Untung-Rugi Jadikan Jakarta Sorotan Dunia Lewat Formula E

Oleh: Renalto Setiawan - 18 Juli 2019
Dibaca Normal 4 menit
Formula E mempunyai etos yang berbeda dengan Formula 1. Apakah ambisi Anies Baswedan menjadikan Jakarta tuan rumah Formula E adalah langkah yang tepat?
tirto.id - Roma, Italia, sering dikenal sebagai kota abadi. Ia abadi dengan keindahan arsitektur kuno, cerita ketangguhan para gladiator, serta sejarah besar bangsa romawi. Namun, menurut Miles Johnson, dalam salah satu tulisannya di Financial Times, Roma ternyata tidak melulu dikenal dengan cara seperti itu.

Johnson menulis, "Dalam beberapa tahun terakhir, citra Roma telah ternoda oleh cerita-cerita tentang tumpukan sampah, infrastruktur tak keruan, dan babi hutan yang sering kali lalu lalang di jalanan."

Kabar buruknya, pendapat Johnson tersebut faktual. Soal tumpukan sampah, misalnya, Antonella Innocenzi, salah seorang pekerja kafe di Roma, pernah mengatakan, "Roma ialah ibu kota yang luar biasa tapi juga kota yang amat kotor. Semua orang bisa melihatnya. Suatu hari aku bahkan harus melompati beberapa sampah terlebih dahulu sebelum membuang sampah milikku. Ini membuatku agak merasa jijik."

Yang menarik, citra buruk mengenai kota Roma tersebut ternyata langsung tumpas setelah Roma menjadi tuan rumah balapan Formula E pada April 2018. Kala itu, saat para pembalap Formula E beradu cepat di lintasan jalanan sepanjang 2,8 km yang terletak di selatan pusat kota, mata dunia lebih tertarik untuk menyoroti antusiasme warga Roma dalam "menghidupi" balapan: Nyaris tidak ada pembicaraan mengenai buruknya infrastruktur, tumpukan sampah, dan babi hutan ketika tiket balapan ludes terjual.

Setelah balapan itu sukses (kembali) memperbaiki reputasinya, Roma pun melangkah lebih jauh lagi: Ia akan menjadi tuan rumah ajang balap mobil listrik tersebut selama lima tahun ke depan.

Sekitar setahun setelah balapan perdana Formula E di Roma, tepatnya pada 12 Juli 2019, Anies Baswedan, Gubernur Jakarta, merasa yakin bahwa Jakarta bisa mengikuti jejak Roma. Bertemu dengan penyelenggara Formula E di New York, Amerika Serikat, ia membawa pulang kabar: Jakarta berpeluang besar menjadi salah satu tuan rumah Formula E pada pertengahan tahun 2020.

Anies lantas percaya kesepakatan itu nantinya bisa mengubah citra Jakarta di mata dunia. "Pada dunia kami kirimkan pesan," kata Anies. "Jakarta bukan cuma pemain domestik, Jakarta siap menyongsong, siap sejajar, dan makin bersinar di antara megapolitan dunia."

Lantas, seperti di Roma, apakah Formula E memang benar-benar sarana yang pas untuk mengubah citra Jakarta di mata dunia?


Daya Tarik Formula E

Formula E adalah sebuah ajang kejuaraan mobil balap bertaraf dunia, sama seperti ajang Formula 1 yang telah lebih dahulu ada. Diprakarsai oleh Jean Todt, Presiden Federasi Otomotif Internasional (FIA), dan Alejandro Agag, seorang pebisnis asal Spanyol, Formula E mulai tancap gas di Beijing, Cina, pada 2014.

Setelah itu, Formula E singgah di kota-kota besar lainnya, menarik perhatian dunia, memantik beberapa produsen otomotif dunia untuk ikut serta, dan baru saja menyelesaikan musim kelimanya. Ini artinya, saat Toto Wolf, kepala tim Mercedez di Formula 1, menyebut "kompetisi Formula E tidak akan bertahan selama lima musim" pada awal musim 2014 lalu, ia jelas keliru besar.

Karena perkembangannya itu, pecinta balap kemudian mulai membanding-bandingkan Formula E dengan Formula 1. Tentang mana yang lebih unggul, mana yang lebih menarik, dan tentang hal-hal semacamnya. Namun, Susie Wolf, pemimpin Venturi Formula E Team, berpendapat bahwa perbandingan itu ternyata sama sekali tak relevan. Alasan Wolf pun masuk akal: Formula E dan Formula 1 memiliki tujuan yang berbeda.

"Formula 1 adalah kompetisi glamor dan ikonik di mana mobil dengan teknologi paling mutakhir saling bersaing untuk menjadi yang terbaik. Formula E memiliki etos yang berbeda: Sejak awal, tujuan utamanya adalah menyoroti potensi teknologi listrik, dan fokus kami adalah memobilisasi teknologi itu sehingga dapat terus berkembang pada masa depan," kata Wolf.

Secara tak langsung pernyataan Wolf itu dapat menggambarkan bahwa Formula 1 ialah puncak dari segala macam balapan dalam jagad motosport, tetapi Formula E tidak ingin menyainginya. Para peserta Formula 1 ingin jadi yang terbaik agar mendapatkan banyak keuntungan, tetapi para peserta Formula E lebih akrab dengan investasi. Singkat kata, Formula E hanya ingin membuat kompetisi balap yang berbeda.

Dari sana, untuk menarik basis penggemar, Agag, selaku CEO Formula E, lantas melalukan beberapa terobosan menarik. Soal kedekatan dengan penggemar, misalnya, jika dalam Formula 1 penggemar sangat berjarak dengan para pembalap, Agag justru membuat para penggemar Formula E ikut terlibat langsung dalam setiap balapan.

Salah satunya adalah melalui fitur "Fanboost". Fitur tersebut memungkinkan bagi para pembalap bisa mendapatkan daya tambahan selama lima detik di paruh kedua lomba. Caranya: Saat lomba dimulai, melalui aplikasi yang disediakan oleh penyelenggara, para penggemar akan melakukan voting untuk menentukan pembalap mana yang berhak mendapatkan fitur tersebut.

Selain itu, agar jalannya lomba semakin tidak mudah untuk ditebak, para pembalap juga dapat mengaktifkan "Attack Mode", sebuah daya tambahan, di area yang sudah ditentukan oleh penyelenggara balapan.


Namun, di antara beberapa terobosan yang dilakukan oleh Agag tersebut, lokasi balapan tentu paling menarik perhatian. Jika balapan Formula 1 biasanya dilangsungkan di sirkuit khusus, Formula E lebih sering dilangsungkan di sirkuit jalanan yang dibuat secara dadakan di pusat kota.

Alasan Agag pun tak kalah menarik, yakni tingkat kebisingan mobil Formula E jauh lebih rendah daripada Formula 1, 80 db berbanding 130 db. Selain itu, karena menggunakan teknologi listrik, tingkat emisi mobil Formula E juga jauh lebih rendah daripada mobil Formula 1. Dengan pendekatan semacam itu, kota penyelenggara pun setidaknya bisa mendapatkan dua keuntungan sekaligus.

Pertama, karena dilangsungkan di pusat kota, Formula E bisa tetap menyedot atensi publik meski mereka tergolong olahraga baru. Kedua, kota penyelenggara juga bisa melakukan kampanye soal mobil listrik yang jauh lebih ramah terhadap lingkungan.


Bakar Uang

Dari sana, Formula E tentu bisa menjadi sarana yang pas bagi Jakarta untuk menyedot perhatian dunia. Namun, di balik dampak baik yang dapat diperoleh, menjadi tuan rumah Formula E ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terutama bagi Jakarta, ada modal yang kelewat besar yang harus dikeluarkan, juga ada faktor logistik yang barangkali bisa menjadi kendala utama.

Menurut hitung-hitungan The Verge, Formula E masih mengalami kerugian sejak dimulai pada tahun 2014 lalu. Total, kerugian mereka bahkan mencapai 150 juta euro atau sekitar Rp2,35 triliun (asumsi kurs 1 euro = Rp15.680,-). Meski begitu, mereka juga terus mengalami peningkatan pendapatan, yakni mencapai 149 juta euro pada tahun 2018 lalu.

Pendapatan yang diperoleh Formula E sebagian besar memang berasal dari sponsor, tapi tim-tim peserta balapan, broadcast, dan kota-kota penyelenggara juga mempunyai peran besar terhadap pendapatan tersebut. Dan, terutama bagi kota-kota yang baru pertama kali menjadi tuan rumah, jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan Formula E ternyata tak sedikit. Setidaknya, apa yang pernah terjadi di Montreal, Kanada, bisa menjadi pelajaran bagi Jakarta.

Infografik Formula E
Infografik Formula E. tirto.id/Nadia

Karena tidak mampu menggandeng sponsor, pemerintah Montreal harus merogoh kocek sebesar 24 juta euro untuk menyelenggarakan Formula E musim 2016-2017. Biaya itu dianggarkan untuk segala hal, dari persiapan sirkuit, kompensasi parkir, hingga perlindungan lintasan.

Namun, karena tidak diikuti dengan rencana bisnis yang matang, Montreal akhirnya mengalami kerugian besar dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak dengan penyelenggara Formula E yang sejatinya berakhir pada musim 2018-2019.

"Tak peduli berapa pun dana yang harus saya keluarkan untuk membatalkan kesepakatan kontrak ini [menjadi tuan rumah FE], saya yakin itu adalah nominal yang layak. Karena pada titik ini, dukungan kami tidak mendapat bayaran yang impas," ujar Valery Plante, wali kota Montreal, seperti diwartakan Montreal Gazette.

Sementara itu, soal kendala logistik, apa yang dialami Moskow bisa menjadi contoh lain. Moskow sejatinya akan menggelar balapan formula E pada Juni 2016, tapi acara itu batal karena pemerintah Rusia urung memberi izin. Alasannya, dengan tingkat kepadatan lalu lintas di Moskow, pemerintah Rusia kesulitan menutup jalan saat lomba sedang berlangsung. Masalah yang dihadapi Moskow tersebut tentu sangat relevan dengan Jakarta.

Menurut TomTom Traffic Index, Jakarta adalah salah satu kota dengan tingkat kepadatan lalu lintas paling tinggi di dunia. Pada tahun 2017 lalu, Jakarta bahkan berada di peringkat keempat dunia dengan tingkat kepadatan mencapai 61 persen. Pada tahun 2018, tingkat kepadatan lalu lintas di Jakarta memang mengalami penurunan, yakni hanya berada di kisaran 53 persen. Namun, Jakarta masih tetap berada di posisi sepuluh besar.

Dari sana, sama seperti Moskow, Jakarta kemungkinan besar akan mengalami kesulitan untuk menutup akses jalan ketika Formula E berlangsung nanti. Sampai sekarang pemerintah DKI Jakarta boleh terus menggodok rute balapan yang paling menguntungkan dan memungkinkan. Namun, mereka juga harus ingat bahwa gelaran Formula E bisa berlangsung dalam waktu satu-dua jam, melainkan bisa satu sampai dua hari penuh.

Itu artinya, saat sepeda motor masih sering masih melintas di trotoar dan bajaj masih sering ngetem di pinggir jalanan Jakarta, kepadatan lalu lintas di Jakarta akan menjadi tantangan besar bagi mimpi Anies untuk menarik perhatian dunia melalui Formula E.

Baca juga artikel terkait FORMULA E atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight