Virus Lama Flu Babi yang Kembali Jadi Ancaman

(Ilustrasi) Seorang pekerja membawa keranjang babi sebelum mendistribusikan ternak tersebut ke konsumen di Rumah Potong Hewan Denpasar. FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana.
Oleh: Yantina Debora - 3 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Flu babi dapat menyebar dengan cepat, bahkan sebelum seseorang menyadari ia terinfeksi virus berbahaya ini.
tirto.id - Setelah heboh flu burung, dunia kini kembali dihadapkan dengan wabah virus yang menyebabkan flu babi. Flu burung berasal dari virus H5N1 sedangkan flu babi pemicunya oleh virus H1N1. Wabah flu babi sedang menyerang Myanmar. Pada Selasa (1/8/2017) dilaporkan empat orang meninggal akibat wabah flu babi. Jumlah korban akibat flu babi terus meningkat menjadi 10 orang.

Berdasarkan laporan dari kementerian kesehatan dan olahraga Myanmar, wabah flu babi ini sudah menyerang Myanmar sejak minggu lalu. Kota Yangon merupakan wilayah yang paling banyak terpapar wabah flu babi. Toko-toko masker di kota Yangon laris manis. Pihak pemerintah kemudian melakukan kampanye kesehatan dan berusaha untuk mengurangi ketakutan publik terhadap wabah flu babi.


Tahun lalu, flu ini telah menyebabkan ribuan orang meninggal di Brasil. Kondisi Brasil yang saat itu tengah dilanda krisis politik, keadaan ekonomi lemah dan juga dilanda wabah zika menyebabkan kekhawatiran dan kecemasan pada pemerintah serta penduduk Brasil. Apalagi saat itu bertepatan dengan Olimpiade Rio 2016.

Flu babi menyerang sekitar 27 negara bagian di Brasil. Tercatat sebanyak 5.214 kasus flu babi menjangkiti Brasil dalam jangka waktu enam bulan, semenjak 3 Januari 2016 hingga 11 Juni 2016. Mayoritas kasus flu babi di Brasil berada di wilayah San Paulo. Menurut otoritas kesehatan Brasil saat itu, jumlah penduduk yang terpapar makin meningkat ketika udara dingin.

“Orang-orang yang rentan dan tidak divaksinasi tidak terlindungi,” kata Caio Resenthal dari Emilio Ribas Infectology.

Kejadian di Brasil dan Myanmar membuktikan flu babi sudah menjadi persoalan global dan sudah lama. Sejak Juni 2009 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa flu babi adalah penyakit menular dan menjangkiti ribuan orang di seluruh dunia. Sejak Juni 2009 hingga Januari 2010, flu babi sudah menjangkiti 171 negara dan menyebabkan 14.378 orang meninggal secara global.


Seperti flu burung, flu babi juga menyerang sistem pernafasan manusia. Flu babi sesungguhnya hampir sama dengan flu biasa yang dialami manusia. Namun, mengapa flu babi disebut sangat berbahaya hingga menyebabkan kematian? Kemampuan virus ini yang bisa terus bermutasi maka proses penyebarannya sangat cepat. Mereka yang tidak divaksinasi akan rentan diserang flu babi. Saat ini sudah ada tiga tipe virus flu babi yang ditemukan di Amerika Serikat yaitu H1N1, H1N2 dan H3N2.

Penyebaran virus flu babi ini paling banyak terjadi melalui batuk atau bersin. Seseorang yang berada dekat dengan orang yang terinfeksi flu berpotensi untuk terjangkit flu babi. Yang berbahaya dari penyebaran flu babi adalah penyebaran yang cepat membuat Anda akan dengan cepat terinfeksi flu babi dari orang lain yang bahkan orang itu sendiri belum menyadari jika ia terinfeksi flu babi atau belum menunjukkan tanda terinfeksi flu babi.

Flu babi ini dapat menyebar dari babi ke manusia. Bisa juga dari manusia ke babi. Penyebaran itu terjadi jika bersentuhan dengan babi yang terinfeksi virus H1N1. Bagaimana dengan risiko mengonsumsi daging babi? Hingga saat ini, belum ada temuan atau laporan yang membuktikan bahwa seseorang dapat tertular flu babi dengan memakan daging babi yang diolah dengan baik atau olahan lainnya dari daging babi.

Namun, mereka yang suka mengonsumsi daging babi dianjurkan untuk tetap mewaspadai penyebaran virus ini dan memperhatikan agar daging babi diolah dengan baik dan benar. Mereka yang sudah terinfeksi flu babi biasanya akan menunjukkan beberapa gejala. Misalnya batuk, sakit tenggorokan, merasa sangat kelelahan, terkadang muntah-muntah hingga diare.





Bahaya lainnya dari wabah flu babi ini adalah risiko tinggi dan menyebabkan komplikasi bagi mereka yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu misalnya karena AIDS. Hal itu karena ketika tubuh kita diserang virus, secara otomatis tubuh manusia akan meluncurkan sistem pertahanan tubuh sebagai “respons kekebalan” secara alami.

Sistem kekebalan tubuh manusia dirancang untuk mengenali sel-sel dalam tubuh termasuk virus yang menyerang. Sehingga ketika virus menyerang dan kondisi kekebalan tubuh kita sedang terganggu karena penyakit lain, maka ini akan berpotensi menyebabkan komplikasi.

Risiko komplikasi akibat flu babi juga dapat terjadi pada ibu hamil, orang dewasa yang berusia di atas 65 tahun hingga orang dengan penyakit kronis seperti asma, penyakit jantung, diabetes atau penyakit neuromuskular yang terserang virus flu babi.

Untuk terhindar dari flu babi, Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan agar selalu menutup hidung atau mulut dengan tisu atau menggunakan masker di tempat umum. Hindari kontak langsung dengan babi atau orang sakit. Setelah itu, cucilah tangan dengan sabun dan lakukan vaksinasi. Alasannya, vaksinasi sangat penting untuk melawan virus flu babi meski WHO menegaskan bahwa vaksinasi bukanlah senjata ampuh untuk memerangi flu babi.


Secara umum, virus flu memang masih susah untuk dilawan dan tak benar-benar hilang. Virus flu akan pergi, tapi akan kembali dengan “tampilan baru” akibat adanya mutasi sehingga sel memori kekebalan kita berjuang untuk mengenalinya. Tak jarang, banyak virus yang dapat menembus kekebalan kita sehingga meski kita sudah sembuh dari flu, virusnya sesekali akan kembali.

Bagaimana dengan Indonesia? Flu babi juga menyerang Indonesia. Berdasarkan laporan Antara pada Juli 2009, sekitar 400 orang di 15 provinsi di Indonesia diserang flu babi. Dari 400 orang tersebut satu orang meninggal karena flu babi.

Menurut Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan, pada kala itu 15 provinsi yang terjangkit antara lain Bali, Banten, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Jambi.

Kementerian Kesehatan Indonesia juga sudah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi flu babi termasuk dengan mengumpulkan data serta kajian ilmiah terkait flu babi hingga bekerja sama dengan WHO. Bagaimana pun flu babi sangat berbahaya. Wabah yang kini menyerang Myanmar juga patut diwaspadai Indonesia mengingat cara kerjanya dan dapat kembali menyerang kapan saja. Apalagi Indonesia sudah pernah mengalami kejadian serupa.


Baca juga artikel terkait VIRUS atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Yantina Debora & Suhendra
Penulis: Yantina Debora

DarkLight