Menuju konten utama

Trump Kesal Sekutu AS Tak Mau Bantu Buka Selat Hormuz

Trump menyatakan ia kecewa dan kesal karena negara-negara sekutu menolak untuk mengirim kapal militer ke Selat Hormuz.

Trump Kesal Sekutu AS Tak Mau Bantu Buka Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump berbicara setelah menandatangani perintah eksekutif tentang penipuan di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Maret 2026. AFP/ANNABELLE GORDON
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan kekesalannya terhadap sikap para negara sekutu yang menolak untuk mengirimkan kapal ke Selat Hormuz. Trump mengkritik negara-negara yang enggan bergabung, terutama yang selama ini mendapatkan perlindungan militer dari AS.

Polemik di Selat Hormuz masih menjadi perdebatan global setelah Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjaga kawasan tersebut agar kapal-kapan tanker minyak berbendera AS maupun sekutunya tidak dapat melewatinya.

Selat Hormuz sangat penting karena merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia, khususnya untuk minyak dan gas. Diperkirakan sekitar 20–30% dari total konsumsi minyak dunia dikirim melalui jalur ini setiap harinya.

Trump Kesal Sekutu Tolak Kirim Kapal ke Selat Hormuz

Sebelumnya, Trump telah meminta kepada negara-negara sekutunya dukungan militer langsung untuk membentuk koalisi angkatan laut internasional di Selat Hormuz.

Ia ingin negara-negara sekutu, terutama dari Eropa dan anggota NATO, mengirim kapal perang atau armada laut ke kawasan tersebut. Tujuannya adalah untuk menjaga “kebebasan navigasi”, yaitu memastikan kapal-kapal dagang, terutama pengangkut minyak, bisa melintas dengan aman tanpa gangguan dari Iran.

Trump juga mengharapkan kontribusi alat militer spesifik, seperti kapal penyapu ranjau (mine sweepers) atau teknologi pendukung lain, karena salah satu ancaman utama di Selat Hormuz adalah ranjau laut yang dapat mengganggu jalur pelayaran.

Selain itu, Trump juga ingin adanya dukungan politik dan solidaritas strategis dari sekutu. Artinya, bukan hanya bantuan teknis, melainkan juga bentuk keberpihakan terhadap langkah AS dalam menghadapi Iran.

Trump menilai negara-negara yang selama ini dilindungi oleh AS seharusnya menunjukkan timbal balik dengan ikut serta dalam misi ini.

Namun, keinginan Trump ini ternyata tidak disambut baik oleh semua negara-negara sekutunya. Ada yang tegas menolak bergabung, ada juga yang memilih mengambil sikap berhati-hati. Dan tentu, hal itu membuat Trump tidak puas.

“Beberapa di antaranya adalah negara-negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun. Kami telah melindungi mereka dari ancaman luar yang mengerikan, dan mereka tidak begitu antusias,” ucapnya kesal dikutip Al Jazeera (16/3/2026).

“Kami memiliki beberapa negara di mana kami memiliki 45.000 tentara… melindungi mereka dari bahaya dan kami telah melakukan pekerjaan yang hebat. Dan, kami ingin tahu, apakah Anda memiliki kapal penyapu ranjau? ‘Yah, lebih baik tidak terlibat, Pak.’” tambahnya.

Trump secara eksplisit menyebut beberapa negara yang diharapkan ikut dalam koalisi ini, seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, serta mendorong seluruh anggota NATO untuk berpartisipasi.

Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari negara-negara tersebut. Bahkan, sejumlah negara justru menunjukkan penolakan atau sikap hati-hati.

Negara seperti Australia, Jepang, Polandia, Swedia, dan Spanyol telah menyatakan tidak akan mengirimkan kapal militer. Jerman, melalui Menteri Pertahanannya, juga menegaskan tidak akan terlibat secara militer, meskipun tetap membuka peluang dukungan diplomatik.

Inggris di bawah kepemimpinan Keir Starmer masih mempertimbangkan opsi terbatas seperti pengiriman drone pendeteksi ranjau, namun menegaskan tidak ingin terseret ke dalam konflik yang lebih luas.

Prancis menjadi salah satu negara yang relatif lebih terbuka untuk membantu, meskipun belum ada keputusan final.

Meskipun banyak mendapatkan penolakan, Trump mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah merespons ajakannya untuk membentuk koalisi angkatan laut internasional guna mengamankan Selat Hormuz tersebut.

Menurutnya, beberapa negara bahkan sudah dalam perjalanan untuk bergabung, meskipun ia belum bersedia menyebutkan nama-nama negara tersebut secara terbuka. Ia juga menyampaikan bahwa pengumuman resmi akan dilakukan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.

“Banyak negara telah memberi tahu saya bahwa mereka sedang dalam perjalanan. Beberapa sangat antusias, dan beberapa tidak. Saya lebih suka tidak mengatakannya dulu,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra