Usir Demit ala Vatikan yang Ujung-ujungnya Jadi Tindak Kekerasan

Reporter: M Faisal, tirto.id - 3 Apr 2018 16:17 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Dari yang tak kasat mata, eksorsisme perlahan menyasar yang tampak mata. Korbannya adalah orang-orang yang mengalami gangguan mental serta LGBT.
tirto.id - [Tulisan ini telah dikoreksi pada Rabu, 4 April 2018, pukul 15.00. Bagian Ketiga versi awal tulisan ini tidak menyebut secara tegas denominasi gereja di luar Katolik Roma.]

Pada Jum’at (30/3) lalu, Vatikan memutuskan akan menyelenggarakan kursus pelatihan eksorsisme (praktik mengusir setan) untuk para imam. Dilansir Guardian, keputusan tersebut diambil setelah Vatikan mengklaim adanya lonjakan tajam fenomena kesurupan di berbagai wilayah di dunia.

Rencananya, pelatihan bakal diadakan di Pontifical Athenaeum Regina Apostolorum, Roma, pada 16 sampai 21 April mendatang. Fokus pelatihan ialah teknik dasar eksorsisme hingga doa pembebasan.

“Pertarungan melawan kekuatan jahat dimulai sejak dunia lahir dan ditakdirkan bertahan sampai akhir zaman,” ungkap Pastor Cesare Truqui kepada Vatican News.

“Tetapi, hari ini kita berada di tahapan penting dalam sejarah. Saat ini, banyak orang beragama tidak lagi percaya pada setan dan bahkan tidak ada lagi imam dari kalangan pemuda yang mau belajar doktrin dan praktik pembebasan jiwa.”

Asosiasi Eksorsis Internasional yang mewakili lebih dari 200 imam Katolik, Anglikan, dan Ortodoks menyatakan peningkatan itu sebagai “darurat pastoral.” Pastor dan eksorsis asal Sisilia Benigno Palilla mengklaim jumlah pastor yang ingin mendapat pelatihan eksorsisme meningkat tiga kali lipat dan kasus kerasukan naik hingga 500 ribu kasus per tahun.

Sejauh ini, upaya mengusir setan harus dilakukan sesuai tata cara yang telah ditentukan, seperti halnya yang terjadi di Inggris. Menurut pedoman yang ditulis gereja-gereja Inggris, eksorsisme harus dilakukan oleh imam yang sudah diberi wewenang oleh Keuskupan. Para imam itu musti melewati tahapan latihan dan tidak diperbolehkan bekerja sendirian.


Upaya eksorsisme juga bisa dilakukan bersama dokter, psikolog, dan psikiater apabila dirasa memang benar-benar diperlukan. Tak ketinggalan, eksorsisme musti diteruskan dengan tindakan perawatan pastoral tanpa publikasi yang berlebihan.

Matt Baglio dalam The Rite: The Making of a Modern Exorcist (2009) mengatakan, pengusir setan mempercayai bahwa iblis datang lewat banyak bentuk; mulai dari bisikan di telinga hingga kekuatan yang membuat orang kecanduan judi, pornografi, atau seks.

Ia menambahkan, setelah berhasil merasuki manusia, iblis akan mengambil alih kendali serta membuat si manusia yang dirasukinya mengeluarkan suara aneh, mampu memutar bagian tubuh tertentu, sampai menolak menyebut nama Yesus atau Maria.

Ritual pengusiran setan mulanya bersifat tradisional, sakral, dan dilakukan dengan penuh kerahasiaan. Tujuan Keuskupan merahasiakan aktivitas ini adalah untuk melindungi para eksorsis dari permintaan yang “tidak penting” atau dalam artian tidak relevan dengan kerja pengusiran iblis. Akan tetapi, hal tersebut berubah semenjak adanya internet. Kegiatan pengusiran iblis tidak lagi rahasia mengingat publik bisa mencari semua hal yang berkaitan dengan eksorsisme melalui internet.

Infografik eksorsisme vatikan



Dari Australia sampai Amerika


“Kami punya kapel kecil di beberapa pinggiran kota yang bisa kami gunakan untuk praktik eksorsisme,” ujar salah pengusir setan dari Australia. “Selain itu, aku punya air suci, Alkitab, serta doa pengusir setan. Pada saat kamu melakukan semua itu, bagian terbaiknya adalah hanya butuh satu jam proses [pengusiran setan] untuk berlalu.”

Menurut laporan Sydney Morning Herald pada 2015 silam, fenomena eksorsisme marak terjadi di Australia. Kota-kota besar seperti Sydney, Canberra, hingga Perth diramaikan oleh kehadiran pengusir setan serta praktik-praktik mengusir setan.

Maraknya fenomena tersebut, menurut Gereja Katolik Australia, dilatarbelakangi oleh kegiatan t'ai chi, yoga, hingga film Harry Potter dan Twilight. Terdengar konyol, tapi pihak gereja mengklaim bahwa deretan nama itu adalah medium iblis masuk ke dalam tubuh manusia.

Tindakan eksorsisme di Australia dimulai ketika imam gereja melaporkan adanya kasus kerasukan iblis ke kantor Keuskupan Agung. Dari Keuskupan, laporan itu diolah jadi rincian kerja yang dikirimkan ke para pengusir setan.

Untuk memastikan apakah sebuah kasus betul-betul kesurupan, pengusir setan akan meminta bantuan psikolog untuk menganalisis situasi. Meski banyak kasus yang terjadi, namun tidak diketahui berapa banyak jumlah pengusir setan yang dimiliki Keuskupan.


Sarah Ferber, peneliti eksorsisme dari Universitas Wollongong mengatakan, aksi eksorsisme di Australia punya andil dalam dua kasus kematian pada 1990-an.

“Ketika tubuh manusia dilihat sebagai medan pertempuran kosmik, maka, perempuan dan anak-anak dalam konteks ini, bisa dibilang jadi pihak yang rentan,” tuturnya.

Dari Australia, fenomena eksorsisme juga booming di Meksiko pada lima tahun silam dan muncul sebagai respons atas banyaknya orang Meksiko—sekitar delapan juta—memeluk aliran Santa Muerte. Bagi masyarakat Meksiko, Santa Muerte adalah dewi suci yang lekat dengan personifikasi kematian sekaligus santo pelindung bagi mereka yang terbuang dan terpinggirkan.

Namun, dalam perspektif Vatikan, Santa Muerte merupakan paham sesat, sumber kejahatan, serta kultus pemuja setan yang harus diberantas keberadaannya. Salah satu caranya lewat eksorsisme.

“Kami percaya bahwa di balik semua kejahatan ini ada agen jahat dan nama agen itu adalah iblis. Itulah mengapa Tuhan ingin di wilayah ini ada pengusiran setan dan pembebasan. Ini perang melawan iblis,” tegas Pastor Carlos Triana, imam dan pengusir setan asal Mexico City kepada BBC.

Alasan lain yang menyebabkan lonjakan eksorsisme ialah praktik aborsi yang kerap dilakukan masyarakat Meksiko. Pastor Francisco Bautista mengklaim bahwa aborsi telah merangsang pertumbuhan roh jahat di Meksiko.

“Kedua hal itu [aborsi dan Santa Muerte] berkaitan erat. Ada di iblis di Meksiko sebab kami telah membuka pintu kami menuju kematian,” katanya.

Sementara ritual pengusiran iblis juga sempat hits di Negeri Abang Sam. Dalam satu dekade terakhir (2006-2016), jumlah imam pengusir setan meningkat lebih dari empat kali lipat. Dari yang semula hanya 12 menjadi 50 imam. Tak hanya itu, selama kurun waktu tersebut, eksorsisme dirayakan sebagai salah satu produk budaya populer yang seringkali muncul di acara televisi, buku, hingga film.

Pastor Gary Thomas dan Vincent Lambert, dalam wawancaranya dengan The Telegraph, mengklaim bahwa kecanduan narkoba dan pornografi sampai kegagalan sistem perawatan kesehatan mental berpengaruh pada naiknya popularitas eksorsisme di Amerika.

Namun, menurut studi Giuseppe Giordan dan Adam Possamai dalam “The Over-Policing of the Devil: A Sociology of Exorcism” (2016), faktor utama penyebab menjamurnya eksorsisme ialah berubahnya perspektif masyarakat terhadap iblis yang dipengaruhi oleh aktivitas eksorsisme itu sendiri. Mereka mencatat, semakin sering para eksorsis muncul ke publik dengan dalih “mengusir setan,” maka semakin tebal pula anggapan masyarakat bahwa eksorsisme sungguh-sungguh ampuh dan bisa dibenarkan untuk mengalahkan iblis.

Kritik untuk Eksorsisme

Kehadiran eksorsisme sendiri tak bisa dilepaskan kritik. Walaupun eksorsisme digunakan untuk mengusir iblis dalam manusia, tapi pada kenyataannya, praktik ini justru digunakan untuk mendefinisikan masalah sosial serta hal-hal yang dipandang bertentangan dengan gereja.

Para eksorsis bahkan menganggap problem kesehatan mental dan LGBT merupakan bentuk lain dari kerasukan iblis.

Di luar denominasi Katolik, tren eksorsisme juga muncul dalam sejumlah gereja—yang dalam beberapa kasus melibatkan ekspresi kebencian dan kekerasan.

“Beberapa orang Kristen tak jarang memperlakukan masalah kesehatan mental sebagai perkara spiritual. Contohnya, ketika seseorang menderita depresi dan pergi ke gereja, pihak gereja akan mengatakan bahwa semua bisa diobati dengan doa. Bentuk ekstrem dari kecenderungan itu adalah eksorsisme,” ujar Ben Ryan dari lembaga think tank Kristen, Theos, kepada Guardian.

Ihwal hal ini bisa dilihat ketika pada 2009 silam beredar video yang menunjukkan anak laki-laki berusia 16 tahun sedang mengalami ritual pengusiran “setan homoseksual” oleh gereja Manifested Glory Ministries di Connecticut, Amerika. Video berdurasi 20 menit tersebut memperlihatkan si remaja tergeletak di lantai, tubuhnya bergetar, sementara para eksorsis berteriak:

Ayolah, kamu setan homoseksual! Kamu roh homoseksual, kami memanggilmu keluar sekarang! Lepaskan cengkeramanmu, Lucifer!”

Tak lama kemudian, mengutip Guardian, si remaja batuk dan muntah ke kantong plastik sebelum akhirnya tersungkur lemas serta mukanya tertutup lembaran putih. Sontak, video itu memancing protes dari kelompok HAM dan pro-LGBT. Mereka mengutuk aksi eksorsisme tersebut sebagai pelecehan dan menuntut penyelidikan lebih lanjut.

Juru bicara Manifested Glory Ministries—pihak yang mengunggah video itu—merasa tidak melakukan kesalahan apapun.

“Kami percaya pria harus bersama wanita dan begitu sebaliknya,” kata juru bicara Pendeta Patricia McKinney. “Kami tidak menentang homoseksual. Kami hanya tidak setuju dengan gaya hidup mereka.”

Sedangkan Robin McHaelin, Direktur Eksekutif kelompok advokasi remaja gay True Colors mengatakan sudah ada lima kasus dalam beberapa tahun terakhir (2009) di mana orang menggunakan eksorsisme untuk 'melenyapkan' homoseksual.

“Saya pikir itu mengerikan,” katanya. “Yang membuat saya sedih, mereka yang melakukan ini mengira telah melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Padahal sebaliknya. Mereka membunuh jiwanya.


Yang terjadi di Nikaragua lebih mengenaskan. Pada 2017 lalu, Vilma Trujillo Garcia tewas selepas dibakar hidup-hidup oleh para eksorsis gereja setempat bernama Vision Celestial. Vilma sempat dibawa ke rumah sakit usai ditemukan pertama kali oleh adiknya di jurang tepi sungai tak jauh dari lokasi ia dibakar. Sayang, nyawanya tak dapat bertahan lebih lama.
[Paragraf ini telah dikoreksi. Sebelumnya nama gereja di Nikaragua tidak disebut. Gereja Vision Celestial sendiri bukan gereja Katolik.]

Aksi bengis ini bermula kala Vilma divonis punya masalah kesehatan mental. Untuk menyembuhkannya, ia lantas dibawa pendeta dan jemaat ke gereja. Selain karena alasan itu, muncul teori lain mengapa ia dibawa ke gereja: Vilma telah berzina dan dituding pernah menyerang orang dengan parang. Namun, menurut keterangan polisi, “tak satu pun dari alasan itu yang dapat dibuktikan kebenarannya.”

Di dalam gereja, Vilma menjalani berbagai ritual penyembuhan hingga akhirnya, seperti diwartakan The Washington Post, salah satu pemimpin gereja mengaku mendapatkan wahyu untuk menyembuhkan Vilma dengan api alias dibakar. Vilma kemudian ditelanjangi, diikat kaki dan tangannya, dan dilemparkan ke kobaran api yang sudah menyala.

Polisi menangkap Juan Gregorio Rocha (pendeta), Esneyda del Socorro Orozco (pemimpin gereja), serta tiga orang lainnya sehubungan dengan aksi biadab tersebut. Kepada wartawan lokal, mereka membantah telah membakar Vilma dan menyebut Vilma memutuskan “untuk membakar dirinya sendiri” setelah “setan yang ada di dalam dirinya berhasil dikeluarkan.”

Juanita Jimenez, aktivis perempuan dari Gerakan Perempuan Otonom mengutuk pembunuhan Vilma sebagai tindakan barbar, fanatisme buta, dan kebencian terhadap perempuan.

“Terlepas dari aspek agama, tidak ada yang bisa dibenarkan dari tindakan kejam berupa membakar seorang wanita. Mereka menggunakan agama untuk memanipulasi orang-orang sekitarnya dan menempatkan Vilma di atas kobaran api,” tutur Jimenez.

Berkaca dari kasus video Connecticut dan pembunuhan Vilma, sebetulnya siapa yang iblis?

Baca juga artikel terkait VATIKAN atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf

DarkLight