mars.
tirto.id - Mesin pengembara (rover) milik NASA bernama "Curiosity" telah berkelana selama tujuh tahun di Planet Merah Mars.

Curiosity pertama kali mendarat di Mars pada 6 Agustus 2012. Dilansir Science Alert, robot pengembara bertenaga nuklir ini rencananya hanya akan menjalankan misi selama dua tahun, tetapi karena tugasnya berjalan dengan baik, sehingga misi tersebut diberikan perpanjangan waktu hingga tidak terbatas pada Desember 2012.

Curiosity menarik minat banyak orang tentang penelitian di Planet Merah tersebut. Hal ini terbukti dari respons publik terhadap temuan-temuan yang berhasil dipublikasikan oleh para peneliti.

Temuan-temuan ini dipublikasikan di akun resmi Curiosity yang dibuka pada Juli pada 2008 lalu. Hingga Agustus, setidaknya akun ini telah diikuti oleh empat juta orang.

Banyak novel dan berbagai cerita fiksi bermunculan berkat informasi-informasi yang berhasil dikumpulkan oleh Curiosity tentang planet Mars.

Sejauh ini, Curiosity telah berpetualang sejauh 21 kilometer (13 mil) melintasi Kawah Gale. Ia juga pernah mendaki setinggi 368 meter dari dasar Gunung Sharp.

Dalam perjalanan itu, Curiosity melihat berbagai pemandangan yang belum pernah dilihat manusia, menghirup angin Mars, menginjak tanah merah, dan mengirim pulang data yang berguna bagi ilmuwan di Bumi.

Berikut beberapa prestasi lainnya yang berhasil dicapai oleh Curiosity dalam tujuh tahun terakhir yang berhasil dihimpun oleh Tirto:

Mengukur radiasi di Mars

Salah satu misi Curiosity di Mars adalah menilai keadaan lingkungannya. Menariknya adalah Curiosity merupakan mesin pertama dari jenisnya yang pernah melakukan pengukuran radiasi di planet lain.

Mesin pengembara ini membantu para ilmuwan lebih memahami bahaya radiasi dapat mempengaruhi mikroba asli atau manusia (yang rencananya akan berkunjung ke Planet Merah.

Pengukuran Curiosity menunjukkan, tingkat radiasi Mars sebanding dengan yang dialami oleh astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Curiosity mengamati tingkat radiasi yang jauh lebih tinggi selama delapan bulan penjelajahannya.

Namun secara keseluruhan, para ilmuwan mengatakan, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa para astronot dapat bertahan dalam misi Mars bolak-balik jangka panjang tanpa perlu mengkhawatirkan terpapar radiasi dalam dosis yang tinggi. Hal yang perlu dikhawatirkan justru letusan erupsi matahari yang mengarah langsung ke Mars.

Menemukan aliran air

Hanya dalam tujuh minggu setelah Curiosity mendarat, para ilmuwan misi mengumumkan bahwa mesin pengembara ini telah menemukan sebuah aliran kuno.

Para ilmuwan memprediksi di tempat tersebut pernah ada aliran air setinggi lutut selama ribuan tahun pada suatu waktu. Penemuan ini menunjukkan bahwa setidaknya beberapa bagian Mars mungkin pernah dihuni pada miliaran tahun yang lalu, karena kehidupan di tempat yang dialiri air cukup subur.

Mengebor batuan Mars

Curiosity dilengkapi dengan bor untuk menggali batuan dan tanah. Hal ini dia lakukan pada batuan singkap yang dinamakan John Klein. Ia berhasi membor sedalam 6,4 centimeter. Pengeboran ini dimaksudkan untuk meneliti Mars pada miliaran tahun lalu sekaligus mencari jejak kehidupan yang barangkali tersimpan di dalam batuan atau tanah.

Menemukan lingkungan yang layak huni

Curiosity melihat adanya kandungan bahan kimia yang berguna untuk kehidupan dalam bubuk abu-abu yang dibor dari batuan John Klein. Bahan kimia itu termasuk belerang, nitrogen, hidrogen, oksigen, fosfor, dan karbon.

Batuan berbutir halus itu juga mengandung mineral lempung yang mana menunjukkan bahwa sebelumnya lingkungan tersebut pernah disinggahi air dalam jangka waktu yang lama, seperti danau (karena ph menunjukkan tidak terlalu asin)

"Kami telah menemukan lingkungan yang layak huni yang sangat jinak dan mendukung kehidupan yang mungkin - jika air ini ada di sekitar dan Anda telah berada di planet ini, Anda akan dapat meminumnya," kata kepala ilmuwan Curiosity John Grotzinger, dari Caltech di Pasadena, yang dilansir Space.

Menemukan senyawa organik

Tahun lalu Curiosity akhirnya menemukan beberapa senyawa organik di Mars. Dalam sebuah pengeboran mudstone, teridentifikasi tiofena, metiltiofena, methanethiol, dan dimethylsulfide. Senyawa-senyawa tersebut menunjukkan bahwa kimia organik di mudstone Mars mirip dengan mudstone di Bumi.

"Dengan temuan-temuan baru ini, Mars memberi tahu kita untuk tetap berada di jalur dan terus mencari bukti kehidupan," kata salah satu peneliti di NASA Thomas Zurbuchen, seperti yang dikutip Science Alert.

Menemukan warna langit yang berkebalikan dengan Bumi

Banyak orang yang ingin merasakan tinggal di planet lain sekaligus merasakan bagaimana yang ada di planet tersebut. Hal ini dikabulkan oleh Curiosity.

Penjelajah ini mengambil sebuah foto penampakan langit di Mars. Ada yang menarik dari temuan Curiosity, jika di bumi langit sore berwarna merah dan langit pagi berwarna biru, di Mars adalah kebalikannya. Dari foto yang dikirimkan oleh Curiosity, langit siang hari Mars berwarna merah - dan matahari terbenam berwarna biru.

Gerhana matahari di Mars

Seperti postingan pada akun resmi Curiosity April lalu, mesin pengembara ini menunjukan fenomena gerhana matahari yang terjadi di Mars.

Mars memiliki dua satelit bulan, Phobos dan Deimos, dan mereka bergerak cepat. Deimos mengorbit Mars setiap 30,3 jam. Untuk Phobos, hanya 7,65 jam. Karena itu, Curiosity memiliki banyak kesempatan untuk merekam fenomena gerhana tersebut.

Gerhana di mars sangat berbeda dari gerhana matahari Bumi, karena terlihat seperti sebongkah batu yang lewat di depan Matahari, dan tidak sepenuhnya menghalangi cahaya matahari. Gerhana penuh hanya bisa terjadi di Bumi, hal ini karena Matahari dan Bulan berada pada jarak yang tepat sehingga mereka tampak hampir persis ukuran yang sama di langit dari Bumi.


Baca juga artikel terkait MISI LUAR ANGKASA atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Teknologi)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight