2019 adalah Tahun Kemenangan Huawei

Kantor Huawei. FOTO/arnnet.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 9 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Huawei tetap perkasa meski sempat dilarang berhubungan dagang.
tirto.id - Pada akhir 2019, sebagai ritual tahunan, berbagai platform, media, dan macam-macam publikasi lainnya merangkum apa yang terjadi setahun ke belakang. Google mempublikasikan “Year in Search 2019” dan Youtube merilis “Youtube Rewind 2019: For the Record.” Sementara Vox menjelaskan apa yang terjadi pada 2019 dengan “2019, in 6 minutes,” Twitter Indonesia membagikan #RameDiTwitter.

Semuanya punya pandangan berbeda tentang apa saja yang menarik perhatian publik atau terbaik dalam bertindak selama 2019. Di ranah teknologi, Samsung boleh jumawa merilis Galaxy Fold. OPPO mungkin bangga dengan capaian pengiriman 31,2 juta unit ponsel ke tangan konsumen pada kuartal lalu. Tapi, jika harus memilih entitas teknologi mana yang jadi jawara di tahun 2019, Huawei adalah jawabannya.

Mengapa?

Dijegal Paman Sam


“Pemerintah Amerika Serikat mencoba membunuh kami,” ucap Abraham Liu, salah seorang pemimpin tertinggi Huawei kantor cabang Uni Eropa.

Huawei, perusahaan teknologi asal Cina yang memperkirakan akan memperoleh pendapatan sebesar $121,66 miliar pada 2019, menghadapi tantangan serius. Mei 2019, raksasa internet sekaligus pemilik Android Google memutuskan memutus kerjasama lisensi Android pada Huawei. Sebagaimana dilansir Reuters, pemutusan hubungan bisnis itu mencakup kerjasama perangkat keras dan layanan teknis antara dua perusahaan.

Selain Google, perusahaan besar lain yang memutus hubungan dengan Huawei pada pertengahan 2019 lalu ialah ARM, yang menurut Richard Windsor, dalam laporannya di Forbes, menyatakan tindakan ARM memperparah—dan bahkan memperburuk—situasi Huawei dibandingkan Google. Menurutnya, teknologi ARM adalah "pusat dan bagian fundamental dalam dunia perangkat, baik itu ponsel, PC, maupun data center".

Terakhir, Huawei pun dilarang mengikuti tender-tender telekomunikasi di Amerika Serikat.

Sikap keras AS kepada Huawei merupakan tindak-lanjut atas ditandatanganinya perintah eksekutif Presiden Donald Trump soal larangan perusahaan-perusahaan AS (dan sekutunya) berhubungan dagang dengan perusahaan telekomunikasi asing jika terindikasi membahayakan keamanan nasional. Huawei, menurut Amerika, masuk dalam daftar perusahaan asing yang membahayakan keamanan nasional.

Menurut pandangan AS, Beijing memiliki kekuatan memaksa perusahaan seperti Huawei memasang backdoor atau celah pada produknya yang dapat digunakan sebagai alat mata-mata. Apalagi, AS curiga Huawei punya hubungan istimewa dengan pemerintah Cina karena sang pendiri, Ren Zhengfei, diklaim pernah ikut serta dalam Kongres Partai Komunis pada 1982. Lalu, menurut klaim lain, Huawei memiliki Komite Partai Komunis di tubuh perusahaan.

Meskipun pada 2007 silam, menurut bocoran Edward Snowden, National Security Agency gagal menemukan fakta bahwa produk-produk Huawei digunakan oleh Beijing untuk melakukan aksi mata-mata atas infiltrasi pada kode sumber (source code) beberapa perangkat buatan Huawei, kredit lunak jangka panjang senilai $30 miliar dari China Development Bank mengkhawatirkan AS.

Apa yang diputus Presiden Trump soal Huawei Mei lalu merupakan puncak dari serangkaian kecurigaan menahun sejak 2005. Pada tahun itu, think tank AS RAND Corporation merilis laporan berjudul “A New Direction for China’s Defense Industry” untuk Angkatan Udara Amerika. Salah satu fragmen laporan itu menyebut Huawei bekerjasama dengan militer Cina untuk mengembangkan sistem persenjataan. Lalu, tujuh tahun berselang, Congress Intelligence Committee, komite intelijen pada DPD Amerika yang dipimpin Mike Rogers, menyatakan bahwa Huawei berbahaya bagi keamanan nasional.

Terakhir, di awal 2019 lalu, peneliti Christopher Balding dan Donald Clarke menyatakan bahwa 99 persen saham Huawei dimiliki Pemerintah Cina.

Paman Sam khawatir jika bos Huawei Ren Zhengfei akan bertindak bagai Q yang memberikan beragam perangkat canggih mata-mata pada James Bond. Karenanya, di mata Washington, perusahaan ini mesti dijegal.

Tuduhan AS bahwa Huawei dapat digunakan Pemerintah Cina melakukan mata-mata, menurut Lui, menggelikan. Sebagaimana dilaporkan The New York Times, jika tuduhan benar, “Huawei bagai melakukan bunuh diri.”

Entah tuduhan Amerika benar atau tidak, yang jelas, sebagai perusahaan yang pada 2018 lalu memperoleh setengah dari $107 miliar dari berjualan Android, perintah eksekutif Donald Trump mengancam hidup Huawei.

Akibat blokade Amerika, Ren Zhengfei menyebut perusahaannya kemungkinan akan kehilangan pendapatan senilai $30 miliar pada 2019. Dalam wawancaranya dengan Deirdre Bosa dari CNBC, Zhengfei menyebut permasalahan ini sesungguhnya bukan dalam konteks pasar domestik karena di Cina. "Kami tidak melihat penurunan bisnis. Namun, dalam konteks pasar internasional, dalam keadaan terburuk, bisnis Huawei bisa turun hingga 40 persen,” ujar Zhengfei.

Namun, waktu kemudian membuktikan Huawei tidak tumbang karena keputusan Trump. AS sendiri menunjukkan tanda-tanda kekalahan atas lawan yang dibuatnya sendiri. Tandanya, dua bulan selepas titah Trump membendung Huawei dilakukan, selebtwit sekaligus presiden @realDonaldTrump berubah pikiran. Trump menyatakan dirinya mengizinkan Huawei kembali membeli produk-produk dari Amerika Serikat. Pernyataan tersebut terucap usai ia bertemu Presiden Cina Xi Jinping dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 (Group of 20) di Osaka, Jepang.

Yang lebih nyata, kekalahan Amerika atas Huawei tercermin dari 5G, suatu teknologi penerus 4G, 3G, dan berbagai G yang telah muncul sebelumnya dalam kehidupan digital dan komunikasi manusia kini. Sederhananya, teknologi 5G adalah generasi ke-5 dari teknologi telepon seluler.

Huawei si Penguasa 5G


Secara teknis, 5G akan dioperasikan di pita frekuensi tinggi dari spektrum wireless. 5G akan bercokol di spektrum dengan rentang 30 GHz dan 300 GHz. Atau, dengan bahasa yang lebih sederhana, 5G akan bercokol di spektrum milimeter. Suatu spektrum yang mampu mentransfer kumpulan data dengan kecepatan yang tinggi. Menurut perkiraan, jaringan 5G akan menghadirkan internet dengan kecepatan hingga 800 Gigabyte per detik alias seratus kali lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya, yang kini kita nikmati.

Artinya, 5G akan memberikan perubahan signifikan pada kehidupan digital manusia.

Peneliti teknologi dari Institute for the Future Richard Adler mengatakan, “Daripada ribuan tower telekomunikasi dibangun, 5G dibuat dengan menempatkan jutaan titik antena.” Sederhananya, Adler ingin mengatakan bahwa pembangunan 5G berbeda dibandingkan 4G atau generasi lainnya.



Sayangnya, sebagaimana diwartakan Politico, Amerika nampaknya akan gagal menyelimuti seluruh wilayahnya dengan 5G. Pasalnya, Amerika kekurangan tenaga kerja untuk membangun 5G yang memerlukan infrastruktur masif. Brendan Carr, anggota Federal Communications Commission, memperkirakan Amerika butuh 20.000 tenaga kerja yang khusus bekerja memasang antena-antena 5G. Yang lebih menyedihkan, kekurangan tenaga ahli juga dialami AT&T, Verizon, dan T-Mobile, perusahaan-perusahaan telekomunikasi Amerika.

Di sisi lain, Huawei bagai tancap gas soal 5G. Perusahaan ini mungkin tidak bisa ikut serta membangun jaringan 5G di Amerika, tetapi perlu dicatat, Huawei adalah salah satu pemilik paten 5G terbanyak di dunia. Huawei memiliki 10 persen dari 1.450 paten 5G. Bandingkan misalnya dengan Ericsson, pemain besar lain di bidang infrastruktur telekomunikasi, yang hanya memiliki 8 persen total paten 5G.

Dengan kepemilikan paten 5G yang besar, Huawei bisa membalikkan jegalan yang dilakukan Amerika padanya. Menurut klaim Huawei mereka telah memperoleh 50 kontrak pengerjaan infrastruktur 5G di seluruh dunia pada 2019. Bahkan, sekutu-sekutu terdekat Amerika mendekat ke Huawei untuk menyediakan 5G bagi warga mereka.

Misalnya, Viktor Orban, Perdana Menteri Hongaria yang juga seorang sahabat Trump. IA mengumumkan bahwa negeri yang dipimpinnya menunjuk Huawei untuk mengerjakan proyek 5G di negerinya. Kanselir Jerman Angela Merkel pun menegaskan bahwa Huawei boleh ikut tender telekomunikasi di wilayahnya.

Secara umum, Huawei memang tengah berupaya memenangkan hati para pemimpin Eropa. Bahkan, dalam laporan The New York Times, selain menggelontorkan uang senilai $3 juta untuk melakukan lobi, mereka mengadakan debat publik terbuka, mengundang anggota parlemen Uni Eropa dan menyiarkannya melalui streaming. Salah satu pesan yang ingin disampaikan adalah: “Nilai luhur yang dijaga Eropa adalah soal keterbukaan, inovasi, serta supremasi hukum. Huawei menjunjung tinggi nilai itu. Amerika tidak.”

Via 5G, Huawei memenangkan pertarungannya dengan Amerika Serikat.

Baca juga artikel terkait HUAWEI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight