Trah Soeharto di Kancah Politik

Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto saat jadi peserta program pengampunan pajak (tax amnesty). ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Oleh: Abdul Aziz - 22 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Partai yang didirikan Tommy Soeharto, Partai Berkarya, telah dinyatakan sah sebagai partai politik yang berbadan hukum. Meski keluarga Cendana masih sangat populer, selama ini partai yang didirikan trah Soeharto selalu gagal.
Partai Berkarya yang turut idirikan oleh Tommy Soeharto telah berbadan hukum dan sah sebagai partai politik sesuai SK Menkumham yang ditandatangani Yasonna Laoly, pada 13 Oktober 2016.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang mengatakan pihaknya siap bekerja dan berjuang memenuhi persyaratan verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar bisa mengikuti pemilu mendatang. Ia tentu tidak ingin mengulangi kegagalan Partai Nasional Republik (Nasrep) pada pemilu 2014.

Partai Berkarya sebetulnya bukanlah partai baru. Ia merupakan fusi dari dua partai politik yang pada Pemilu 2014 tidak lolos verifikasi KPU, yaitu Partai Nasrep dan Partai Beringin Karya. Bergabungnya dua partai ini diharapkan bisa mempermudah Partai Berkarya untuk memenuhi persyaratan KPU sebagai peserta pemilu 2019.

“[...K]ami datang ke daerah-daerah untuk memantapkan keberadaan Partai Berkarya supaya bisa lolos verifikasi faktual dan bisa ikut pemilihan umum mendatang,” kata Ketua Umum DPP Partai Berkarya, Neneng A Tutty, seperti dikutip Antara.

Neneng optimistis Partai Berkarya tidak hanya bisa lolos verifikasi faktual KPU, namun juga mendulang suara, terutama dari mereka yang masih merindukan Presiden Soeharto.

Partai Berkarya masih percaya kalau jasa-jasa penguasa rezim Orde Baru masih layak jual. Apalagi Tommy sebagai representasi trah Cendana turut andil dalam pendirian partai yang resmi berdiri pada 15 Juli 2016. Putra bungsu Soeharto ini bahkan didapuk sebagai Ketua Majelis Tinggi sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya.

Namun, apakah Partai Berkarya ini dapat menjadi kendaraan yang memuluskan trah Cendana dalam kancah politik nasional? Tentu itu bukanlah hal mudah. Selain belum tentu lolos verifikasi KPU sebagai kontestan Pemilu 2019, ia juga dibebani oleh fakta sejarah bahwa partai yang digawangi keluarga Cendana selalu gagal sejak runtuhnya rezim Orde Baru.

Contoh terdekat adalah tiga partai yang dibidani keluarga Cendana yang gagal menjadi kontestan pada pemilu 2014 karena tidak lolos verifikasi administrasi KPU. Ketiga partai itu adalah Partai Nasrep yang dibina Tommy Soeharto, Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang didirikan Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut dan Partai Karya Republik (Pakar) yang digawangi Ari Haryo Wibowo Hardjojudanto atau Ari Sigit, cucu Soeharto.

Dari Golkar Hingga Mendirikan Partai

Sejak tumbangnya rezim orde baru pada 1998, perjalanan politik trah Cendana memang tidak mulus-mulus amat. Bahkan karier politik anak-anak Soeharto nyaris tidak terdengar, hingga akhirnya pada tahun 2002, anak sulung Soeharto, Tutut mendirikan PKPB. Saat itu, mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang juga orang dekat keluarga Cendana, R. Hartono didapuk sebagai Ketua Umum DPP.

PKBP ini sengaja disiapkan sebagai kendaraan politik Tutut untuk bertarung dalam Pilpres 2004. Tapi langkah Tutut gagal setelah PKPB hanya menjadi partai buncit dan tak berhasil meraih satu kursi pun di Senayan.

Kegagalan itu rupanya tidak menyurutkan langkah trah Cendana di pentas politik nasional. Ini bisa dilihat dari beberapa manuver politiknya yang ingin kembali merapat ke Partai Golkar. Bahkan pada 2009, Tommy Soeharto maju dalam bursa calon ketum Golkar di Munas Riau, meskipun akhirnya gagal karena tidak memperoleh suara.



Kegagalan Tommy Seoeharto mencoba keberuntungan di Munas Golkar 2009 ini sekaligus menunda kiprah keluarga Cendana di panggung politik nasional. Tiga tahun setelah kegagalan Tommy, Titiek turut masuk partai. Pada 2012, Siti Hediati atau Titiek Soeharto resmi bergabung dengan Partai Golkar dan mengikuti program fungsionaris pusat Partai Golkar.

Keputusan mantan istri Prabowo Subianto ini terbukti tepat. Ia lebih beruntung karena pada Pemilu 2014 terpilih sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta. Posisi Titiek rupanya cukup kuat. Ia bisa menjabat Wakil Ketua Komisi IV di DPR RI, serta pernah menjadi Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar di era Aburizal Bakrie.

Nama Titiek Soeharto bahkan digadang-gadang pada Munaslub Partai Golkar di Bali pada Mei lalu, meskipun pada akhirnya ia tidak maju dan memilih mendukung Ade Komarudin sebagai kandidat ketua umum partai beringin. Walaupun tidak mendukung Setya Novanto yang akhirnya terpilih, namun ia tetap diperhitungkan. Hal ini terbukti ia bisa menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar.

Tommy Soeharto yang secara terang-terangan mendukung Ade Komaruddin juga diangkat sebagai anggota Dewan Pembina Partai Golkar. Namun, belakangan Tommy memilih mendirikan Partai Berkarya. Partai baru ini, jika lolos verifikasi KPU, bisa menjadi kendaraan Tommy pada pemilu 2019 nanti.

Baca juga artikel terkait SOEHARTO atau tulisan menarik lainnya Abdul Aziz
(tirto.id - Politik)

Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight