Menuju konten utama

Trump Klaim Rusia Ingin Hillary Menang Pemilu AS

Presiden AS Donald Trump kembali menyanggah tudingan intelijen bahwa Rusia membantunya memenangkan Pemilu tahun lalu.

Trump Klaim Rusia Ingin Hillary Menang Pemilu AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melambaikan tangan saat menaiki Air Force One di bandara kota Morristown, New Jersey, dalam perjalanan kembali ke Washington setelah berakhir pekan di Klub Golf Nasional Trump di Bedminster, Senin (3/7). ANTARA FOTO/REUTERS/Yuri Gripas.

tirto.id - Presiden AS Donald Trump kembali menyanggah tudingan intelijen bahwa Rusia membantunya memenangkan Pemilu tahun lalu. Lebih lanjut, Trump juga mengklaim bahwa sebenarnya pemimpin Rusia tersebut mengharapkan kemenangan Hillary.

“Kami adalah negara terkuat di dunia dan semakin kuat karena saya adalah orang militer besar. Seandainya Hillary menang, kekuatan militer kita akan berkurang,” ujarnya sebagaimana dikutip The Guardian.

Untuk itu, Trump menganggap Rusia tidak mungkin mengharapkan dirinya menang. Kemenangannya akan memperkuat AS dan itu bukanlah hal yang diinginkan Rusia. Trump secara pribadi juga menyayangkan sikap orang-orang yang tidak menggunakan akal sehat dan menudingnya berkonspirasi dengan pihak Putin untuk memenangkan Pemilu.

"Ketika saya menginginkan energi yang luar biasa—kami membuka batubara, kami membuka gas alam, kami terbuka lebar, kami melakukan semua hal yang dia benci—tapi tidak ada yang pernah menyinggungnya," imbuh Trump.

Dalam wawancaranya dengan Christian Broadcasting Network, Trump juga mengatakan bahwa banyak hal yang ia inginkan dan berlawanan dengan keinginan Putin. Kendati demikian, Trump tetap menyatakan bahwa ia menikmati pertemuannya dengan Putin di Hamburg pekan lalu.

Sementara itu, ketika dimintai pendapatnya setelah pertemuan dengan Trum, Vladimir Putin menuturkan bahwa dirinya berharap dapat menjalin hubungan bilateral dengan AS di kemudian hari. Ia juga mengungkapkan kesannya terhadap sosok Presiden AS tersebut. Menurutnya, Trump yang ia temui di Hamburg berbeda jauh dari sosok Trump yang biasa disaksikannya di televisi.

"Dia [Trump] sangat mengerti siapa yang sedang dia ajak bicara dan menjawab pertanyaan dengan cepat. Saya pikir hubungan pribadi telah terjalin," imbuh Putin.

Di lain pihak, dalam sesi wawancara di Gedung putih, Trump mengatakan bahwa ia berbincang dengan Putin selama dua jam lebih. Ia juga mengatakan sempat menyinggung topik mengenai tuduhan intelijen terhadap keterlibatan Rusia dalam Pemilu AS tahun lalu.

“Saya bertanya ‘apakah anda melakukannya’ dan dia menjawab, ‘Tidak, saya tidak melakukannya. Sama sekali tidak’, saya juga beberapa kali menanyainya dengan cara lain dan ia tetap menjawab tidak,” ujar Trump.

Pada sesi wawancara, Trump juga sempat ditanyai terkait apakah ia percaya terhadap sanggahan Putin tersebut. Sempat memberi jeda beberapa detik, Trump kemudian mengatakan bahwa dirinya juga masih memikirkannya.

“Lihat. Sesuatu terjadi dan kita harus mencari tahu apa itu, karena kita tak mungkin membiarkan isu seperti itu terjadi dalam proses Pemilu. Jadi, sesuatu telah terjadi dan kita harus mencari tahu apa itu,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PEMERINTAHAN DONALD TRUMP atau tulisan lainnya dari Herdanang Ahmad Fauzan

tirto.id - Politik
Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Maya Saputri