Menuju konten utama

WNI Diduga Palsukan Riset, Mendikti: Bukan Dosen-Peneliti Aktif

Sekelompok periset RI, terdiri dari Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang dianggap sangat impresif.

WNI Diduga Palsukan Riset, Mendikti: Bukan Dosen-Peneliti Aktif
Tangkapan layar-Mendiktisaintek Brian Yuliarto saat memberikan orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Dies Natalis Universitas Indonesia (UI) ke-76 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (2/2/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyebut sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang diduga memanipulasi riset saat pelaksanaan konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 bukan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi (PT) Indonesia.

“Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,” kata Brian saat dihubungi Tirto, Selasa (26/5/2026) malam.

Meskipun tidak tercatat sebagai dosen ataupun peneliti di Indonesia, Brian menegaskan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) akan tetap melakukan penindakan lebih lanjut apabila kasus tersebut terbukti benar.

Sebab, menurutnya persoalan itu tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas.

Brian menerangkan saat ini Kemdiktisaintek terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia.

“Namun demikian, kita juga harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian,” kata Brian.

Menurut Brian, integritas akademik harus menjadi fondasi utama dalam ekosistem pendidikan tinggi dan riset di Indonesia. Praktik fabrikasi data, falsifikasi, maupun penyalahgunaan afiliasi akademik disebutmya tidak dapat dibenarkan.

“Namun kita juga perlu melihat secara proporsional," ucap dia.

Ia menyebut Indonesia memiliki sangat banyak peneliti, dosen, mahasiswa, dan inovator yang bekerja secara profesional, menjunjung standar etik dan integritas yang baik, memiliki reputasi, serta terus menghasilkan riset yang diakui secara internasional. Karena itu, kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan.

Sebagai informasi, kasus dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah WNI menjadi sorotan publik setelah diungkap oleh seorang peneliti bernama Wa Ode Dwi Daningrat dan Ida Bagus Mandhara Brasika.

Dalam unggahannya, Dwi Daningrat dan Mandhara menyampaikan kekhawatiran bahwa tindakan pemalsuan riset yang tidak hanya merugikan individu yang terlibat, tetapi juga mencoreng kredibilitas peneliti Indonesia di mata dunia internasional.

“Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan,” tulis Mandhara di akun Thread miliknya pada Senin (25/5/2026).

Dugaan ini mencuat setelah berlangsungnya konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026 yang dihadiri oleh Dwi Daningrat.

Dalam konferensi tersebut, sekelompok periset asal Indonesia yang terdiri dari Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang dianggap sangat impresif.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, muncul dugaan bahwa penelitian yang mereka bawa sebenarnya merupakan hasil fabrikasi dan tidak pernah benar-benar dilakukan.

Hingga kini belum ada klarifikasi resmi dari pihak yang dituduh terlibat dalam dugaan pemalsuan riset tersebut.

Baca juga artikel terkait PENELITIAN atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama