Demi Apa Startup Unicorn Menggelembungkan Valuasi?

Ilustrasi Start Up yang meroket. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 24 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebanyak 50 persen startup bergelar Unicorn “overvalued” alias memiliki nilai terlalu tinggi.
Aileen Lee, investor asal Cina yang mendirikan venture capital bernama Cowboy Ventures pada 2012, tak ingin sembarangan memberikan modal pada startup atau perusahaan rintisan. Ia mewajibkan sejumlah syarat, salah satunya adalah data. Data tersebut berisi segala informasi tentang siapa yang mendirikan startup, kapan dimulai, berapa uang yang telah diperoleh, dan berapa nilai mereka sesungguhnya. Sayangnya, pada tahun itu belum ada informasi komprehensif yang mendata startup, seperti yang dilakukan Crunchbase.

Lee kemudian mendata seorang diri segala hal tentang startup yang hendak dimodali para investor. Dalam artikelnya yang terpampang di Techcrunch, Lee lantas memberikan julukan “unicorn” pada startup-startup yang memiliki nilai valuasi lebih dari $1 miliar.

“Unicorn nampak seperti istilah biasa-biasa saja,” kata Lee.

“Tapi, dari perspektif investor, dengan menggunakan cara kerja matematika, Anda harus berinvestasi pada Unicorn. Katakanlah, Anda memiliki dana satu miliar dolar. Anda harus menginvestasikan dana tersebut ke startup yang telah punya nilai $10 miliar untuk dapat mengelola dana Anda dengan baik,” katanya.

Saat artikel dipublikasikan, Lee mencatat hanya ada satu dari 1.538 startup teknologi yang dicap sebagai unicorn atau secara total hanya ada 39 startup di seluruh dunia. Gelar Unicorn adalah sesuatu “yang sangat langka dan sangat mengagumkan,” katanya.

Laporan berjudul “Unicorn Trends: The Data Behind the World’s Most Valuable Private Companies” yang dikeluarkan CB Insights mengatakan per tahun 2017 ada 185 startup bergelar Unicorn. E-commerce, merupakan sektor teknologi penyumbang startup Unicorn yang menyumbang 18 persen, disusul oleh sektor software as service (SaS) sebanyak 14 persen.

Startup bergelar Unicorn berasal dari banyak negara di dunia, Amerika Serikat tercatat yang paling banyak menyumbang. Totalnya ada 52 persen startup bergelar Unicorn berasal dari AS. Sebanyak 23 persen lainnya, berasal dari Cina, sisanya Inggris, India, dan Indonesia.

Secara menyeluruh, semua startup bergelar Unicorn tersebut menghasilkan nilai valuasi sebesar $663 miliar. Uber berada di peringkat teratas dengan evaluasi sebesar $12,5 miliar. Sayangnya, dari total itu, 15 startup unicorn teratas menyumbang 51 persen atau $338 miliar atau hanya ada sedikit startup yang mendominasi masuk jajaran Unicorn.



Unicorn yang Terlalu Mahal


Will Gornall, peneliti dari University of British Columbia, dalam papernya berjudul “Squaring Venture Capital Valuations with Reality” mengatakan hampir 50 persen startup bergelar Unicorn “overvalued” alias memiliki nilai terlalu tinggi. Gornall dan timnya menyatakan dari 135 startup unicorn yang diteliti, sebanyak 65 di antaranya memiliki nilai yang terlalu tinggi dibandingkan nilai semestinya.

Airbnb, startup host-sharing, salah satunya. Data per September 2016 menyatakan perusahaan tersebut memiliki nilai valuasi $30 miliar. Namun, Gornall dan timnya menyatakan valuasi semestinya dari Airbnb hanya $26,1 miliar. Ini pun terjadi pada Buzzfeed. Nilai valuasi pada November 2016 startup sebesar $1,70 miliar. Namun, Gornall menyatakan nilai sesungguhnya hanya berada di angka $1,08 miliar.

Paper buatan Gornall itu pun menyebutkan beberapa startup, perbedaan nilai valuasi antara yang dinyatakan dan keadaan sesungguhnya bahkan membuat beberapa startup bergelar unicorn harus rela melepaskan gelarnya. Flipboard, startup yang merilis aplikasi pengepul berita jadi contohnya. Nilai valuasi pada Juli 2015 mencapai $1,3 miliar. Namun, paper itu menyebutkan Flipboard hanya memiliki nilai valuasi $700 juta, alias kurang dari $300 juta untuk meraih status unicorn.

Mengapa ini bisa terjadi? Guna memperoleh pendanaan baru, startup bahkan mau menerima pendanaan dari pemodal atau aksi korporasi dengan syarat-syarat khusus, misalnya hak veto. Aksi korporasi ini bisa memicu dilusi saham atau pengurangan besaran saham para investor lama.

Gornall, dalam wawancaranya pada Wired, mengatakan penyusutan startup memang masalah yang harus dibenahi “menjual BMW, dengan harga BMW [...] Namun mereka memberikan para karyawan dan investor terdahulu Kia dan menghitung Kia sebagai BMW.”


Pondasi Utama Startup Unicorn


Gelar Unicorn punya makna tersendiri bagi sebuah startup. Salah satunya, seperti yang disinggung Lee di atas. Startup Unicorn lebih disukai investor. Ini jadi alasan mengapa kasus overvalued banyak terjadi saat pada startup. Sebagaimana diwartakan Forbes, startup bergelar unicorn terus tumbuh tiap tahunnya. Pada 2013, mereka mencatat hanya ada 17 unicorn. Lalu meningkat hampir dua kali lipat menjadi 32 unicorn di 2014, ada 80 startup unicorn pada tahun berikutnya.

Gornall mengatakan pada tiap-tiap startup bergelar unicorn, tak bisa dilepaskan dari pengaruh venture capital, sebagai firma pemberi modal. Di akhir dekade 1970-an, sepertiga dari perusahaan “go public” yang ada di AS didukung sepenuhnya oleh venture capital. Semua startup bergelar unicorn hari ini, didukung vanture capital.

Uber misalnya, dari 15 lead investor (investor utama) startup tersebut, hanya tiga yang tidak bertajuk venture capital. Ketiga entitas pemodal yang bukan venture capital itu ialah Travis Kalanick (pendiri), Garret Camp, dan Baidu.

Laporan yang dirilis CB Insights menyebutkan 40 persen modal yang diterima startup Unicorn berasal dari venture capital. SV Angel merupakan venture capital yang paling banyak memiliki startup unicorn di portofolionya. Laporan CB Insights mengatakan memiliki 23 startup Unicorn. Setelahnya ada Sequoia Capital (22 startup unicorn), Tiger Global Management (22 startup unicorn), Fidelity Investments (20 startup unicorn), dan DST Global (20 startup unicorn).

Aliran uang dari venture capital penting. Salah satu alasannya ialah karena startup memerlukan banyak uang untuk membangun bisnis. Uber misalnya, pada kuartal II-2017 lalu mencatatkan kerugian bersih sebesar $645 juta. Padahal, pendapatan mereka berada di angka $1,17 miliar. Artinya, Uber membakar uang tak kurang dari $2,39 miliar. Uang sebanyak itu, salah satunya dibelanjakan untuk proses “user acquisition” atau proses mendapatkan pengguna.

Dalam laporan yang dipublikasikan eMarketer, biaya untuk membuat seseorang mau memasang aplikasi $4,12. Juga ada biaya untuk “menggiring” pengguna untuk registrasi di sebuah aplikasi $8,21. Rata-rata, startup perlu dana sebesar $7,57 miliar membuat aplikasi buatannya dipasarkan.

Status Unicorn memang penting, tetapi bukan jaminan startup akan bertahan hidup. Jenny Lee, Managing Partner GGV Capital, kepada Wall Street Journal, mengatakan “akan banyak Unicorn yang mati” di kemudian hari. Salah satu penyebabnya ialah keadaan politik. Misalnya Uber, yang terganjal peraturan di banyak negara. Ini membuat mereka sukar berkembang. Facebook, startup satu-satunya bergelar “super-Unicorn.” Ia bermasalah dengan berita bohong alias hoax. Ini akan membuat banyak orang berpikir ulang saat hendak menggunakan Facebook.

Mara Zepeda, pendiri startup bernama Switchboard, dalam tulisannya di Quartz mengusulkan istilah “zebra” alih-alih nama Unicorn. Startup zebra tak hanya mengejar modal selayaknya unicorn. Zebra ialah startup yang “menguntungkan dan meningkatkan hidup lingkungan sosial.”

Dalam tulisannya itu, startup zebra lebih fokus untuk membuat startup memiliki kelangsungan hidup dibandingkan startup unicorn yang hanya memikirkan angka-angka peningkatan valuasi atau nilai perusahaan. Namun, startup zebra disebutnya lebih bekerja untuk menciptakan keuntungan alih-alih melakukan penawaran saham perdana (IPO). Startup zebra merupakan startup yang menekankan kemajemukan dibandingkan monopoli. Secara sederhana, startup zebra lebih menekankan startup menjadi perusahaan sosial.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight