Yang Perlu Dipersiapkan DKI agar Sukses Jadi Tuan Rumah Formula E

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 15 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jakarta memang layak jadi tuan rumah balap mobil listrik Formula E. Tapi penyelenggaraannya harus tetap digarap serius, agar tak merugi di kemudian hari.
tirto.id - Mungkin karena saking semringahnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sampai dua kali mengunggah foto di Instagram soal kabar Jakarta bakal menjadi salah satu tuan rumah seri balapan Formula E tahun depan.

Foto pertama diunggah Minggu (14/7/2019) kemarin. Di sana disebutkan negosiasi antara dirinya dengan Alejandro Agag dan Alberto Longo, CEO dan COO FIA Formula E (FE), berhasil menemui kata sepakat. Sedangkan foto kedua diunggah Senin (15/7/2019), menunjukkan bukti foto bersama dua sosok tersebut usai negosiasi yang Anies klaim ‘dipenuhi antusiasme.’

“Pada dunia kami kirimkan pesan: Jakarta bukan cuma pemain domestik. Jakarta siap menyongsong, siap sejajar, dan makin bersinar di antara megapolitan dunia,” tulis Anies dalam salah satu unggahan tersebut.

Anies boleh mengklaim kalau negosiasi telah tuntas, namun menurut media-media Eropa, itu belum pasti 100 persen. “Kami berada di negosiasi tahap akhir, tapi belum bisa memberikan pengumuman resmi,” tutur salah satu sumber internal Formula kepada Motorsport.

Hingga artikel ini diunggah, FE musim 2019/2020 masih menyisakan beberapa kalender jadwal balapan yang belum diisi. Beberapa di antaranya adalah pada 14 Desember 2019, 21 Mei 2020, dan awal Juni 2020. Kemungkinan, jika benar-benar lolos sebagai tuan rumah, Jakarta akan diplot untuk menyelenggarakan balapan pada Juni 2020.

Ada pula kemungkinan Jakarta baru akan jadi tuan rumah pada musim 2020/2021. Tapi kemungkinan untuk itu kecil karena Anies mengklaim balapan di Jakarta akan dihelat pada “pertengahan 2020”, sementara musim 2020/2021 baru dimulai pada kuartal terakhir 2020.

Sebenarnya ini bukan kali pertama ibukota Indonesia dicanangkan bakal menjadi tuan rumah Formula E. Pada 2017 lalu, nama Jakarta sempat muncul dalam proyeksi calon tuan rumah. Namun rencana tersebut tak terwujud.


Peluang Bagi Jakarta


Tentu ada alasan mengapa Anies senang mengumumkan kabar ini. Ada dua alasan besar. Pertama soal kemungkinan duit yang masuk ke kas pemprov. Dalam unggahannya kemarin, Anies mengklaim preliminary study timnya menyebutkan perhelatan FE bisa menggerakkan roda perekonomian sampai 78 juta euro.

Perhelatan Formula E juga bisa dimaksimalkan sebagai ajang kampanye untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, sebagaimana yang dilakukan banyak tuan rumah lain. Maklum, mobil-mobil yang bertanding di sana memang digerakkan dengan motor dengan sumber energi dari baterai (listrik).

Per Minggu (14/7/2019), menurut AirVisual.com. kualitas udara di Jakarta merupakan yang terburuk di dunia. Awal Juli kemarin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Andono Warih, menyebut faktor utama yang membuat polusi udara di ibukota semakin parah adalah emisi kendaraan bermotor.

Lagipula, syarat untuk jadi tuan rumah tak begitu sulit. Spesifikasi sirkuit yang harus dipenuhi relatif ringan, yakni cukup menyediakan lintasan sepanjang 2,4 kilometer. Jarak ini jauh lebih ringkas ketimbang syarat untuk, misalnya, MotoGP yang harus memiliki panjang antara 4,2 sampai 4,5 km.

Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa saja balapan akan dihelat di kawasan GBK. Kemungkinan ini terbuka karena pada 2017, kawasan Senayan di Jalan Asia Afrika diproyeksikan sebagai salah satu kandidat lokasi balapan FE.

Dari segi lintasan, Pemprov DKI pun tidak perlu mempersiapkan yang baru. Sebab tidak seperti F1, mobil-mobil FE tak memakai ban dengan spesifikasi khusus. Untuk tembok lintasan-pun tidak ada kriteria menyulitkan, dan Pemprov DKI bisa menghemat anggaran dengan cara menyewa.


Harus Berhati-Hati


Kendati berbagai aspek memungkinkan Jakarta untuk menggelar FE, bukan berarti risiko tidak akan mengikuti. Sebab, tak sedikit kota lain di dunia yang akhirnya menyesal setelah sebelumnya antusias menjadi tuan rumah.

Salah satu yang paling terdengar suaranya adalah Montreal, Kanada. Pada musim 2016-2017, untuk kali pertama pemerintah kota setempat menghelat dua balap FE beruntun, yakni pada 29 dan 30 Juli 2017. Namun pada tahun berikutnya (musim 2017-2018 dan 2018-2019) mereka berupaya mati-matian untuk tidak melanjutkan kesepakatan tersebut.

Upaya mundur sebagai tuan rumah FE disampaikan langsung oleh mayor Montreal, Valerie Plante.

“Tak peduli berapa pun dana yang harus saya keluarkan untuk membatalkan kesepakatan kontrak ini (menjadi tuan rumah FE), saya yakin itu adalah nominal yang layak. Karena pada titik ini dukungan kami tidak mendapat bayaran yang impas,” ujar Plante seperti diwartakan Montreal Gazette.

Kengototan Plante untuk mundur beralasan. Kebijakan menjadi tuan rumah FE sama sekali tak menguntungkan Montreal. Menurut laporan CBC, estimasi kerugian yang dialami Montreal sampai menyentuh 50 juta dolar AS.

Hal itu terjadi karena beberapa faktor. Penyebab pertama, walikota sebelum Plante yang pertama kali mencanangkan rencana tersebut, Denis Coderre, tidak membentuk badan yang transparan untuk menyusun laporan anggaran pelaksanaan balapan. Setelah rezim Coderre berakhir, Plante mendapati organisasi bentukan Coderre banyak membuat kesepakatan merugikan, termasuk meminjam dana sampai 10 juta dolar AS yang bikin neraca keuangan kota timpang.


Faktor-faktor lain yang tidak kalah penting adalah penjadwalan yang tidak menguntungkan (bertepatan dengan balapan F1 di Kanada) dan tidak mampu bersaingnya pembalap lokal dalam Formula E.

Dua faktor ini bikin antusiasme masyarakat menurun dan pemerintah kota gagal mendapat pemasukan sesuai proyeksi awal.

Atas dasar itu, Anies dan Pemprov DKI perlu mengantisipasi dengan membentuk badan pengelola keuangan yang terbuka.

Bukan cuma Montreal yang bisa jadi percontohan. Kota lain, Hong Kong, hingga saat ini juga tercatat belum balik modal meski sudah tiga musim beruntun menjadi tuan rumah Formula E. Pada tahun kedua, menurut laporan South China Morning Post, pemerintah kota setempat memang melaporkan mendapat pemasukan sekitar 93,5 juta dolar Hong Kong. Angka ini naik 87 persen ketimbang tahun pertama (50 juta dolar Hong Kong).

Namun jumlah ini dikabarkan masih belum setara ketimbang modal yang dikeluarkan pemerintah kota untuk menyiapkan sirkuit dan persyaratan lain.

Perlu pula menjamin Indonesia punya pembalap lokal yang bisa menarik atensi masyarakat Jakarta untuk hadir meramaikan balapan.

Dan sialnya Indonesia belum punya pembalap yang bisa bersaing. Rio Haryanto barangkali satu-satunya pembalap Indonesia yang pernah berada di balik kemudi mobil Formula E. Pada 2017 lalu dia sempat menjajal peruntungan sebagai pembalap rookie di Valencia. Hanya saja, saat itu statusnya sebagai pembalap pilihan fans (fanboost).

Baca juga artikel terkait FORMULA E atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Rio Apinino
DarkLight