Misbar

Us: Sajian Kedua Jordan Peele yang Kembali Memikat

Oleh: Faisal Irfani - 31 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kritik Peele terhadap kultur sosial-politik di Amerika terus berlanjut. Kali ini, lebih kompleks.
tirto.id - Jika Jordan Peele mengajak Anda untuk berlibur, saya sarankan pikirkan dengan baik dan matang terlebih dahulu tawaran tersebut.

Pada 2017, lewat Get Out, Peele menghadirkan liburan Chris Washington (Daniel Kaluuya) dan kekasihnya, Rose Armitage (Allison Williams) yang berakhir menjadi aksi teror. Chris yang berkulit hitam menjadi target buruan orang-orang kulit putih ganas yang dikomandoi pasangan Armitage, Dean dan Missy (Bradley Whitford, Catherine Keener).


Dua tahun kemudian, nasib buruk ketika liburan juga menimpa Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o). Bersama suami, Gabe (Winston Duke), dan kedua anaknya, Zora (Shahadi Wright Joseph) serta Jason (Evan Alex), mereka berlibur di pinggiran California.

Wajah mereka terlihat berseri. Membayangkan musim panas yang begitu aduhai: berlarian di atas pasir pantai Santa Cruz yang meneduhkan mata hingga memutari danau dengan perahu yang berukuran tak seberapa.

Akan tetapi, sekali lagi, musim panas mereka berubah mimpi buruk manakala di malam hari, halaman rumah mereka disatroni empat orang. Keluarga Gabe mengira orang-orang tersebut adalah bandit yang hendak merampas barang berharga. Asumsi mereka keliru. Malam itu, mereka diteror oleh "kembaran" mereka sendiri. Dari sinilah plot Us bergulir.

Mahir Menjaga Ketegangan

Sejak membikin Get Out, nama Jordan Peele, sutradara kelahiran New York 40 tahun lalu itu, langsung mencuri perhatian. Peele dianggap piawai meracik intensitas tinggi dalam film. Ketegangan demi ketegangan yang muncul di setiap adegan merupakan hidangan favoritnya. Menyaksikan film Peele tak ubahnya seperti adu pacu adrenalin.

Formula semacam itu masih diterapkan Peele di film terbarunya, Us. Peele membangun cerita dengan cermat dan rapi. Ia tak terburu-buru menyajikan serangan kejut. Dengan kata lain, Peele tahu kapan menyimpan serangan itu dan kapan memunculkannya.

Bila dibandingkan Get Out, sensasi━atau kengerian━yang ditawarkan Us lebih kompleks dan berlapis. Kengerian dalam Us muncul hampir di setiap sisi: mulai dari ruang bawah tanah, kaca yang berukuran besar, wahana permainan di pantai Santa Cruz, hingga elevator yang membawa karakter Adelaide ke dimensi lainnya. Masing-masing sisi menghadirkan level kengerian dan teror yang berbeda-beda.


Teror kian terasa sempurna dengan performa para pemain yang begitu total. Para karakter dalam Us memperlihatkan ketakutan sekaligus kebingungan yang teramat. Gambaran paling pas adalah saat keluarga Adelaide pertama kali ditawan oleh tiruan mereka. Atmosfer terancam sangat terasa di setiap sorot mata, badan yang bergetar, maupun mulut yang tak berhenti komat-kamit.

Soal karakter, kredit tersendiri kiranya harus diberikan pada penampilan Lupita. Akting Lupita mampu menghidupkan nyawa di dua karakter yang ia perankan. Keduanya begitu berkebalikan. Karakter pertama, Adelaide, adalah karakter yang berani namun punya trauma mendalam di masa lalu. Sedangkan karakter yang kedua, tiruan Adelaide, merepresentasikan dendam serta kebengisan. Dua-duanya dimainkan dengan dahsyat oleh bintang Black Panther ini.

Keindahan Tafsir

Narasi Us berpusat pada para tiruan, atau doppelgänger, yang disebut dengan Tethered. Keberadaan mereka adalah imbas dari kebijakan pemerintah AS. Beberapa dekade sebelumnya, pemerintah dan militer AS membikin duplikat warganya sendiri dalam rangka mengetatkan kontrol terhadap mereka. Para doppelgänger ini lantas ditempatkan di terowongan bawah tanah agar terjauh dari wujud aslinya.

Tanpa alasan yang jelas, proyek tersebut justru ditutup. Para Tethered dibiarkan tak berdaya tanpa kejelasan di dunia yang asing, makan kelinci untuk memperpanjang usia, menjalani kehidupan di mana mereka tak punya kehendak bebas, sebelum akhirnya bersepakat melakukan revolusi berdarah.

Dalam narasi besar Us, Peele membawa banyak isu untuk diperbincangkan lebih lanjut. Tak seperti Get Out yang lebih banyak mengedepankan pesan soal rasisme, Us memuat banyak tafsir dan kritik sosial: dari ketimpangan gender, kapitalisme, hingga orang-orang yang terabaikan keadaan.

Lewat eksistensi para Tethered, misalnya, Peele ingin menegaskan betapa kacaunya kebijakan pemerintah AS --digambarkan lewat pengabaian dan penelantaran subyek eksperimennya. Kerusakan yang ada dalam tubuh Tethered pada akhirnya telah tumbuh secara eksponensial dan mempengaruhi generasi-generasi berikutnya.


Kritik Peele makin nyaring terdengar saat ia memberi nama bagi para Tethered. Tiruan Adelaide punya nama Red; kembaran Gabe punya nama Abraham; kembaran Jason adalah Pluto; dan milik Zora bernama Umbrae.

Infografik Misbar US
undefined


Dengan memberi nama kepada Tethered, Peele seperti ingin menyatakan sikap bahwa mereka tetaplah manusia yang beridentitas. Perbedaannya hanyalah mereka dilupakan pemerintah dan hidup dengan nelangsa. Terlepas dari hal itu, mereka, sama seperti Adelaide dan keluarganya, merupakan warga Amerika.

Narasi usang tentang “American Dreams” juga diangkat Peele tatkala ia memasukan footage iklan komersial “Hands Across America,” gerakan amal yang diinisiasi oleh pemerintahan Reagan pada akhir 1980-an untuk mengentaskan kemiskinan, gelandangan, dan kelaparan massal.

Program ini memang mampu mengumpulkan sekitar 34 juta dolar. Tapi, hampir setengahnya habis untuk biaya operasional dan hanya menyisakan 15 juta dolar untuk disumbangkan sesuai misi gerakan. Poin dari kritik Peele ialah kebijakan-kebijakan pemerintah AS sering kali hanya megah di permukaan namun gagal menyentuh akar permasalahan.

Di balik serangkaian teror yang muncul sepanjang film, Us adalah alarm pengingat bahwa hal terburuk bisa datang ketika sejarah━sekelam apa pun itu━dilupakan oleh orang-orang. Para Tethered dapat melancarkan pemberontakan yang menghilangkan banyak nyawa karena mereka sengaja dilupakan oleh pihak yang melahirkan mereka. Hidup Tethered diabaikan, dibungkam rapat-rapat, serta dianggap tidak pernah ada.

Ketika itu benar-benar terjadi, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk datangnya pembalasan, sebagaimana yang tertulis dalam Yeremia 11:11. Amerika telah melupakan (Tuhan) dan sejarahnya, dan Tuhan telah memutuskan untuk menyerahkannya kepada kehancuran━dan Us menggambarkannya dengan sangat mempesona.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono