YouTube Mencetak Milyarder Dunia

Reporter: Aditya Widya Putri - Jumat, 23 September 2016 07:38 WIB
Dibaca Normal 2 menit
YouTube diciptakan dari oleh trio Chad Hurley, Steve Chen dan Jawed Karim pada 2005. Mereka menjadi milyarder setelah YouTube dibeli Google. Tak hanya menjadikan trio itu kaya raya, YouTube juga berhasil menciptakan banyak milyarder di dunia.
tirto.id - “Broadcast Yourself” Itulah tagline YouTube yang merupakan situs yang memberi kesempatan semua orang untuk menampilkan video hasil rekamannya untuk dinikmati oleh seluruh orang di dunia.

Cerita kesuksesan YouTube dimulai pada November 2006. Saat itu, YouTube masih sebuah situs kecil independen yang baru berumur setahun. Situs ini kemudian dibeli oleh Google. Tak ada yang mempercayai angka penjualan yang terbilang fantastis untuk sebuah situs kecil, yakni $1,65 miliar atau setara Rp23,76 triliun.

Keheranan publik cukup beralasan. Maklum, para pendirinya saja, yakni Chad Hurley, Steve Chen dan Jawed Karim, bahkan sempat pesimis akan keberlangsungan situs yang mereka buat pada Februari 2005.

Awalnya, promosi situs buatan trio itu dilakukan ketiganya hanya lewat email. Mereka berharap teman-temannya bakal menyebarluaskan YouTube. Beberapa cara pernah dicoba trio ini untuk meningkatkan pengakses YouTube, seperti meminta promosi pada media massa dan beberapa pakar. Tapi usaha mereka sia-sia dan dimentahkan karena dianggap tak memiliki peluang.

Akhirnya pada November 2005, Sequoia Capital masuk sebagai penyandang dana pertama. Setahun kemudian, Google membeli YouTube seharga $1,65 miliar. Popularitas YouTube pun semakin tak terbendung dan berkembang menjadi industri tersendiri, serta bertindak sebagai platform bagi pembuat konten asli dan pengiklan besar maupun kecil.

Tiga Syarat YouTuber

Kekayaan ternyata tak hanya menghampiri trio garasi. Para YouTuber atau pengunggah video pun ikut menikmati hasil. Menurut data Forbes, Felix Kjellberg melalui channelnya “PewDiePie”, sebulannya dapat mengumpulkan $12 juta yang setara dengan Rp156 miliar.

Urutan kedua pendapatan terbesar YouTuber dunia jatuh kepada Ian Hecox dan Anthony Padilla dengan channel “Smosh”, serta Benny dan Fafi Fine dengan channel “TheFineBros” yang sama-sama mengantongi $8,5 juta atau setara Rp110 miliar per bulan.

Kemudian di urutan ketiga, ada Lindsey Stirling dengan channel “Lindseystomp” di mana per bulannya mengantongi $6 juta atau setara Rp78 miliar.



Sungguh, angka-angka tersebut sangat menggiurkan ketika seseorang bisa memperolehnya dengan melakukan hobi atau aktivitas yang digemari seperti bermain game, jalan-jalan, make up, dsb. Tapi bagaimanakah sebenarnya angka-angka tersebut didapat?

Banyak yang belum memahami mekanisme yang disediakan pihak YouTube. Menurut perwakilan YouTube Indonesia, sebelum mempelajari lebih jauh tentang mekanisme pembayaran, maka YouTuber harus terlebih dulu harus memiliki tiga aspek agar kontennya dilirik YouTube dan dipilih untuk melakukan kerja sama.

Pertama, seorang YouTuber harus memiliki semangat dan minat di dunia ini. “Passion yang selalu memberikan dorongan ide, kreativitas dan kerja keras. Baru kemudian revenue mengikuti,” papar perwakilan YouTube Indonesia, kepada tirto.id, pada Rabu (22/9/2016).

Kedua, kreativitas. Seorang kreator harus rajin bereksperimen untuk membuat materi yang engaging, memahami tren dan tentunya mampu berinteraksi dengan para audiennya. Terakhir, konsistensi, rajin dan disiplin dalam mengunggah materi. Apalagi jika jumlah subscriber sudah semakin besar, maka YouTuber tersebut tidak boleh “kadang-kadang” mengunggah karyanya, karena bakal membuat audien pergi.

Setelah itu, agar video menghasilkan uang harus mengaktifkan saluran untuk dimonetisasi dengan masuk ke akun saluran pribadi dan memilih fitur monetisasi. Selanjutnya, integrasikan saluran dengan akun AdSense. Kemudian, tinjau kriteria video dan format iklan. Dan terakhir, monetisasi video dengan iklan dengan mengaktifkan layanan iklan.

Ketika semua hal sudah dilakukan, pembayaran akan mulai dihitung berdasar tiga hal. Pertama, cost per view. Merupakan iklan yang diputar sebelum video dimulai, berdurasi 15 detik sampai 30 detik. Memang bakal ada penonton yang melewati iklan tersebut. Jika dilewati, maka pengiklan tidak membayar dan kreator tidak mendapatkan pendapatan.

Kedua, cost impression. Pengiklan tidak terlalu memusingkan clickers atau posisi tampilnya iklan, asalkan iklan muncul dan dilihat banyak orang. Iklan cost impression biasanya hadir dalam format banner. Sementara ketiga, cost per click, yang dihitung ketika penonton meng-klik iklan. Jika iklan tidak di-klik, maka pengiklan tidak membayar ke YouTube dan kreator tidak mendapat pendapatan.

Pembayaran bagi para Youtuber dilakukan per bulan. Namun para kreator bisa menghitung potensi pendapatannya setiap harinya dari iklan melalui YouTube Analytics. Menurut perwakilan YouTube Indonesia, iklan yang keluar di YouTube akan dibayar lewat AdWords atau dibeli langsung lewat YouTube. Pengiklan bisa membayar ketika iklan sedang ditampilkan atau ketika pengguna meng-klik iklan.

“Jika mereka membayar ketika iklan ditayangkan, berarti mereka membayar YouTube dengan tawaran penghitungan dasar 1.000 tayangan iklan. Tapi jika membayar per banyaknya klik, maka sebelumnya YouTube akan mengatur lebih dulu tawaran biaya per klik,” paparnya.

Inilah kesempatan bisa eksis sembari bersenang-senang dan sekaligus menghasilkan uang. Menggiurkan bukan?

Baca juga artikel terkait BISNIS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

Artikel Lanjutan
DarkLight