Tren COVID Naik di 105 Daerah, Epidemiolog: Perlu Pembatasan Lagi

Reporter: Irwan Syambudi - 27 Okt 2021 19:22 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Puncak ujian terberat adalah saat libur Natal dan Tahun Baru, jika tidak diantisipasi maka mobilitas tinggi akan kembali meningkatkan kasus COVID-19.
tirto.id - Epidemiolog Universitas Airlangga Surabaya Windhu Purnomo menilai dengan adanya tren kenaikan kasus COVID-19 di 105 daerah dan sejumlah negara di luar negeri, maka Indonesia perlu kembali lagi melakukan pembatasan dan pengetatan mobilitas masyarakat.

“Larangan bepergian diperlukan lagi. Ditambah pembatasan orang bepergian dengan syarat-syarat yang ketat. Saya setuju sebetulnya kalau sekarang semua transportasi diberlakukan tes PCR. Paling tidak sampai akhir tahun. Karena ujian kita ini. Kalau kita gagal ya sudah pontang-panting lagi seperti kemarin,” kata Windhu saat dihubungi Tirto, Kamis (27/10/2021).

Dengan mulai adanya sejumlah pelonggaran yang dilakukan secara bertahap akhir-akhir ini tak bisa dipungkiri kata Windhu mobilitas masyarakat meningkat, dan akibatnya kasus mulai mengalami tren kenaikan di sejumlah daerah.

“PPKM levelnya mulai turun sehingga ada 100 lebih kabupaten kota yang tren kasusnya meningkat lagi. Jadi memang kita harus hati-hati. Ini akibat mobilitas. Kita mengaktifkan mobilitas lagi, naik lagi,” kata Windhu.

Jika menilik dari data google mobility, sejumlah tempat-tempat publik akhir-akhir ini mengalami kenaikan pengunjung. Mobilitas di tempat umum seperti taman atau tempat rekreasi kata Windhu yang sebelumnya mobilitasnya minus kini sudah meningkat positif 10-20 persen.

Puncak ujian terberat menurutnya datang saat libur Natal dan Tahun Baru, jika tidak diantisipasi dengan baik maka mobilitas tinggi akan kembali meningkatkan kasus.

Selain itu pembukaan pintu masuk untuk wisatawan asing juga perlu diwaspadai. Daftar 19 negara asal pelaku perjalanan yang diperbolehkan masuk ke Indonesia menurut Windhu harus ditinjau ulang apabila negara yang masuk daftar mengalami lonjakan kasus seperti Cina.

Terlebih saat ini sejumlah negara yang mengalami lonjakan kasus sudah terdeteksi sub varian delta yakni AY.4.2 yang di antaranya sudah terdeteksi di negara tetangga Singapura. Sub varian delta ini menurut Windhu lebih berbahaya dari varian lain sehingga benar-benar harus diantisipasi.

“Yang paling penting adalah karantinanya bagaimana. Jangan sampai kita kecolongan lagi seperti kemarin kecolongan varian delta […] Jadi kalau ada negara-negara yang punya temuan varian AY.4.2 itu seharusnya tidak boleh masuk dulu ke Indonesia,” kata Windhu.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo juga telah mengingatkan terkait adanya tren peningkatan kasus di 105 daerah dan sejumlah negara lainnya.

"Ada 105 kabupaten/kota di 30 provinsi yang kasus positifnya naik. Meskipun, sekali lagi, meskipun sedikit tetapi tetap ini harus diwaspadai," kata Jokowi saat memberikan arahan secara virtual ke para kepala daerah se-Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (25/10/2021).


Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari

DarkLight