3 Mei 2001

Udjo Ngalagena dan Pandemi yang Mengancam Eksistensi Saung Angklung

Oleh: Irfan Teguh - 3 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Setelah puluhan tahun aktif melestarikan wisata pertunjukan seni budaya tradisional, kini Saung Angklung Udjo terancam bangkrut.
tirto.id - Pandemi COVID-19 kembali memakan korban. Kali ini korbannya adalah Saung Angklung Udjo, sebuah tempat wisata pertunjukan seni budaya tradisional di Bandung. Tempat ini terancam tutup karena kunjungan sangat dibatasi untuk menekan penyebaran COVID-19. Artinya pemasukan amat terbatas, sementara banyak pekerja yang tetap harus memenuhi kebutuhan mereka.

Mengutip laporan Kompas, pada masa normal, pegawai yang bekerja di Saung Angklung Udjo mencapai 600 orang. Namun kini yang tersisa hanya 40 orang. Untuk membantu para pekerjanya yang terdiri dari pelaku seni pertunjukan, pengrajin angklung, dan kru pendukung yang tengah kesulitan keuangan, Saung Angklung Udjo menggalang dana yang salah satunya diumumkan lewat akun Instagram.

Sementara Pikiran Rakyat melaporkan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Kenny Dewi Kanisari berencana menyurati Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Tahun lalu, Kementerian Pariwisata dan Kreatif mengadakan hibah untuk hotel dan restoran. Kami harap tahun ini ada hibah bagi destinasi wisata di Kota Bandung,” ungkapnya.

Pada 2018 Saung Angklung Udjo juga didera konflik internal. Dalam catatan Pikiran Rakyat, Saung Angklung Udjo, yang telah menjadi perseroan terbatas, terbelit sejumlah permasalahan, yakni hak waris, hak atas perusahaan, pengelolaan keuangan, aset, dan sejumlah aspek lain yang berkaitan dengan operasional perusahaan.

“Bagaimana pun, ini menjadi bom waktu. Penyelesaiannya memang harus bisa, siapa yang memegang hak ini mendapatkan haknya. Kesulitan kita untuk beberes itu, perlu waktu dan perlu biaya,” kata Taufik Hidayat Udjo selaku Direktur Utama PT Saung Angklung Udjo.

Dan dua tahun lebih setelah perselisihan itu, tibalah pandemi COVID-19 yang merangsek semua sektor kehidupan hingga morat-marit. Akankah Saung Angklung Udjo bertahan?


Daeng Soetigna sebagai Sang Pemula

Sesuai namanya, Saung Angklung Udjo didirikan oleh Udjo Ngalagena dan istrinya, Uum Sumiati. Udjo adalah salah seorang murid Daeng Soetigna, seniman angklung asal Pameungpeuk, Garut yang pernah pentas pada rangkaian acara Konferensi Asia Afrika 1955 di Gedung Merdeka, Bandung.

Dalam buku Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia (1986) yang disusun Helius Sjamsuddin dan Hidayat Winitasasmita disebutkan Soetigna mulai menekuni angklung secara serius pada 1938 saat ia tinggal di Kuningan, Jawa Barat. Saat itu seorang pengemis yang mengamen ala kadarnya datang ke rumahnya sembari membawa angklung buncis.

Soetigna tertarik pada suara angklung itu karena mengingatkannya akan masa kecil di Garut. Ia kemudian membeli angklung itu dan belajar “menyetem” kepada seorang pembuat angklung bernama Djaja.

Pada awal 1946 Soetigna mendirikan grup angklung. Di dalamnya terdapat sejumlah murid yang bersuara merdu hingga angklung yang semula hanya diperagakan secara instrumental dapat pula mengiringi lagu-lagu. Di bulan November 1946, Soetigna dan grupnya tampil dalam rangkaian Perundingan Linggarjati.

“Pertunjukan angklung itu telah turut mencairkan suasana yang kaku dan tegang setelah perundingan di Linggarjati,” tulis penyusun buku Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia (1986).

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Mei 1947, Daeng Soetigna dan rombongannya tampil juga di Bandung pada sebuah acara yang diadakan Negara Pasundan. Mereka pentas di Gedung Concordia (kini Gedung Merdeka) dan membawakan lagu ciptaan Johan Straus berjudul “An der schonen Blauen Donau”.


Delapan bulan kemudian, mereka juga diminta tampil dalam acara kesenian pada penutupan Perjanjian Renville. Sebelas tahun setelah pentas pada Konferensi Asia Afrika 1955, ia mengadakan pertunjukan muhibah keliling di sejumlah kota di Malaysia.

Setelah pensiun sebagai Kepala Jawatan Kebudayaan Departemen P dan K Provinsi Jawa Barat pada 1964, Daeng Soetigna masih tampil di sejumlah kota seperti Manila, Tokyo, Honolulu, San Fransisco, New York, Paris, Kairo, Karachi, dan Bombay.

Pada April 1984 Daeng Soetigna meninggal dalam usia 79 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Kiprah Udjo dan Akhir Perjalanan?

Dalam Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya (2000) disebutkan bahwa Udjo lahir di Bandung pada Maret 1927. Menurut Her Suganda dalam Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja (2011), mula-mula namanya hanya Udjo. Tetapi setelah dewasa dia menambahkan kata “Ngalagena” sebagai nama belakangnya yang artinya enak, harapan, dan mandiri.

Her Suganda menambahkan, Udjo merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Sejak usia enam tahun ia akrab dengan angklung dan kerap memainkannya bersama teman-temannya di bawah bimbingan Abah Almawi, gurunya. Pada 1948 ia berkenalan dengan Daeng Soetigna yang juga kemudian menjadi gurunya.

Infografik Mozaik Udjo Ngalagena
Infografik Mozaik Udjo Ngalagena


Udjo lulusan SGA tahun 1950. Sampai 1959, ia menjadi guru di sejumlah sekolah di Bandung. Ia juga pernah berdinas di Kanwil Depdikbud Jawa Barat. Pada 1962 Udjo mulai membuat calung dan angklung dan pada 1966 ia bersama istrinya mendirikan Saung Angklung Udjo. Mulai 1967 Udjo melatih anak-anak sekolah dari pelbagai tingkatan yang tinggal di sekitar rumahnya.

“Gagasan membuat tempat pertunjukan itu dirangsang oleh dua tokoh Sunda terpandang, Daeng Soetigna dan Oey Eng Soe, untuk mula-mula mengajar anak-anak kampung di sekitar situ (rumahnya),” tulis Remy Sylado dalam Perempuan Bernama Arjuna 6 (2017).

Oey Eng Soe yang dimaksud oleh Remy Sylado adalah Oejeng Soewargana, meskipun sejumlah pihak meragukan bahwa dua nama itu merujuk pada orang yang sama.


Warsa 1971, oleh Dinas Pariwisata Kodya Bandung, Saung Angklung Udjo ditunjuk sebagai salah satu obyek wisata. Sejak itulah wisatawan asing dan domestik mulai banyak berkunjung. Pada tahun itu juga Udjo mendapat beasiswa dari Gubenur Jakarta Ali Sadikin untuk mengadakan studi banding pengolahan bambu di Thailand.

Mulai 1980-an, Udjo kian sibuk memenuhi undangan di luar negeri. Di tahun 1982 ia mengadakan pertunjukan di Den Haag, Belanda. Lalu ke Kepulauan Solomon (1985), Riyadh (1988), Jepang (1995), dan London (1996).

Menurut Her Suganda, saat di Kepulauan Solomon, negara di Pasifik selatan itu sempat mencurigai Indonesia karena sejumlah pemberitaan terkait Timor Timur (Timor Leste) dan Irian Jaya (Papua).

“Misi kesenian Saung Angklung Udjo berhasil membangun citra Indonesia. Bahkan saking tertariknya, sebelum misi kesenian tersebut kembali ke Indonesia, di sana sudah terbentuk orkes angklung yang bisa dimainkan dengan baik. Itulah salah satu rintisan Udjo,” tulisnya.

Untuk menunjang kegiatannya, Udjo menanam pelbagai jenis bambu di kebun miliknya, di antaranya bambu gombong, bambu wulung, bambu tamiang, dan bambu tali. Ia juga membangun gudang penyimpanan bambu, tempat membuat peralatan dari bambu, dan lain-lain.

Setelah puluhan tahun berkiprah melestarikan angklung, Udjo Ngalagena meninggal pada 3 Mei 2001, tepat hari ini 20 tahun lalu. Jejaknya diteruskan oleh anak-anaknya yang pada 2018 sempat berselisih yang terkait dengan keberlangsungan Saung Angklung Udjo.

Kiwari, ikhtiar pelestarian kesenian ini kembali diuji dengan datangnya pandemi COVID-19 yang merontokkan banyak sektor. Apakah angklung dan keceriaan anak-anak akan tetap berbunyi di Padasuka atau sebaliknya.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 11 Februari 2021. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait ANGKLUNG atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight