Tradisi Chhaupadi: Saat Perempuan Haid Dianggap Membawa Sial

Infografik ritual chhaupadi
Praktek tradisi chhaupadi di Nepal. FOTO/Reuters/Navesh Chitrakar.
Oleh: Yantina Debora - 15 Agustus 2017
Dibaca Normal 2 menit
Tradisi Hindu kuno ini sudah mengakibatkan beberapa perempuan meregang nyawa dan mengalami perkosaan.
tirto.id - Kamala Vishwarkarmas baru berusia 14 tahun. Di usianya yang masih sangat muda itu, ia harus melakukan tradisi kuno di kampungnya di Nepal. Setiap bulan, ia harus diasingkan dari rumahnya ketika datang bulan.

Dalam tradisi yang dianut penduduk Nepal, seorang perempuan yang tengah menstruasi atau haid tak boleh menginjakkan kaki ke rumahnya. Jika ketentuan itu dilanggar, mereka yakin petaka akan datang. Setidaknya setiap bulan, Kamala akan mendekam dalam gubuk, gudang, atau kandang hewan selama tujuh hari hingga periode menstruasinya selesai.

“Tentu saja aku merasa sangat takut sendirian. Sangat menyeramkan saat hujan ketika semua ular datang,” kata Kamala.

Tradisi pengasingan perempuan saat menstruasi itu oleh penduduk Hindu di Nepal disebut Chhaupadi. Tradisi ini sudah dipraktikkan selama berabad-abad di Nepal. Tak hanya dialami perempuan yang menstruasi, tradisi kuno ini juga berlaku bagi perempuan yang baru melahirkan. Rentang waktu pengasingan setelah melahirkan lebih lama, yakni selama 11 hari. Tradisi ini juga masih dilakukan di beberapa wilayah di India dan Bangladesh.

Selain diasingkan, para perempuan ini juga tidak boleh menyentuh suami dan saudara laki-lakinya. Jika laki-laki secara tak sengaja menyentuh perempuan menstruasi, laki-laki tersebut harus segera disucikan dengan air kencing sapi yang dianggap suci oleh penduduk setempat.


Baca juga: Perempuan Gunakan Hak Cuti Haidmu


Selama periode menstruasi, perempuan juga dilarang memasuki kuil dan dilarang mengikuti upacara pernikahan. Yang lebih tragis, mereka tak diperbolehkan mengkonsumsi makanan bergizi seperti daging, buah segar, sayuran hijau, hingga susu. Mereka hanya bertahan dengan nasi, garam, dan beberapa makanan kering.

Pantangan-pantangan di atas tak boleh dilanggar. Jika dilanggar, lagi-lagi warga yakin malapetaka akan terjadi. Misal: jika perempuan menstruasi menyentuh ternak, maka ternak itu akan mati. Jika menyeberangi sumber mata air, maka mata air itu bisa kering atau pohon buah yang tak akan menghasilkan buah lagi.

Dampak Tradisi Chhaupadi

Tentu saja tradisi ini membuat perempuan menderita. Pada umumnya, menstruasi pada sebagian perempuan diiringi rasa nyeri (dismenore). Dengan rasa nyeri haid itu, perempuan kerap harus menghadapi gubuk atau kandang yang dipenuhi kotoran hewan, suhu dingin, tanpa alas kasur, kotor, gubuk yang gelap, dan minim ventilasi.

Kondisi-kondisi di atas juga menyebabkan petaka bagi perempuan-perempuan Nepal. Seseorang yang tinggal di dalam gubuk dapat mengalami kekurangan oksigen karena gubuk biasanya tak dilengkapi ventilasi. Salah satu yang meninggal karena kekurangan oksigen adalah Roshani Tiruwa yang berasal dari Achham, Nepal pada akhir 2016.

Roshani dipastikan meninggal setelah ia menyalakan api untuk menghangatkan tubuhnya di dalam gudang tempat ia diasingkan. “Kurangnya udara mungkin telah merenggut nyawanya. Ia menyalakan api di dalamnya,” kata Badri Prasad Dhakal, inspektir di distrik setempat.

Perempuan-perempuan yang diasingkan juga rentan terhadap serangan binatang liar. Bulan lalu, Tulasi Shahi yang berusia 19 tahun dari Nepal barat meninggal karena digigit ular saat berada di dalam gubuk tempat ia tinggal selama menstruasi.

Baca juga: Apakah Menstruasi Masih Dianggap Tabu?

Tulisan Shanti Kadariya dan Arja R Aro yang berjudul "Chhaupadi Preactice in Nepal – Analysis of Ethical Aspects" juga mengungkapkan beberapa risiko kesehatan perempuan terkait tradisi chhaupadi. Misalnya saat para perempuan yang sedang menstruasi itu dipaksa bertahan di suhu yang dingin saat musim dingin dan suhu panas saat musim panas tiba.

Kondisi itu menyebabkan para perempuan rentan terhadap beberapa jenis penyakit seperti pneumonia, diare, hingga infeksi saluran pernafasan. Mereka juga rentan mengalami prolaps uteri yakni menurunnya rahim akibat ligamen-ligamen yang tak mampu menopang rahim. Hal itu disebabkan oleh para perempuan yang harus tetap bekerja keras saat menstruasi, tapi tak diimbangi dengan asupan gizi pada periode menstruasi.

Kesehatan mental dari perempuan di Nepal juga terganggu karena isolasi dan pengucilan yang dilakukan terhadap setiap anak perempuan menyebabkan depresi. Tak jarang, anak-anak perempuan yang sedang menstruasi dilarang bersekolah, sehingga ada gap pendidikan antara laki-laki dan perempuan Nepal.

Mereka juga rentan terhadap pelecehan seksual. Namun, kasus pemerkosaan karena chhaupadi jarang diberitakan. Seperti halnya kematian akibat binatang liar.



Tradisi yang Mengakar

Tradisi yang mendiskriminasi perempuan ini sudah mendapat perhatian dari pemerintah setempat sejak tahun 2005. Mahkamah Agung Nepal melarang penerapan sistem chhaupadi dan mengeluarkan pedoman seperti penghapusan praktik chhaupadi yang sudah ada sejak lama itu. Namun, karena hanya berupa pedoman, keputusan ini pun tak efektif meminimalisasi praktik chhaupadi.

Pada 2010, sebuah survei yang dikutip oleh The Kathmandu Post mengungkapkan sekitar 19 persen perempuan Nepal yang berusia 15-49 masih mengalami pengucilan saat menstruasi. Di wilayah pegunungan Barat Daya, persentasenya mencapai 52 persen dan di perbukitan di wilayah Barat Jauh sebanyak 50 persen.

Beberapa hari lalu, pemerintah Nepal mengambil langkah besar dengan mengeluarkan undang-undang untuk mengkriminalisasi praktik Hindu kuno itu. Anggota Komisi Hak Asasi Manusia Nepal, Mohna Ansari mengungkapkan bahwa itu merupakan “prestasi besar.”

Akan tetapi, tradisi yang sudah lama ini sulit dihapuskan karena para selain regulasi yang masih sangat minim, penduduk setempat juga lebih takut dengan kemarahan para dewa dewi jika melanggar tradisi. Kepercayaan yang sudah mengakar akan sulit untuk diubah, kata aktivis HAM Pema Lhaki.


Baca juga: Revolusi Pembalut dari Si Pria Menstruasi


Tradisi yang sudah mengakar itu biasanya akan dipegang erat oleh mereka yang sudah tua, sedangkan kaum muda perlahan-lahan mulai meninggalkannya. NGO dan para aktivis juga merasa kewalahan menghadapi orang-orang tua yang memiliki pandangan yang kuat soal tradisi.

“Jadi kita memfokuskan program kita kepada kaum muda karena mereka adalah pembuat perubahan dan tetua masa depan,” kata Sandhya Claulagain dari WaterAid Nepal.

Baca juga artikel terkait MENSTRUASI atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight