Menuju konten utama

YLKI: Seharusnya Cukai Rokok Tinggi

Di Indonesia, sebelum harga mahal untuk rokok diwacanakan, industri rokok sudah lebih dulu memberhentikan buruhnya karena melakukan mekanisasi.

YLKI: Seharusnya Cukai Rokok Tinggi
Sejumlah buruh menyelesaikan lintingan rokok di pabrik rokok desa Munjung Agung, Tegal, Jawa Tengah. Kementerian Perindustrian merencanakan menolak kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen pada 2016, karena berdampak memberatkan sektor industri dan bisa menimbulkan gejolak dan pemutusan hubungan kerja. Antara foto/Oky Lukmansyah.

tirto.id - Tarif cukai dan harga rokok di Indonesia termasuk yang terendah di dunia sehingga anak-anak dan masyarakat miskin masih bisa menjangkau.

hal ini diungkapkan oleh Ketua Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi di Jakarta pada Minggu (21/8/2016).

"Tarif cukai tinggi selain untuk melindungi rumah tangga miskin dan anak-anak juga bisa meningkatkan penerimaan negara dari sisi cukai untuk dialokasikan pada anggaran kesehatan," kata Tulus.

Menurut Tulus, sudah seharusnya harga jual rokok mahal melalui tarif cukai yang tinggi. Cukai merupakan instrumen untuk membatasi dan mengendalikan suatu barang yang perlu dikendalikan dan dibatasi. Selain tembakau, barang lain yang dikenai cukai adalah etil alkohol dan minuman yang mengandung etil alkohol.

"Di negara maju, harga rokok sudah lebih dari Rp100 ribu dan terbukti di sana tidak membuat pabrik rokok bangkrut atau memberhentikan buruh-buruhnya. Pabrik rokok memberhentikan buruhnya karena pabrik melakukan mekanisasi, menggantikan buruh dengan mesin," katanya.

Tulus mengatakan harga rokok yang mahal dapat meningkatkan penerimaan negara dari sisi cukai hingga 100 persen. Penerimaan dari cukai rokok selama ini tidak dapat menutupi biaya kesehatan yang timbul akibat penyakit-penyakit yang disebabkan rokok.

Karena itu, bila tarif cukai rokok dinaikkan dan penerimaan cukai meningkat, harus dialokasikan untuk Jaminan Kesehatan Nasional yang saat ini sudah mulai berjalan.

"Rokok berbahaya bagi kesehatan dan sama sekali tidak memiliki kandingan kalori sama sekali. Bila tidak bisa membeli rokok, rumah tangga miskin bisa menggunakan uangnya untuk menambah kalori keluarga," tuturnya.

Baca juga artikel terkait ROKOK

tirto.id - Sosial budaya
Sumber: Antara
Penulis: Rima Suliastini
Editor: Rima Suliastini