Menuju konten utama

Wamensos Turun ke NTT, 48 Ton Beras Dikirim untuk Korban Gempa

Kemensos mengirim 48 ton beras dan memobilisasi logistik Rp4,518 miliar untuk warga terdampak gempa NTT. Wamensos juga turun ke lapangan memantau situasi.

Wamensos Turun ke NTT, 48 Ton Beras Dikirim untuk Korban Gempa
Kementerian Sosial mengirimkan 48 ton beras untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). (FOTO/dok.Istimewa)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penanganan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperkuat oleh Kementerian Sosial. Selain mengerahkan personel dan logistik kebencanaan, Kemensos mengirimkan tambahan 48 ton beras untuk mendukung kebutuhan pangan warga.

Pada saat sama, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono berangkat ke NTT untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak. Kehadiran Wamensos juga bertujuan memastikan bantuan tepat sasaran serta mengetahui kebutuhan yang masih harus dipenuhi.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari respons Kemensos sejak gempa mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Selain tambahan beras, berbagai logistik kebencanaan dari sejumlah sumber telah dimobilisasi dengan nilai sekitar Rp4,52 miliar.

Kemensos bersama pemerintah daerah dan unsur penanganan bencana masih melakukan pendataan untuk mengetahui kondisi warga serta kebutuhan di masing-masing lokasi. Adapun wilayah terdampak gempa meliputi Nagekeo, Sikka, Manggarai, Manggarai Barat, Ende, serta sejumlah wilayah lain di NTT.

Berdasarkan laporan sementara yang diterima Kemensos hingga Sabtu pukul 15.40 WIB, sekitar 2.000 jiwa terdampak. Jumlah pengungsi masih dalam proses pendataan.

Data sementara mencatat 38 orang meninggal dunia. Korban tersebut terdiri atas 16 orang di Kabupaten Manggarai, 17 orang di Manggarai Timur, satu orang di Manggarai Barat, dan tiga orang di Sikka. Enam orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, sedangkan dua orang masih dilaporkan tertimbun.

Kemensos menegaskan angka tersebut belum final karena seluruh informasi korban masih diverifikasi bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.

“Saya minta tim jangan hanya cepat, tetapi juga teliti. Data korban meninggal, luka, pengungsi, maupun kerusakan rumah harus terus diverifikasi. Dari data itulah kita menentukan intervensi berikutnya, termasuk santunan bagi ahli waris korban meninggal,” kata Gus Ipul.

Gempa yang membutuhan penanganan cepat dan tepat tersebut berkekuatan magnitudo 7,7, terjadi pada pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. Episentrumnya berada di laut sekitar 30–38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa terjadi. Peringatan tersebut kemudian diakhiri pada pukul 07.41 WIB. Sejumlah gempa susulan juga terjadi setelah gempa utama.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Kemensos tidak hanya mengandalkan satu sumber logistik. Stok yang tersedia di daerah langsung digerakkan, sementara pasokan tambahan dikirim dari pusat.

Dari Sentra Efata Kupang, bantuan senilai Rp1,015 miliar bergerak menuju Kabupaten Nagekeo. Bantuan tersebut antara lain berupa velbed, family kit, tenda gulung, selimut, sandang dewasa, tenda keluarga, makanan anak, kids ware, dan tenda serbaguna.

Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT juga mengirim bantuan sekitar Rp541,6 juta. Logistik tersebut diarahkan ke Nagekeo, Sikka, Ende, dan Manggarai Timur dengan isi berupa tenda keluarga, velbed, kasur, serta tenda serbaguna.

Sementara itu, dari Gudang Pusat Kemensos di Bekasi, dua paket bantuan dengan total nilai hampir Rp3 miliar sedang dikirim menuju Dinas Sosial Provinsi NTT dan Sentra Efata Kupang.

Bantuan yang dimobilisasi dari pusat tersebut mencakup 6.000 paket makanan siap saji, tenda gulung, tenda keluarga, tenda serbaguna, tenda induk, kasur, selimut, makanan anak, sandang anak dan dewasa, shower kit, serta dua set dapur umum lapangan.

Secara keseluruhan, nilai logistik kebencanaan yang telah digerakkan Kemensos mencapai sekitar Rp4,518 miliar. Tambahan 48 ton beras reguler dikirim untuk memperkuat dukungan pangan bagi masyarakat terdampak.

“Prinsipnya, stok yang ada paling dekat dengan lokasi langsung kita gerakkan. Dari pusat kita tambah lagi. Jadi bantuan tidak menunggu satu jalur. Semua sumber daya kita mobilisasi untuk mempercepat pelayanan kepada masyarakat,” ujar Gus Ipul.

Selain bantuan barang, Kemensos mengerahkan Tagana dan tim Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB). Personel tersebut menjalankan sejumlah tugas mulai dari asesmen, evakuasi, pendataan korban, pendirian tenda darurat hingga pelayanan kebutuhan dasar masyarakat.

Sejumlah lokasi menjadi titik pengungsian sementara, di antaranya Mbay, Maumere, Borong, dan Ruteng. Setelah peringatan tsunami dicabut, tim gabungan masih mendata warga yang tetap bertahan di tempat-tempat pengungsian tersebut.

Menurut Gus Ipul, kehadiran Wamensos di NTT juga penting untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan bencana. Kemensos terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Tagana, BPBD, Basarnas, TNI-Polri, serta unsur lainnya.

“Pak Wamen akan melihat langsung apa yang masih dibutuhkan. Kalau ada kekurangan logistik, kita tambah. Kalau diperlukan penguatan dapur umum atau tempat pengungsian, kita dukung. Negara harus hadir secepat mungkin ketika masyarakat menghadapi situasi seperti ini,” kata Gus Ipul.

Agus Jabo akan memantau kebutuhan masyarakat sekaligus membawa arahan Mensos agar penanganan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan selama masa kedaruratan. Kebutuhan lanjutan bagi keluarga terdampak juga menjadi bagian yang perlu dipersiapkan.

Gus Ipul meminta masyarakat tetap waspada mengingat gempa susulan masih terjadi. Warga diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan sebelum dinyatakan aman dan tetap mengikuti informasi resmi pemerintah serta BMKG.

“Keselamatan masyarakat yang utama. Kemensos akan terus bekerja bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait sampai kondisi masyarakat terdampak benar-benar tertangani,” kata dia.

Gus Ipul sebelumnya juga menekankan pentingnya memastikan kebutuhan paling mendasar warga terpenuhi selama masa penanganan.

“Sekarang yang paling utama adalah menyelamatkan dan melindungi warga. Pastikan pengungsi mendapatkan tempat yang aman, makanan tersedia, kelompok rentan terlayani, dan pendataan korban dilakukan secepat mungkin tetapi tetap akurat,” ujarnya.

Kemensos memastikan penanganan akan terus berjalan dengan menyesuaikan bantuan terhadap hasil pendataan dan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis