Wanita Kepala Keluarga, Penenun dari Mamasa

Penenun asal NTT ikut serta di pameran tenun bertajuk Sole Oha di Museum Tekstil, Jakarta, Selasa (21/11/2017). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Joan Aurelia - 27 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Para penenun dari Mamasa, Toraja, Adonara, dan Lembata memamerkan cara kerjanya.
Sabariah masih ingat saat seorang wanita Jepang bertandang ke rumah neneknya di dusun Pebasian, Mamasa, Sulawesi Barat. Wanita Jepang itu meminta neneknya mengajari cara membuat kain Tenun Palawa dengan motif Ampire.

Di desa Pebasian, memang hanya ada sekitar lima orang yang bisa mengerjakan motif tersebut. Nenek dari Sabariah adalah salah satunya. Menurut Sabariah, anak-anak muda tak mau lagi mengerjakan motif tersebut karena terbilang sulit.



Perjumpaan kami terjadi saat eksibisi "Sole Oha", pameran tenun Mamasa, Toraja, Adonara, dan Lembata, yang diadakan di Museum Tekstil, Jakarta. Sabariah berbicara sambil memutar dan mengacak jajaran benda serupa kartu yang ada di tengah benang sepanjang tujuh meter.

Kartu itu dipakainya sebagai medium bantuan dalam membuat motif pada kain. Ia harus cermat dalam membuat motif. Sebab jika sedikit saja keliru, prosesnya tidak bisa diulang.

"Dulu, kartu terbuat dari gading gajah. Nenek memakai gading gajah itu sebelum dibeli oleh wanita Jepang. Sekarang tak ada lagi gading gajah. Kami cuma memakai kartu sim perdana yang dipotong berbentuk persegi,” kenang ibu beranak dua ini. Wanita dari Jepang itu membeli kartu gading gajah karena hendak mengajarkan teknik menenun di negaranya menggunakan perlengkapan yang digunakan oleh masyarakat Mamasa.

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas sampai hari ini, Sabariah berdagang kain tenun. Setiap hari, ia mengerjakan pesanan. Sebagian besar selendang. Di sela perbincangan, ia mengatakan dirinya bahagia karena bisa membawa tenun karyanya keluar dari Mamasa.

Pameran Tenun Sole Oha

Dua tahun terakhir, Sabariah menjadi anggota Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), organisasi yang dicetuskan oleh Nani Zulminarni. Sabariah mengaku karena PEKKA-lah ia bisa hadir pada pameran itu. Di tempat yang sama, hadir pula Susan, fasilitator PEKKA di Mamasa.

“Mamasa adalah daerah yang kami rasa paling sulit. Rumah penduduk terletak jauh di atas bukit. Sarana transportasi kurang memadai dan masalah utama masyarakat di sana adalah sanitasi. Banyak warga tidak punya fasilitas MCK layak,” kata Susan.

Di samping rumah penduduk, rata-rata terdapat taman yang cukup besar tetapi mereka tidak memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam.

“Saat saya datang untuk membuat kelompok yang bertujuan membuat mereka bisa hidup mandiri secara ekonomi, balasan yang saya dapatkan ialah pertanyaan ‘Bawa babi berapa ekor sudah menyuruh kami ikut masuk kelompok?’," Susan berkisah.

Namun, ia tak jeri dengan respons semacam itu. "Tak semua orang mudah menerima kebaruan," katanya.

Di Mamasa, Susan membina 24 kelompok yang terdiri dari 377 orang wanita. Sebagian besar dari mereka masih menenun. PEKKA berupaya agar karya tenun wanita Mamasa bisa menjadi salah satu sumber penghasilan yang cukup signifikan.

Susan menghadapi berbagai kendala dengan memberi fasilitas untuk pengrajin yang memungkinkan tenun mereka masuk ke pasar yang lebih besar. Selain PEKKA, ia mengisahkan Toraja Melo yang juga membantu dari sisi material dan edukasi. Masyarakat mulanya menolak karena benang dari katun yang diberikan dianggap keras dan berbulu. Biasanya, mereka menggunakan benang poliester.

"Hal-hal seperti ini kami komunikasikan juga dengan Toraja Melo. Kemudian mereka memberikan benang baru. Selain itu, kami pun membuat proposal kepada pemerintah daerah untuk membantu anggaran membeli benang,” kata Susan.

Infografik Ragam Corak dari Timur

Mereka juga melakukan upaya lain, misalnya meminta pemerintah mengeluarkan aturan yang mengharuskan warga mengenakan kain tradisional.

Susan punya cerita serupa dengan daerah-daerah lain seperti Adonara, Lembata, dan Toraja.

“Di Lembata, PEKKA sudah ada selama 15 tahun. Dulu mereka hanya ingin menenun dari benang yang dijual di toko. Kini kami berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menenun menggunakan benang kapas. Kami mencari cara agar mereka bisa mengorganisir kebun kapas,” kata Susan.

Cerita tentang penenun di sekitar Adonara dan Lembata bisa disimak melalui film dokumenter karya Vivian Idris bertajuk Jaga Tane Neket, Merawat Warisan Ibu. Dalam film itu, dikisahkan tentang legenda, tradisi menenun, kendala, serta generasi penerus penenun. Film tersebut ditayangkan pertama kali dalam pameran "Sole Oha". Vivian berencana menayangkan kembali seri dokumenter tersebut di sejumlah tempat lain.

“Saya rasa harus ada perspektif baru bagi kaum muda. Akan lebih baik jika mereka punya role model penenun. Jika mereka melihat kondisi para penenun tidak sejahtera, hampir pasti mereka menolak untuk jadi penenun,” demikian komentar Sinal, salah seorang penonton film.

Pameran Tenun Sole Oha

Dinny Jusuf, pemilik Toraja Melo yang mengagas terselenggaranya pameran ini, tidak menyanggah perkataan tersebut. Ia yang kerap mendatangi sejumlah daerah di Indonesia untuk menggali lebih dalam tentang tenun lokal berkata, “Ada banyak horror stories tentang tenun Indonesia hari ini."

Sayang, ia tak bercerita lebih jauh. Katanya, ia akan menceritakan hal tersebut pada 12 Desember 2017 di Erasmus Huis.

Di eksibisi "Sole Oha" ini, tenun-tenun dari empat daerah tersebut dibentangkan. Ibu-ibu penenun menggarap kain tenunnya di tengah-tengah ruang pamer. Saat sore menjelang, mereka memasukkan kain tenun ke dalam wadah anyaman dan meletakkannya di atas kepala.

“Sekarang belum ada yang beli. Kain ini harganya satu jutaan. Besok akan Mama pajang lagi,” kata seorang penenun dari Lembata sambil berjalan dengan Tirto ke luar ruang pamer. Kain-kain tenun ini bisa disaksikan sampai tanggal 18 Desember 2017.

Baca juga artikel terkait PAMERAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight