Menuju konten utama

5 Mitos Soal Kontrasepsi: Benarkah Pil KB Bikin Gemuk?

5 mitos soal kontrasepsi yang banyak beredar di masyarakat.

5 Mitos Soal Kontrasepsi: Benarkah Pil KB Bikin Gemuk?
Ilustrasi kondom. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Kontrasepsi merupakan hal yang penting bagi perencanaan keluarga. Kontrasepsi bisa membantu membatasi jumlah anak yang dimiliki sekaligus jarak kehamilan. Tidak hanya itu, penggunaan kontrasepsi juga dapat mencegah penyakit berbahaya yang bisa ditularkan lewat hubungan seksual seperti HIV. Sejak beberapa dekade terakhir, banyak keluarga yang berhasil menunda memiliki anak lewat penggunaan kontrasepsi.

Namun, tidak semua orang menggunakan kontrasepsi untuk merencanakan kehamilannya. WHO menyebutkan setidaknya masih ada 214 juta wanita usia reproduksi di negara berkembang, menunda kehamilannya tanpa menggunakan metode kontrasepsi modern. Salah satu alasan mengapa tingginya angka ini karena masih adanya ketakutan akan efek samping dari kontrasepsi.

Kontrasepsi sendiri merupakan segala bentuk metode, obat, atau alat yang digunakan untuk mengendalikan kehamilan. Ada berbagai jenis dan alat kontrasepsi yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan. Tentu ada efek samping dari penggunaannya, tetapi sayangnya, efek samping dari penggunaan kontrasepsi kadang sering dilebih-lebihkan sehingga menimbulkan mitos tertentu di kalangan masyarakat.

Berikut ini beberapa mitos yang berkaitan dengan kontrasepsi yang berhasil dihimpun Tirto.

  • Pil kontrasepsi bikin gemuk
Ini merupakan salah satu mitos yang paling sering muncul di kalangan masyarakat. Meskipun tak dapat dipungkiri, beberapa orang mengalami kenaikan berat badan setelah mengonsumsi pil kontrasepsi. Namun, kegemukan bukan disebabkan bertambahnya lemak.

Dilansir WebMD hal ini merupakan efek samping sementara yang disebabkan oleh retensi cairan, dan bukan lemak. Dari 44 tinjauan studi mengenai pil kontrasepsi tidak terbukti dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

  • Kondom bisa diganti dengan plastik atau balon
Kondom dirancang dan diuji sedemikian rupa untuk tetap pada tempatnya setelah pemakaian mau pun saat berhubungan seksual. Bukan hal yang bijaksana mengganti kondom dengan menggunakan plastik atau balon. Hal ini karena plastik pembungkus atau balon bukan material yang bisa digunakan untuk menghalangi pembuahan.

Alasan utama adalah karena kedua material ini tidak pas dan bisa terlepas sewaktu melakukan hubungan seksual. Tentu ketika terlepas, pembuahan bisa terjadi dan meningkatkan risiko kehamilan.

Infografik SC 5 Mitos Kontrasepsi

Infografik SC 5 Mitos Kontrasepsi. tirto.id/Fuad

  • Menggunakan spiral dapat menyebabkan kehamilan etopik
Faktanya penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) seperti IUD atau yang dikenal dengan KB Spiral tidak menyebabkan kehamilan etopik atau hamil di luar rahim. Dilansir dari Better Health, penggunaan IUD efektif menurunkan kemungkinan kehamilan termasuk kehamilan etopik. Kontrasepsi ini dinilai cukup aman dan efektif.

  • Wanita yang belum memiliki anak tidak boleh menggunakan AKDR
Penggunaan AKDR sebetulnya boleh digunakan remaja maupun wanita yang belum memiliki anak. Hal ini karena implan kontrasepsi sejenis IUD memiliki efektivitas yang tinggi dalam menunda kehamilan. Pemasangannya pun relatif mudah. AKDR saat ini justru direkomendasikan sebagai pilihan pertama bagi wanita yang belum hamil atau melahirkan bayi.

  • Mandi dan buang air kecil segera setelah berhubungan seksual agar tidak hamil
Mandi hanya membersihkan cairan semen di luar vagina dan tidak menyebabkan efek apa pun terhadap sperma yang sudah ada di dalam. Sperma juga memiliki kemampuan berenang yang sangat cepat ke arah uterus. Buang air kecil juga tidak dapat membuang sperma. Hal ini karena urine tidak keluar dari vagina, yakni tempat di mana masuknya sperma.

Baca juga artikel terkait ALAT KONTRASEPSI atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Dipna Videlia Putsanra