tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) dilaporkan jengkel dengan salah satu mitra utamanya, Israel. Dalam pernyataan terbaru, Trump bahkan mengancam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa ia akan meninggalkan persekutuan keduanya. Ada apa gerangan?
Pernyataan kekesalan itu tampak pada unggahan media sosial Trump pada Senin (8/6/2026). Dalam satu unggahan, Trump meminta “Israel dan Iran” untuk “menghentikan serangan”.
Kemudian, dalam unggahan terpisah, Trump menyiratkan kejengkelannya. Ia menyebut bahwa negosiasi penghentian perang yang pecah sejak 28 Februari hanya akan terjadi jika tidak dihalang-halangi “ketidaktahuan atau kebodohan”.
“Negosiasi akhir mengenai 'perdamaian' sedang berlangsung, asalkan tidak terhalang oleh ketidaktahuan atau kebodohan,” tulis Trump melalui Truth Social sembari menyerukan Israel dan Iran berunding, serta menegaskan blokade AS terhadap Iran tetap berlaku.
Seturut Al Jazeera, pesan tersurat dalam unggahan itu menyiratkan kejengkelan Trump terhadap Israel. Trump dilaporkan telah secara khusus menelpon Benjamin Netanyahu pada Minggu (7/6) malam dan mengancam untuk meninggalkan persekutuan AS-Israel.
“Saya berkata, ‘Bibi [Netanyahu], sebaiknya Anda berhati-hati, atau Anda akan segera sendirian’,” kata Trump dalam keterangannya untuk Axios.
Sebab kejengkelan Trump itu disebut berasal dari eskalasi konflik yang terjadi antara Israel dan Iran. Pada Minggu hingga Senin, keduanya saling berbalas serangan secara terbuka.
Eskalasi itu pecah setelah Israel kembali melancarkan serangan ke ibu kota Lebanon, Beirut. Serangan ini dilancarkan Israel pada Minggu dan membunuh sedikitnya 14 orang di tiga wilayah berbeda.
Sepanjang perang yang berlangsung sejak 28 Februari, Iran telah berulang kali menegaskan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dan karenanya serangan Israel ke negara tersebut dinilai sebagai pelanggaran. Namun, Israel terus menggempur Lebanon.
Serangan pada Minggu lalu itu kemudian dibalas oleh Iran. Gelombang rudal diluncurkan Iran ke Israel utara pada Minggu malam.
Trump kemudian menelpon Netanyahu sebagaimana dilaporkan Axios. Ia meminta agar Netanyahu tidak membalas serangan.
Akan tetapi, Israel membalas serangan Iran pada Senin pagi. Pasukan Israel menyerang sistem pertahanan udara Iran dan sebuah pabrik petrokimia. Hal ini membuat Iran kembali menyerang Israel, kali ini dengan target fasilitas serupa di Haifa dan dua pangkalan udara milik pemerintahan Zionis itu.
Netanyahu Klaim Israel Berhak Membela Diri
Usai saling balas serangan, Netanyahu tampil secara publik di sebuah tayangan televisi, menyebut ia sudah memberi tahu Trump bahwa “Israel memiliki hak penuh untuk membela diri, dan kami menggunakannya sebagaimana mestinya”.
Netanyahu mengungkapkan itu sembari melayangkan ancaman ke Iran bahwa Israel akan “membalas dengan kekuatan penuh” jika Iran “melanjutkan serangan”.
Eskalasi ini lalu jadi biang kejengkelan Trump terhadap Israel dan Netanyahu. Hal ini dikarenakan ketegangan berpotensi membahayakan jalannya perundingan yang sedang berlangsung untuk menghentikan perang.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut bahwa AS ikut bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan Israel. Secara terbuka, Baghaei menyebut bahwa “AS bertanggung jawab langsung” terhadap pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang dilakukan Israel.
“Mereka adalah pihak yang terlibat dalam negosiasi gencatan senjata. Oleh karena itu, setiap tindakan yang melanggar gencatan senjata, baik melalui pencegatan kapal [di Selat Hormuz], penargetan Lebanon selatan oleh Israel, atau peristiwa lainnya, akan menyebabkan Amerika Serikat bertanggung jawab langsung atas eskalasi di kawasan tersebut,” kata Baghaei.
Di sisi lain, jalannya negosiasi dilaporkan tetap berlangsung kendati eskalasi tampak membuatnya jadi makin runyam. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengunggah keterangan di X bahwa Teheran masih “berada di meja perundingan” dengan Pakistan sebagai penengah.
Hal serupa juga diungkap Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang menyebut bahwa upaya diplomatik masih terus berlangsung “dengan sungguh-sungguh dan teliti”. Dalam keterangannya, Shehbaz menyerukan semua pihak untuk menahan diri “terutama ketika tujuan akhir hampir tercapai”.
Sebelum ketegangan kali ini terjadi, persekutuan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu juga sempat memanas pada 19 Mei lalu. Kala itu, Netanyahu dilaporkan mendesak Trump untuk kembali menyerang Iran dan melanjutkan pertempuran.
Netanyahu dilaporkan telah tidak sabar dengan keputusan Trump untuk menempuh jalur diplomasi dan lebih menghendaki opsi kekerasan. Sikap ini disebut juga diserukan oleh para pejabat Israel lainnya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































