Menuju konten utama

10 Contoh Puisi tentang Hari Kebangkitan Nasional

Puisi kebangkitan nasional menyampaikan semangat nasionalisme untuk membangun negeri. Simak puisi Harkitnas berikut ini yang menggugah cinta Tanah Air.

10 Contoh Puisi tentang Hari Kebangkitan Nasional
Ilustrasi upacara Harkitnas. Puisi kebangkitan nasional menjadi apresiasi terhadap perjuangan untuk membangun negeri. ANTARA FOTO/Reno Esnir/kye/17.

tirto.id - Puisi kebangkitan nasional dapat disusun untuk menggelorakan kembali semangat memajukan negara ini. Indonesia memang telah merdeka, namun keberlangsungannya tetap harus dijaga.

Puisi Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) turut menjadi bukti rasa cinta tanah air. Dalam puisi tentang kebangkitan nasional umumnya tersimpan nilai nasionalisme yang kuat. Pesan tersebut akan tertanam di hati ketika puisi tentang kebangkitan nasional dibaca atau diperdengarkan.

Seperti apa puisi Hari Kebangkitan Nasional? Berikut beberapa contoh puisi kebangkitan nasional singkat, namun penuh makna.

Kumpulan Puisi tentang Hari Kebangkitan Nasional

Banyak orang mengapresiasi Harkitnas dengan membuat puisi. Seperti yang dilakukan berbagai penyair Tanah Air, sebagian puisi gubahannya memiliki semangat nasionalisme tinggi. Tak jarang melalui puisi, seorang penyair mampu mengobarkan semangat juang bagi orang yang mendengar atau membacanya.

Para pelajar pun bisa membuat puisi Harkitnas. Puisi Hari Kebangkitan Nasional untuk anak SD sampai SMA mungkin dikemas dengan bahasa lebih sederhana.

Berikut beberapa contoh puisi tentang kebangkitan nasional:

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional (1)

“Gerilya”

Oleh: WS Rendra

Tubuh biru

Tatapan mata biru

Lelaki berguling di jalan

Angin tergantung

Terkecap pahitnya tembakau

Bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru

Tatapan mata biru

Lelaki berguling di jalan

Dengan tujuh lubang pelor

Diketuk gerbang langit

Dan menyala mentari muda

Melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah

Dengan sayur-mayur di punggung

Melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis

Dan duka daun wortel

Tubuh biru

Tatapan mata biru

Lelaki berguling di jalan

Orang-orang kampung mengenalnya

Anak janda berambut ombak

Ditimba air bergantang-gantang

Disiram atas tubuhnya

Tubuh biru tatapan mata biru

Lelaki berguling di jalan

Lewat gardu Belanda dengan berani

Berlindung warna malam Sendiri masuk kota

Ingin ikut ngubur ibunya

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional (2)

"Diponegoro"

Oleh: Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai.

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional (3)

"Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini"

Oleh: Taufik Ismail

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku ?”

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional (4)

"Museum Perjuangan"

Oleh: Kuntowijoyo

Susunan batu yang bulat bentuknya

berdiri kukuh menjaga senapan tua

peluru menggeletak di atas meja

menanti putusan pengunjungnya.

Aku tahu sudah, di dalamnya

tersimpan darah dan air mata kekasih

Aku tahu sudah, di bawahnya

terkubur kenangan dan impian

Aku tahu sudah, suatu kali

ibu-ibu direnggut cintanya

dan tak pernah kembali

Bukalah tutupnya

senapan akan kembali berbunyi

meneriakkan semboyan

Merdeka atau Mati.

Ingatlah, sesudah sebuah perang

selalu pertempuran yang baru

melawan dirimu.

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional (5)

"Monginsidi"

Oleh: Subagio Sastrowardoyo

Aku adalah dia

yang dibesarkan dengan dongeng

di dada bunda

Aku adalah dia

yang takut gerak bayang

di malam gelam

Aku adalah dia

yang meniru bapak

mengisap pipa dekat meja

Aku adalah dia

yang mengangankan jadi seniman

melukis keindahan

AKu adalah dia

yang menangis terharu

mendengar lagu merdeka

Aku adalah dia

yang turut dengan barisan pemberontak

ke garis pertempuran

Aku adalah dia

yang memimpin pasukan gerilya

membebaskan kota

Aku adalah dia

yang disanjung kawan

sebagai pahlawan bangsa

Aku adalah dia

yang terperangkap siasat musuh

karena pengkhianatan

Aku adalah dia

yang digiring sebagai hewan

di muka regu eksekusi

Aku adalah dia

yang berteriak ‘merdeka’ sebelum ditembak mati

Aku adalah dia,

ingat, aku adalah dia

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional (6)

"Kubu"

Oleh: Subagio Sastrowardoyo

Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini ada bayi mati kelaparan

atau seorang istri bunuh diri karena sepi

atau setengah rakyat terserang wabah sakit –

barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang,

Tak ada alasan untuk bergembira selama masih ada orang menangis

di hati atau berteriak serak

minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi –

barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.

Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa

untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata

dekat dinding kubu dan menanti.

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional Bebas (7)

"Bangkitnya Negeriku"

Setiap pagi terasa sunyi

Tapi negeriku selalu berseri

Seruan bangkit terus saja bergema

di seantero jagad raya

Tidak mudah mengingat masa lalu kelam

Perjuangan pejuang berusaha diredam

Mereka tetap maju demi kemerdekaan

Berbekal ilmu dan sikap kebangsaan

Semangat kebangkitan nasional menggugah kembali

Agar bangsa ini berdiri dan mandiri

Melawan nista dan menolak prahara

Menuju cahaya yang dicita-cita

Segera rapatkan barisan kita,

Menjunjung tinggi nilai jati diri.

Isi perjuangan modern dengan aksi nyata

Demi bangkit Indonesia dan cinta cinta negeri

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional Bebas (8)

"Bangkit dengan Prestasi"

Hari Kebangkitan Nasional di depan mata

Waktunya kita ikut berperan serta

Lakukan semua hal yang kita bisa

Demi memajukan Indonesia tercinta

Tak pernah lapuk hati ini mencinta

Tanah Air bangsa yang kaya raya

Pesonanya tak akan pernah terlupa

Kan ku kenang sampai kapan pun juga

Aku berjanji mempertahankan itu semua

Bangsa ini tak boleh menjadi terbelakang

Sebagai pelajar, aku berikrar dengan lantang

Demi Indonesia, kabangkitan kan ku wujudkan dengan langkah nyata

Hari ini aku sibuk belajar

Di masa depan, kemajuan negeriku ku kejar

Indonesia tidak boleh berjalan paling belakang

Bangsa ini mesti bangkit sebagai yang terdepan

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional Bebas (9)

"Perjuangan dalam Kezaliman"

Aku tidak mau berpangku tangan

Hanya diam menyaksikan bangsaku merana

Semangat di dada terus akan membara

Untuk memajukan negeri dan menggenggam asa

Meski Tanah Airku sedang tidak baik-baik saja

Kezaliman modern datang dengan beragam rupa

Korupsi dan kolusi belum ada tanda berhenti

Kebijakan negeri kadang datang menyakiti

Aku memutuskan tidak untuk menyerah

Tak ku biarkan negeraku dicuri para bedebah

Kan ku tunjukkan negeri ini berprestasi kembali

dan membungkam para tikus negeri

Semangat kebangkitan nasional harus selalu menyala

Negeri ini butuh karya para pemuda

Integritas benar-benar dibutuhkan

Demi merawat Indonesia tetap menawan

Contoh Puisi Kebangkitan Nasional Bebas (10)

“Menjaga Hati untuk Kebangkitan Negeri”

Tak peduli panas cukup menyengat

Langkah ini tak pantas menjadi surut

Raga memang cukup letih berjalan

Demi negeri ini harus terus bertahan

Tidak ada pedang digenggam tangan

Hanya bermodal pikiran dan ilmu untuk melangkah

Perjuangan ini bukan untuk menumpahkan darah

Tapi mengubah cara pandang agar berjalan beriringan

Waktu boleh terus berputar

Namun membangun bangsa tak boleh berhenti

Semangat kebangkitan jangan sampai pudar

Demi kebaikan untuk seluruh negeri

Baca juga artikel terkait HARI PENTING atau tulisan lainnya dari Ilham Choirul Anwar

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Fadli Nasrudin
Penyelaras: Ilham Choirul Anwar