STOP PRESS! Pejabat Pajak Handang Soekarno Divonis 10 Tahun Penjara

17 Juli 1979: Komunis Sandinista Gulingkan Diktator Somoza

17 Juli 1979: Komunis Sandinista Gulingkan Diktator Somoza
Anastasio "Tachito" Somoza DeBayle, Presiden Nikaragua ke-76. FOTO/istimewa
Reporter: Windu Jusuf
17 Juli, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Somoza adalah salah satu diktator paling korup di Amerika Latin. Penggulingan Somoza oleh Sandinista memicu perang sipil.
tirto.id - “Somoza mungkin bajingan, tapi dia bajingan kita,” ujar Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt pada 1939 kepada majalah Time tentang diktator Nikaragua, Jenderal Somoza.

Pada 17 Juli 1979, Frente Sandinista de Liberación Nacional (FSLN) menggulingkan diktator Nikaragua Anastasio Somoza. BBC melaporkan, setelah pertempuran yang sengit di ibukota Managua, Somoza kabur bersama 45 orang lainnya dan mendarat di pangkalan Angkatan Udara AS di dekat Miami, Florida. 

Selama dua bulan, ofensif militer digencarkan oleh kedua kubu, Sandinista dan pasukan pemerintah. Setahun sebelumnya, Januari 1978,  Pedro Chamorra, jurnalis dan pemilik koran La Prensa yang beroposisi terhadap pemerintah, terbunuh. Pemakamannya yang dihadiri ribuan orang dan berujung kerusuhan di Managua, menyatukan Gereja Katolik dan Sandinista dalam satu front. Peristiwa itu akhirnya menandai awal dari akhir rezim Somoza.

Dekade 1970an adalah masa-masa repot bagi Paman Sam. Revolusi di Iran meletus pada 1978 diikuti penyanderaan seisi kedubes AS di Tehran setahun setelahnya. Lalu kaum komunis di Afghanistan mengambil alih pemerintahan, pembangkangan di daerah-daerah, kemudian disusul oleh invasi Soviet ke negeri tersebut. Situasi domestik juga tak cerah: angka pengangguran bertumpuk akibat resesi ekonomi 1973-75. Presiden Jimmy Carter, yang berusaha terpilih kembali dalam pemilu 1980, terbukti keok oleh Reagan lantaran kampanye negatif “Carter lembek”.  

Siapa Somoza?

Ada banyak Somoza di Nikaragua. Komandan Garda Nasional Jenderal Anastasio Somoza Garcia melakukan kudeta pada 1937 dan jadi diktator. Sembilan belas tahun kemudian Anastasio Somoza dan digantikan oleh anaknya, Luis Somoza Debayle, yang bukan hanya penjahat di Nikaragua, tapi juga di Kuba lantaran mengizinkan milisi rekrutan CIA berangkat dari pantainya ke Kuba untuk menggulingkan Castro dalam operasi Teluk Babi (1962). Pada 1967 Luis Somoza meninggal oleh serangan jantung. Pengantinya adalah Anastasio Somoza Debayle, adiknya sendiri.   

Karakteristik moral dan politik klan Somoza sungguh sederhana: serdadu playboy anti-komunis yang korup, tiranik, membunuh, lagi didukung Paman Sam.

Keluarga Somoza menguasai seperempat lahan subur Nikaragua. Seperti yang dilaporkan Tim Merrill, et al dalam Nicaragua: A Country Study (1933), bisnis keluarga Somoza mencakup komoditas ekspor, khususnya kopi dan ternak. Bisnis tekstil, gula, rum, hingga Lanica (maskapai penerbangan nasional) juga dikuasai oleh klan Somoza. Kekayaan yang diperoleh keluarga Somoza dari bisnis-bisnis itu masih ditambah dengan keuntungan yang  dari perusahaan asing, suap, dan ekspor ilegal. Pada akhir Perang Dunia II, Somoza García adalah salah satu orang terkaya di Amerika Latin, dengan total perkiraan kekayaan $60 juta. Ekonomi Nikaragua tergantung pada ekspor produk pertanian, yang sembilan puluh persennya masuk ke AS.

Di bawah klan Somoza, Nikaragua menjadi sekutu antikomunis yang penting di Amerika Tengah. Sebagaimana dilaporkan suratkabar mahasiswa Harvard Crimson, dari 1946 hingga tahun 1976 Somoza menerima program-program bantuan militer senilai lebih dari $29 juta dan bantuan ekonomi sebesar $300 juta, mayoritas dibelanjakan untuk membeli perlengkapan militer dari AS dan kemudian Israel pada dekade 1970an.  

Jenderal Somoza Garcia menyediakan lahan pribadinya untuk kamp milisi Guatemala yang dilatih CIA. Tanah yang sama juga digunakan untuk melatih milisi Kuba bentukan CIA, yang diberangkatkan langsung dari pantai Nikaragua ke Havana dalam insiden Teluk Babi 1961.

Dalam Haiti: State Against Nation: The Origins and Legacy of Duvalierism (1990), Antropolog Michel-Rolph Trouillot menuturkan bahwa Somoza adalah bagian dari tradisi kediktatoran sayap kanan Amerika Latin, yang membangun kekuasaannya melalui patronase militer AS dan sentimen populis “kepribumian” yang marak sejak dekade 1930an. Selain Somoza Garcia, Trouillot juga menyebut diktator Raphael Trujillo di Republik Dominika dan François “Papa Doc” Duvalier di Haiti.

Namun, berbeda dari bapak dan abangnya, penguasa terakhir dari klan Somoza, Somoza Debayle, bukan politisi ulung lagi vulgar. Debayle tidak merasa perlu membungkus kekuasaannya dengan kemasan populis. Ia bisa lakukan apapun yang ia mau, seakan negeri itu ruang tamu pribadinya. Misalnya dalam kasus gempa besar di Managua pada 1972, yang menewaskan 20 ribu orang dan membuat 250 ribu lainnya tinggal di pengungsian. Debayle, yang memperpanjang periode kepresidenannya dengan mengubah konstitusi dan membentuk pemerintahan junta pada 1972, mengambilalih pengelolaan dana bantuan kemanusiaan internasional senilai $250 juta. Sementara Garda Nasional menjual tanah warga korban gempa, serta bantuan obat-obatan dan bahan pangan di pasar gelap. Tepat setelah bencana nasional ini, kemarahan rakyat Nikaragua mulai memuncak. 

Saking vulgarnya, ketika ditanya tentang rendahnya angka melek huruf di negerinya, Somoza kecil berkomentar: “Saya tidak ingin penduduk yang cerdas. Saya hanya butuh sapi ternak.”

17 Juli 1979: Komunis Sandinista Gulingkan Diktator Somoza

Oposisi Bergerak

Rakyat Nikaragua bukan tidak melawan. Sepanjang 1970an, ketika kualitas melek huruf, kurang gizi, dan layanan kesehatan turun drastis, oposisi liberal dan gereja katolik semakin keras mengecam pemerintahan Somoza Debayle. Pada Pada awal 1960an, FSLN didirikan oleh José Carlos Fonseca Amador, Silvio Mayorga, dan Tomás Borge Martínez. Nama kelompok yang terinspirasi oleh revolusi Kuba (1959) ini berasal dari Augusto Sandino, seorang prajurit yang bergerilya melawan Marinir AS dan Garda Nasional serta menentang keras pendudukan AS di Nikaragua. Bermula dari 20 orang, pada tahun 1970an, FSLN mulai melakukan operasi-operasi militer kecil dengan bantuan tani dan pelajar.

Puncaknya, pada 1974, FSLN menyandera para pejabat kunci yang masih berkerabat dengan Somoza. Sebagai balasan, Somoza mengumumkan keadaan darurat dan meluncurkan operasi militer untuk menghabisi FSLN. 

Pada 1977, kekuasaan Somoza semakin goyah. Pemerintahan AS di bawah Presiden Carter menegur Nikaragua atas kasus-kasus pelanggaran HAM dan mengancam akan membatalkan bantuan militer rutin. Washington Post mencatat, demi mendapatkan kucuran dana $2,5 juta, Somoza Debayle terpaksa menghentikan keadaan darurat pada 1977. 

Pada 1978, bangkitnya oposisi sipil pasca-pembunuhan Pedro Chamarro memicu hengkangnya pemodal asing dan membuat negeri itu bergantung pada pinjaman luar negeri yang mayoritas berasal dari bank-bank AS.  

Tekanan juga datang dari negeri-negeri jiran. Washington Post menulis, oposisi terhadap Somoza tidak hanya memicu kekerasan di dalam negeri, tetapi juga “mengancam stabilitas seluruh kawasan Amerika Tengah.” Presiden Venezuela Carlos Andres Perez mengultimatum akan memutus pasokan minyak ke Nikaragua jika Somoza tidak turun dari jabatannya dalam waktu dua minggu. Langkah ini mendapat persetujuan dari Washington. Tak hanya itu, Perez juga memberikan dukungan politis dan keuangan untuk FSLN. 

Begitu Somoza lengser, pemerintahan FSLN menasionalisasikan tanah milik keluarga Somoza. Pada 1984 Daniel Ortega memenangkan pemilu. Namun, dukungan AS atas demokratisasi Nikaragua berbalik arah. Di bawah Presiden Reagan, pemerintah AS mendanai gerilyawan Contra untuk menghancurkan pemerintahan baru mendorong terjadinya perang sipil yang baru berakhir pada 1988 dengan perjanjian damai antara kedua kubu. Pemerintahan Reagan juga menggelontorkan bantuan militer dan finansial secara besar-besaran untuk mencegah El Salvador dan Guatemala untuk mencegah situasi mirip Nikaragua terjadi di negeri-negeri tersebut.

Pada 1990, Violetta Chamorro, janda Pedro Chamorro, terpilih sebagai presiden.

Baca juga artikel terkait KOMUNIS atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - win/nqm)

Keyword