Menuju konten utama

"YouTuber Harus Bisa Bertanggung Jawab"

Menjadi YouTuber ternyata menjanjikan penghasilan yang menggiurkan. Beberapa YouTuber asal Indonesia sukses menekuni bisnis ini. YouTuber pun menjadi impian banyak anak muda.

Rachel Goddard, Beauty Vlogger Indonesia [Foto/Dok. Pribadi]

tirto.id - Rachel Goddard, Beauty & Parody Vlogger asal Indonesia, berhasil merebut hati para penonton YouTube. Subscribernya saat ini mencapai lebih dari 160 ribu. Mantan make up artist yang kini tinggal di negeri Tirai Bambu ini, menyebut YouTuber sebagai profesi.

Rachel bahkan mengaku ada kepuasan lain selain materi yang diterima. “Senang banget karena ternyata apa yang gue lakukan bisa menginspirasi anak-anak muda, anak-anak kecil, generasi penerus bangsa. I’m so happy,” ujarnya kepada Aditya Widya Putri dari tirto.id, pada Rabu (14/9/2016).

Bagaimana keputusan awalnya menjadi YouTuber? Bagaimana kiat suksesnya? Bagaimana pandangannya tentang video karya YouTuber yang mengusung konten negatif? Berikut petikan wawancaranya:

Mulai kapan aktif menjadi YouTuber?

Awalnya tahun 2014 bulan Juni, video pertamaku di YouTube. Tapi itu cuma jadi portofolio kegiatan menjadi make up artist. Jadi jarang upload. Lalu setelah pindah ke UK, lalu ke Kazakhstan di tahun 2015, pada bulan Maret, gue mulai serius sebagai beauty & parody. Jadi bisa dibilang, di situ mulainya.

Awalnya pakai software yang tidak bisa merekam suara. Jadi suaranya selalu gue dubbing. Tapi sejak 2015, bisa pakai software video. Namanya video path yang bisa ngomong langsung ke kamera. Tapi pas ngomong langsung, kok gue kayak nggak bisa act like beauty things, seperti beauty vlogger lainnya. Sejak jadi diri sendiri (beauty & parody) itulah, mulai deh dikenal orang.

Apa alasan memutuskan menjadi YouTuber?

Jadi full timer YouTuber karena home sick. Saat tinggal di Kazakhstan, setiap hari kerjaanku nangis terus. Kangen pete, tempe penyet, dll. Kondisi diperparah karena gue susah banget belajar bahasa Rusia. Nggak punya temen karena orang-orang sana jarang yang bisa bahasa Inggris. Gue home sick parah.

Akhirnya gue memutuskan nerusin channel YouTube yang terbengkalai. Pada Maret 2015, gue gabung sama komunitas Indo Beauty Vlogger. Pada Juni 2015, gue sudah mulai rajin upload video berkonsep beauty & parody. Gue beauty & parody vlogger pertama di Indonesia. Dari situ home sick hilang karena bisa berinteraksi dengan viewers gue.

Konten apa saja yang Anda tampilkan?

Tentu saja konten tentang kecantikan karena passion gue. Kulit gue nggak putih. Cokelat sawo matang dan eksotislah. Gue ingin perempuan Indonesia yang notabene tidak putih, percaya diri karena cantik tidak perlu putih. Kalau parodi dan travel vlog bersama Bang Ben (suami), karena gue hidupnya nomaden, pindah-pindah tempat dan suka traveling. Jadi gue mau, subscriber yang nonton bisa menikmati pemandangan yang gue juga nikmati.

Apa konten yang disukai subscriber Anda?

Kalau cowok mereka suka travel vlog karena merasa diajak jalan-jalan. Juga parodi. Kalau cewek, beauty make up tips dan tutorial.

Bagaimana antusiasme viewers terhadap konten dan kenaikan subscriber?

Kalau yang gue lihat sendiri, memang banyak banget kenaikan subscriber sejak dibantu oleh Tim YouTube Indonesia. Kalau tidak dibantu mereka, tidak mungkin sampai seperti ini. Tapi kalau dibilang beruntung sih tidak, karena gue kerja keras membuat konten yang bisa dinikmati masyarakat Indonesia. Seminggu bisa 2-3 video.

Berapa kenaikan subscriber setelah dibantu tim YouTube Indonesia?

Berapa kenaikan subcriber tidak tahu persis. Tapi yang jelas, mereka membantu memberi kiat-kiat supaya orang yang menonton video tidak hanya sekedar nonton view, tapi juga subscribe. Misalnya membuat logo subscribe di video. Terus dibilang jangan lupa komen, share dan subscribe. Lalu dibenerin thumbnail-nya.

Diminta membuat jadwal supaya orang tahu kapan kita upload videonya. Itu bantuan Tim YouTube yang bikin subscriber gue cepet naiknya. Tim YouTube tidak minta fee khusus, karena itu job desk mereka untuk membangun kreator Indonesia agar bisa lebih berkarya.

Pendapat Anda tentang banyaknya YouTuber muda yang bermunculan?

Seneng banget kalau ada yang jadi YouTuber. Seperti kemarin gue pulang ke Indonesia, ada anak kelas 2 SD yang mungkin orang tuanya suka nonton YouTube dan suka nonton vlog channel gue. Ketika ditanya cita-citanya jadi apa, dia jawab pengen jadi YouTuber. Itu kayaknya bangga banget. Senang banget karena ternyata apa yang gue lakukan bisa menginspirasi anak-anak muda, anak-anak kecil, generasi penerus bangsa. I’m so happy.

Banyak YouTuber yang pasang konten daily tanpa konsep, mengeluarkan kata-kata kotor penuh hedonisme. Apa memang begitu gaya hidup YouTubers?

Gue kan tidak bisa nge-judge. Tapi pada dasarnya begini, YouTube itu kan memang bisa jadi wadah. Untuk berkreasi dan berkreatifitas, yes go ahead. Tapi kembali lagi, kalau gue pribadi itu ada beban moral tersendiri.

Gue pernah shock waktu dapat komen, “Kak aku masih SD, kak aku masih SMP, kak aku masih SMA.” Terus kalau gue pribadi ngomong kata-kata kotor atau kasar, pasti itu beban moral tersendiri. Karena one day, gue mungkin akan punya anak. Dan kalau gue punya anak dan nonton channel yang kayak gitu, gue tidak akan happy. Jadi menurut gue, ini tanggung jawab moral masing-masing.

Elo ingin punya generasi bangsa yang ikut-ikutan ngomong kotor karena elo pikir itu cool? Ya itu terserah elo, itu pilihan elo. Tapi kalau gue, ingin punya generasi yang baik, positif dan menganggap YouTube itu konten untuk berkreasi tapi bertanggung jawab.

Apa prinsip yang Anda pegang?

Memposisikan diri sebagai YouTuber sebagai wadah berkreasi, tapi harus bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan diperbuat. Gue merasa, apa yang gue kreasikan di YouTube bisa bikin orang ketawa, bisa bikin orang semangat dan percaya diri, lalu kenapa enggak? Kalau ada anak kecil yang sudah mulai suka make up, why not? Mungkin itu salah satu talenta dia. Seperti mereka yang dari kecil suka melukis, mungkin besarnya bisa jadi make up artist.

Kalau ada konten yang tidak pantas, gue sedih banget. Elo boleh menjadi selebgram atau idola, tapi apa yang elo lakukan bakal berdampak buat generasi penerus bangsa. Kalau mereka berkreasinya bagus, it’s oke.

Apa benar pendapatan menjadi YouTuber fantastis?

Yup, pendapatannya menjanjikan banget, gue bisa hidup dari YouTube.

Apakah YouTuber bisa dijadikan mata pencaharian utama?

YouTuber as a profesi, mata pencaharian gue, saat ini bener.

Berapa nominal yang bisa Anda dapatkan dari YouTube?

Aku sendiri untuk content YouTube saja, hasilnya bisa traveling tanpa minta suami, beli lipstick, dll. Pokoknya bisa melakukan hal-hal yang bikin gue happy tanpa menyusahkan orang lain. Hasil dari YouTube cukup untuk menghidupi diri sendiri dan membantu orang tua.

Paling banyak dari mana pendapatannya?

Paling banyak dari iklan. Adsense hanya 20-30 persennya. Sisanya dari endorsement iklan.

Tanggapan Anda mengenai kreativitas anak muda Indonesia di YouTube?

Pas acara YouTube Space, gue baru sadar banyak banget konten kreasi di YouTube Indonesia. Yang genrenya asli juga banyak banget. Ada dari masak, make up, parodi, sulap, games, bisnis, atau gosip. Dan gue seneng banget, Indonesia sepertinya makin berkembang dalam digital marketing. Gue happy.

Baca juga artikel terkait YOUTUBERS atau tulisan lainnya dari Aditya Widya Putri

tirto.id - Mild report
Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti