Zomato Hengkang dari Indonesia Demi Ambisi Besar Mengejar IPO

Aplikasi Zomato. ANTARA/HO Zomato Indonesia
Oleh: Ahmad Fauzan - 20 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Zomato masih optimistis bisa memperbaiki kinerja keuangannya di tengah pandemi. Hengkang dari Indonesia demi menjaga likuditas dan kejar IPO.
Bagi para pengguna Zomato di Indonesia, agaknya tidak ada bulan yang lebih menyedihkan dibanding November 2020 ini. Pasalnya, platform katalog kuliner tersebut memutuskan angkat kaki dari Indonesia pada pengujung November nanti. Zomato pergi membawa opsi layanan berbayar Zomato Gold yang sebelumnya ditawarkan ke para pengguna di tanah air.

Meski begitu, Zomato sebenarnya tidak sepenuhnya pergi. Layanan katalog gratisnya tetap bisa diakses orang Indonesia.

“Kami akan mengatur platform di Indonesia lewat jarak jauh dari India dan tetap memberikan pencarian restoran,” kata perusahaan yang awalnya lahir dengan nama Foodiebay itu dalam keterangan resminya.

Namun, pernyataan itu tidak bisa menghapus kesedihan para penikmat layanannya. Hisyam (28) seorang maniak kuliner asal Jakarta Selatan, misalnya, merasa kecewa karena tidak bisa lagi memanfaatkan keuntungan Zomato Gold.

Salah satu keuntungan menjadi anggota Zomato Gold adalah kesempatan mendapat penawaran beli satu gratis satu untuk makanan. Ada pula penawaran beli dua gratis dua untuk minuman di lebih dari 600 restoran di Jabodetabek.

“Kalau buat saya, penawaran itu berguna banget. Kalau sudah tidak ada, ya pasti kecewa,” kata Hisyam kepada Tirto.

Hal senada juga diutarakan Tiar (32), pengguna Zomato Gold asal Depok, Jawa Barat. Tiar awalnya menjajal layanan premium Zomato karena termakan iklan para selebgram.

“Tapi, setelah dicoba, makin ke sini kok nyaman dan cocok dengan penawaran-penawarannya,” kata Tiar.

Hengkangnya Zomato dari Indonesia sebenarnya bukan tindakan tiba-tiba. Tanda-tandanya sudah terendus sejak pertengahan Mei 2020, kala pandemi COVID-19 telah dua bulan merebak di Indonesia. Pandemi mengakibatkan pembatasan aktivitas luar ruang di banyak negara—termasuk Indonesia.

Kelesuan bisnis selama pandemi membuat Zomato terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 520 karyawannya—setara dengan 13 persen total jumlah pekerjanya. Karyawan yang tidak kena PHK pun terimbas pemangkasan gaji. Pendiri sekaligus CEO Zomato Depinder Goyal juga sempat berkirim surel ke seluruh stafnya untuk membebaskan mereka mencari pekerjaan lain.

“Sudah terlalu banyak restoran yang tutup permanen dan kami tahu ini hanyalah bagian kecil dari gunung es. Saya sendiri memperkirakan jumlah restoran akan menyusut 25-40 persen dalam 6-12 bulan,” kata Goyal dalam rilisan resminya.


Masih Optimistis

Sejak pandemi COVID-19 menerjang India, Zomato telah melakukan alih fokus ke bisnis layanan pesan antar kuliner. Namun, langkah mitigasi tersebut pada akhirnya tidak berpengaruh signifikan.

Asosiasi Restoran India menyebut bahwa Zomato dan beberapa penyedia jasa pesan antar makanan lain seperti Swiggy mengalami kontraksi permintaan hingga 70 persen selama Februari dan April.

Kontraksi tersebut dipicu penurunan daya beli masyarakat. Kondisi itu tidak saja membuat pendapatan platform surut, tapi juga bikin restoran kehilangan keuntungan. Alhasil, restoran-restoran di India jadi kesulitan untuk tetap menyediakan penawaran diskon. Padahal, bagi para pengguna platform macam Zomato, diskon adalah daya tarik.

“Tidak lebih dari 20 persen restoran yang bisa beroperasi seperti biasa pada saat-saat berat macam ini,” kata Presiden Asosiasi Restoran Nasional India Anurag Katriar seperti diwartakan Economic Times.


Dampak dari situasi tersebut bagi Zomato bisa ditebak. Pada Juli 2020, Zomato mengumumkan kinerja keuangan terkininya, termasuk kinerja untuk pencatatan fiskal Mei-Juni 2020, yang menampakkan pemasukan perusahaan mentok di angka 41 juta dolar AS. Pendapatan itu menyusut dari angka rata-rata pendapatan kuartal sebelumnya yang berkisar 98,5 juta dolar AS.

Bila statistiknya dikerucutkan khusus di bulan Juni, perusahaan bahkan cuma menghasilkan pendapatan 17 juta dolar AS dan mengalami kerugian senilai 1,5 juta dolar AS. Meski begitu, Zomato menyatakan optimistis bisa memperbaiki kinerja keuangannya.

“Pada Juli 2020, kami memperkirakan burn rate bulanan perusahaan bisa ditekan di bawah sejuta dolar AS. Sementara itu, pendapatan kami seharusnya turun pada level 60% dari dari kondisi sebelum COVID (23 juta dolar AS per bulan). Kami berharap dapat pulih sepenuhnya dalam 3-6 bulan mendatang sambil terus mempertahankan kontrol yang ketat pada biaya dan profitabilitas,” tulis Zomato.

Lalu, pada pertengahan Oktober, Goyal mengklaim Zomato telah mengalami pemulihan permintaan ke level normal—khususnya di segmen pesan antar.

“Senang mengabarkan bahwa volume permintaan pesan antar makanan di India telah kembali ke fase sebelum COVID-19. Beberapa kota bahkan mengalami penguatan permintaan 120 persen,” cuit Goyal lewat akun Twitternya pada 12 Oktober 2020.

Lantas, mengapa Zomato tetap bertekad bulat angkat kaki dari Indonesia meski perkembangannya menunjukkan tren positif?


Mengejar IPO

Jawabannya bisa dirunut dengan melihat perkembangan terkini pendanaan Zomato. Pada 13 November 2020, Zomato mengumumkan telah mendapat putaran pendaan baru sebesar US$195 juta. Tambahan modal baru ini datang dari enam investor, termasuk di antaranya adalah Kora Management dan Luxor Capital.

Sebulan sebelumnya, Zomato juga mendapat suntikan dana sebesar US$160 juta dari Tiger Global Management LLC dan salah satu unit bisnis Temasek Holdings.

Dua pendanaan beruntun tersebut membuat valuasi Zomato meningkat jadi US$3,6 miliar. Laporan Reuters menyebut bahwa tujuan peningkatan valuasi ini tidak bisa lain adalah untuk melantai di bursa saham (IPO).


Goyal dalam sebuah wawancara dengan Livemint membenarkan bahwa perusahaannya mengejar IPO pada semester I/2020 lalu.

“Kami telah mengumpulkan banyak uang dan hari ini kami sudah menyimpan uang tunai US$250 juta di bank—tertinggi sepanjang sejarah Zomato,” kata Goyal dalam emailnya. “Riger Global, Temasek, Bailie Gifford, dan Ant Financial telah berpartisipasi dalam pendanaan kami. Masih ada banyak nama besar yang akan bergabung.”

Goyal pun tidak menampik bahwa berbagai manuver yang baru-baru ini dilakukan Zomato—termasuk memangkas unit usaha mereka di negara lain—merupakan bagian dari refocusing perusahaan untuk melantai di bursa.

Zomato berharap likuiditas mereka bisa terjaga dengan meminimalisasi risiko kerugian, termasuk menutup cabang-cabang yang berisiko. Sehingga, ketika melantai di bursa dan mendapat modal tambahan pada tahun depan, Zomato siap lepas landas dengan visi dan target yang lebih besar.

Laporan CNBC pada awal November 2020 seolah mempertegas pemberitaan tersebut. CNBC bahkan menyebut Zomato telah menunjuk Kotak Mahindra Bank sebagai bank yang akan membantu persiapan IPO Zomato. Di saat bersamaan, Cyril Amarchand Mangaldals dan Indus Law juga disebut-sebut telah mendapat kepercayaan sebagai penasihat legal persiapan IPO Zomato.

Baca juga artikel terkait ZOMATO atau tulisan menarik lainnya Ahmad Fauzan
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight